Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Membayangkan Proses Brainstorming ‘Kisah Nyata’ Indosiar Episode Tiktok

Kevin Winanda Eka Putra oleh Kevin Winanda Eka Putra
29 Januari 2021
A A
Membayangkan Proses Brainstorming 'Kisah Nyata' Indosiar Episode Tiktok terminal mojok.co

Membayangkan Proses Brainstorming 'Kisah Nyata' Indosiar Episode Tiktok terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Hari saya begitu ceria karena melihat postingan ramai di media sosial mengenai FTV Kisah Nyata Indosiar. Potongan FTV itu diramaikan sebab dari segi penceritaan dibilang sangat absurd atau apalah itu saya kurang paham. Saya kali ini tidak mau membahas isi FTV-nya, tapi saya sedikit berpikiran liar. Kira-kira proses menjadikan FTV itu seperti apa ya?

Alkisah ada sebuah meeting yang terjadi di kantor. Terlihat ada tiga orang sedang sibuk merapatkan sesuatu. Tiga orang itu antara lain sutradara, penulis skenario, dan asisten Produser. Sutradara sedang akan menjelaskan produk FTV yang nanti akan dibuat, tentu kalau lolos pitching di hadapan produser hari itu.

“Emm, selamat pagi, Pak. Ini Pak Produser dimana ya kok belum dateng-dateng?” Sutradara memulai pembicaraan.

Asisten produser yang lagi asyik-asyiknya main hape terkaget ketika mendengar suara si sutradara. “Eh iya ini saya baru dikabari kalau Pak Produser lagi ada keperluan mendadak jadi nggak bisa dateng ke sini, dipasrahkan ke saya. Dah mulai aja silakan.”

Sutradara melirik si penulis skenario untuk memberi tanda mulai presentasi.

“Jadi begini, Pak, kami sudah selesai membuat Kisah Nyata, FTV yang akan tayang di tivi Bapak, Indosiar. Kisah ini berfokus kepada istri yang lalai terhadap suami. Kan dari dulu suami mulu nih, Pak, yang nyeleweng, nah dari kami menyarankan untuk diganti sudut pandangnya ke si istri.” Sutradara mulai memaparkan.

“Ah iya boleh-boleh bisa jadi penyegaran kisah nantinya.” Asisten produser menanggapi. Penulis skenario agak tersenyum.

“Baik, kami juga sudah melakukan riset mengenai kisah-kisah nyata yang pernah terjadi yang diakibatkan oleh si istri yang menyeleweng. Dari cerita kami ini premisnya adalah si istri yang menelantarkan suami dan anaknya karena sibuk bergaul dengan teman-temannya, istilahnya sosialita begitu….”

Baca Juga:

Preman Pensiun 9 Sebaik-baiknya Sinetron Ramadan, Bikin Saya Nonton TV Lagi 

Culture Shock Orang Jawa yang Merantau di Tanah Sunda, Banyak Orang Ngomong Pakai Dialog ala FTV

“Pffft… ee terus-terus.” Asisten Produser menaruh hapenya yang sedari tadi dibawa dan mulai konsentrasi dengan pemaparan sutradara. Penulis skenario makin melebarkan senyumannya.

“Oke, untuk konflik yang ditonjolkan dari FTV ini adalah perdebatan suami karena istrinya jarang pulang. Sebab…”

Tiba-tiba asisten produser menyela, “Eee jangan yang itu udah sering dipake di tivi lain. Yang lain coba.”

“Oke, kami sudah menyiapkan alternatif lain untuk Kisah Nyata Indosiar, dari konfliknya yaitu mengacuhkan anak yang ingin bermain bersama ibunya….”

“Nggak bisa ini nanti bisa kena tegur Komisi Perlindungan Anak.” Asisten produser menyela lagi.

“Oke, Pak, kami juga menyiapkan alternatif tambahan yaitu konflik dengan tetangga…”

Lagi-lagi disela asisten produser, “Anak saya nggak suka konflik dengan tetangga.”

“Tenang pak kami juga sudah menyiapkan alternatif tambahan lagi yaitu istrinya yang ketahuan selingkuh akibat terlalu banyak bergaul dengan teman sosialitanya…”

“Saya kurang suka yang dengan selingkuh-selingkuh gitu. Saya nggak cocok nih sama semua cerita kalian. Gini kamu kan milenial ya, kids zaman now, kamu ngerti lah konflik-konflik bagus itu kek gimana, kek hollywood atau korea-korea gitu. Cobalah kamu bikin yang baru.”

“Loh pak bukannya ini terinspirasi dari kisah nyata lalu bisa tayang di Indosiar?” Si sutradara bingung, penulis skenario apalagi. Ia hanya bergumam, “Duh menyimpang dari konteks acara Kisah Nyata Indosiar dong ini.”

“Bisalah bisa, dari milenial untuk milenial. Lagian siapa yang mau runut cerita ini beneran apa nggak. Percayalah kita sama kamu, kreatif. Lanjut-lanjut.” Asisten produser mencoba menenangkan.

