Belakangan santer terdengar kabar upaya reaktivasi Jalur KA Kalisat Jember Bondowoso. Saya senang bukan kepalang. Apalagi, kawan saya yang seorang peneliti bangunan cagar budaya KAI memastikan adanya upaya itu. Menurut dia, selama sepekan terakhir petugas dari Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya sudah melakukan Survei Identifikasi Desain (SID) di jalur tersebut.
Katanya, langkah itu dilakukan guna memetakan kondisi jalur yang akan diaktifkan dan melihat hambatan apa saja yang ada di lintasan itu. Sebab, di beberapa bagian jalur sudah berubah menjadi pemukiman warga. Maklum saja, Jalur KA Kalisat Jember ke Bondowoso sudah tidak digunakan sejak 2024. Melalui pemetaan tersebut, petugas dapat melihat bagaimana kondisi jalur terkini. Mulai dari bangunan stasiun, trase rel, jembatan, hingga lahan di sekitarnya.
Langkah itu jadi jawaban nyata setelah sekian lama kabar reaktivasi jalur Kalisat-Bondowoso hanya sekedar wacana. Nantinya setelah jalur itu sudah aktif kembali tentu saja akan banyak potensi yang bisa berdampak bagi masyarakat di wilayah Tapal Kuda. Tidak hanya sebagai alternatif pilihan moda transportasi. Jalur ini juga akan membuka ceruk ekonomi baru bagi warga.
Jalur KA Kalisat Jember-Bondowoso berperan besar di era kolonial
Jika menengok sejarahnya, Jalur KA Kalisat Jember-Bondowoso menjadi jalur penting di zaman kolonial Belanda. Jalur ini berjasa mengangkut hasil rempah dari Bondowoso ke Jember untuk nantinya dibawa ke Surabaya. Jalur yang dibangun oleh Staatsspoorwegen pada 1897 itu membentang di atas tantangan topografi alam pegunungan di wilayah Jember dan Bondowoso. Dan, akhirnya, jalur dilanjutkan hingga tembus ke Panarukan, Situbondo.
Tentu saja perpanjang jalur itu bukan tanpa alasan. Banyaknya pabrik gula di Situbondo di era kolonial menjadi alasan jaringan kereta api butuh perpanjangan. Sehingga saat jalur ini sudah tersambung dengan Situbondo, tidak hanya hasil perkebunan saja, tapi industri gula di zaman Belanda juga ikut merasakan manfaatnya.
Menggerakkan ekonomi sekitar
Tidak hanya di masa kolonial. Menurut saya, Jalur KA Kalisat Jember-Bondowoso juga bisa berpengaruh secara ekonomi apabila diaktifkan kembali di masa sekarang. Sebab, mobilitas masyarakat sekitar pun akan sangat terbantu.
Saya merasakan betul bagaimana sulitnya mencari alternatif transportasi umum di wilayah tapal kuda bagian utara. Paling-paling hanya bus saja, itu pun tarifnya bikin ngelus dada. Asal tahu saja, bus di wilayah Tapal Kuda biasanya menerapkan getok tarif yang membuat penumpang enggan kembali.
Langkah itu juga menjadi cara agar aset milik PT KAI bisa kembali termanfaatkan dan bisa dilakukan pemeliharaan. Sebab sejauh pengamatan saya ketika mengunjungi Stasiun Panarukan kondisinya sangat memprihatinkan, meski bangunan utamanya masih kokoh berdiri. Namun di sana sini kondisinya sudah mengkhawatirkan. Padahal jika dilihat potensi untuk menjadi bangunan cagar budaya sangat besar karena arsitektur khas Indische Empire Style sangar kental.
Itu mengapa, wacana reaktivasi Jalur Kereta Kalisat-Bondowoso bak menjawab harapan warga Tapal Kuda akan keberadaan fasilitas transportasi yang lebih beragam. Memang semua itu belum ada kepastian, tapi namanya berharap boleh saja kan? Syukur-syukur reaktivasi jalur KA tersebut bisa diteruskan hingga Panarukan Situbondo. Saya yakin akan semakin banyak orang sekitar daerah Tapal Kuda yang akan terbantu.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Ambarawa Ekspres, Kereta Api yang Menyesatkan Calon Penumpang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