“Oke, Pak, untuk klimaksnya ini menceritakan si tokoh sedang di rumah sakit ya, Pak. Jadi si istri diceritakan koma lalu karena doa support dari suami dan anak akhirnya si istri sadar…”

“Nggak bisa, kalau kalian pengin buat plot di rumah sakit sekarang lagi penuh. Banyak orang kena wabah. Nggak bisa kalau kita maksa sewa. Bikin aja sendiri di mana gitu atau perlu buat CGI gitu aja. Ini by the way kita buat FTV Kisah Nyata Indosiar ini buat dapet penghargaan ya, diikutkan kompetisi Oscar ini, jadi serius ini.” sela asisten produser.

“Baik, Pak, untuk yang terakhir mengenai timeline produksi setelah kita hitung-hitung memakan waktu kurang lebih…”

“Sebulan-sebulan.” Penulis skenario membisikkan ke sutradara.

“…sebulan, Pak, untuk jadiin film ini”

“Eh, nggak bisa minggu depan nih?” Asisten produser menimpali.

“Maaf. Gimana, Pak..?” Sutradara tampak kaget.

“Iya seminggu buat dikasih ke tivi, soalnya sutradara-sutradara lain pada mengundurkan diri. Sebab cerita-ceritanya absurd menurut Pak Produser, tidak ada pesan moralnya, terlalu mainstream. Jadi kita butuh ngebut untuk mengisi acara ini biar tetep jalan.”

Suara dering telepon berbunyi, berasal dari hape asisten produser. Dia mengangkatnya pelan “Halo, oh iyaaa, Pak, oke oke. Hmm begitu, jadi harus ada TikToknya, Pak. Oke oke, Pak ini saya lagi sama sutradaranya, nanti saya sampaikan ke dia. Terima kasih, Pak, selamat siang.”

Asisten produser memandang sutradara dan berbicara, “Emmm nggak usah banyak babibu lagi lah yaaa, kalian pasti udah tahu kalau yang menang pitching ini kalian.” Terlihat ekspresi bahagia dari si sutradara dan penulis skenario.

Asisten produser menambahkan, “Tapi gini, ini dari Pak Produser tadi bilang kalau Kisah Nyata Indosiar kali ini kalian harus tonjolkan aplikasi TikTok. Kata beliau ini aplikasi lagi happening banget jadi biar menarik penonton milenial, kalian fokusin di TikTok ini. Soalnya dulu pernah make yang K-Pop itu kurang menarik, ya walaupun sempat diributin banyak orang juga.”

“Gabungin aja sama cerita awal kalian tadi, tapi inget catatan-catatan dari saya sebelumnya ya jangan sampai lupa.”

“Ya gimana, Pak, maaf niiih…” Sutradara sedikit menyela.

“Seminggu jadi bisa kan? Bisalah, yok bisa yok, milenial kok. Orang kreatif kek kamu pasti bisa lah. Kita bebasin kok, tapi itu ya notes saya dan Pak Produser jangan sampai lupa. Dah ya. Selamat.”

“Oke, Pak, terima kasih.” Sutradara dan penulis skenario berdiri. Bersalaman dengan asisten produser dan mengela napas panjang. Seminggu kemudian FTV-nya jadi seperti yang saya tonton pagi ini.

BACA JUGA Tanggapan Saya sebagai Penulis Skenario FTV Kisah Nyata Indosiar Atas Protes K-Popers dan tulisan Kevin Winanda Eka Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2021 oleh

Tags: FTVSinetron
Kevin Winanda Eka Putra

Kevin Winanda Eka Putra

Bukan siapa-siapa dan tidak ingin jadi siapa-siapa.

ArtikelTerkait

nussa dan rara, Alasan Serial Animasi Nussa Nggak Cocok untuk Tayangan Anak-anak di Televisi Wajah Baru Pemberi Warna Baru di Sinetron Preman Pensiun 4 Preman Pensiun 4: Sinetron Penuh Edukasi untuk Insan Pertelevisian Indonesia Rekomendasi Sinetron untuk Hibur Anies Baswedan Atas Ditundanya Formula E

Preman Pensiun 4: Sinetron Penuh Edukasi untuk Insan Pertelevisian Indonesia

20 Mei 2020
Belajar dari Kang Bahar di Preman Pensiun: Preman yang Juga Punya Sisi Humanis Kenapa Sih Orang Suka Berkomentar dan Terbawa Suasana Pas Nonton Sinetron?

Kenapa Sih Orang Suka Berkomentar dan Terbawa Suasana Pas Nonton Sinetron?

4 November 2019
Menerka Alasan Alur Cerita Sinetron di Indonesia Banyak yang Absurd terminal mojok.co

Menerka Alasan Alur Cerita Sinetron di Indonesia Banyak yang Absurd

24 April 2020
5 Alasan Penonton Sinetron Adalah Kelompok Marjinal yang Perlu Dibantu terminal mojok.co

Penonton Sinetron, Sebenar-benarnya Kelompok Marjinal

30 November 2020

Sumbang Saran untuk Jalan Cerita Sinetron Indonesia Ketika Ganti Pemain

10 Juni 2021
Sinetron Indonesia Semakin Membosankan dan Nggak Menghibur (Unsplash)

5 Alasan yang Membuat Sinetron Indonesia Semakin Membosankan. Produser dan Sutradara Perlu Lebih Kreatif!

30 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

31 Januari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.