Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Membandingkan Bahasa Terminal dan Pelabuhan, Mana yang Lebih Ngegas?

Jevi Adhi Nugraha oleh Jevi Adhi Nugraha
21 Juni 2023
A A
Membandingkan Bahasa Terminal dan Pelabuhan, Mana yang Lebih Ngegas?

Membandingkan Bahasa Terminal dan Pelabuhan, Mana yang Lebih Ngegas? (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bahasa terminal dan pelabuhan terkenal ngegas, kasar, dan penuh ekspresi. Tapi, mana yang lebih ngena?

Saya nyaris dipukuli guru mapel kesenian saat masih duduk di bangku kelas 3 SMP lantaran ngatain beliau kayak preman terminal karena sering misuh atau ngomong kasar. Niat saya sih cuma bercanda karena sudah “merasa” akrab sama Pak Guru. Tapi entah, setelah kata-kata itu keluar dari mulut ini, guru berkumis tebal itu mendadak narik seragam saya dan ngajak baku hantam. Lha, terima mundur halus.

Tampang guru itu memang garang dan nggak jarang ngomong kasar. Tapi, justru ini yang malah bikin siswa-siswi merasa dekat sama beliau karena lucu. Saya nggak nyangka Pak Guru bakalan murka. Seingat saya, peristiwa tragis itu terjadi memang pas tanggal tua sih, mungkin ini alasan beliau lebih sensitif dari hari biasanya. Rung gajian mah dikatain preman terminal sama bocah ingusan, lha ya murka!

Jujur, waktu itu saya cuma ikut-ikutan saja ngatain Pak Guru kayak preman terminal, yang khas sama bahasa kasarnya. Saya belum tahu persis kenapa kalau ada orang yang sering ngomong kotor full binatang dan selangkangan selalu identik sama bahasa terminal. Setiap ada orang berkata kasar dianggap kayak preman terminal.

Tumbuh dewasa bikin saya paham kenapa orang tersinggung saat dikatain kayak preman terminal, apalagi seorang guru yang seharusnya dihormati. Ya, banyak sekali kejadian di terminal yang saya alami dan makin menyadarkan kalau rata-rata penghuninya memang punya bahasa yang kasar. Selain di terminal, orang-orang di pelabuhan juga punya bahasa yang sama, kasar dan kadang barbar. Nggak perlu saya kasih contohnya, buka saja di Twitter, banyak banget netizen yang curhat perihal bahasa kasar orang-orang di kedua tempat umum itu.

Terminal dan pelabuhan identik dengan bahasa kasar

Iya, saya paham nggak semua penghuni terminal dan pelabuhan suka ngomong kasar. Pasti ada orang berbudi pekerti luhur, kalau ngomong selalu halus, dan menerapkan unggah-ungguh. Tapi, kalau lihat fakta di lapangan, rata-rata orang-orang di terminal dan pelabuhan memang ngomongnya keras.

Salah satu alasan kenapa banyak sopir, kernet, dan penghuni terminal lainnya kalau ngomong kasar, ya, karena faktor situasi, kondisi, dan kebiasaan sehari-hari. Bayangkan saja gimana kampretnya merasakan macet di jalan, dihantam panas terik matahari, banyak orang berseliweran, dan pressure target kerjaan, tentu bikin situasi di terminal jadi “memanas”.

Belum lagi kalau ada sesama kernet rebutan penumpang di terminal, situasi jelas makin panas dan intonasi bicara juga cenderung cadas.

Baca Juga:

Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto”

8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

Pekerjaan mereka juga di lapangan terbuka. Artinya, banyak sekali kerumunanan orang dengan beragam latar belakang, mulai dari calo tiket sampai tukang copet, hadir di tempat umum ini. Kondisi kayak gini yang saya rasa bikin penghuni terminal tampak riweh dan memanggil orang pakai nada tinggi. Secara nggak langsung, bukankah hal semacam ini bikin urat-urat keluar dan aliran darah lebih mendidih sehingga berpotensi melontarkan kata-kata kasar?

Situasi di terminal nggak jauh beda sama di pelabuhan. Para pekerja pelabuhan nggak sedikit diisi orang-orang yang dulu pernah sekolah pelayaran. Jadi, nggak heran kalau di pelabuhan kita sering menjumpai orang dengan tubuh kekar dan sangar.

Selain itu, banyak juga tenaga pelabuhan yang punya latar belakang pekerjaan kasar, kayak profesi bongkar-muat, bangunan, dan lainnya. Kita tahu, kondisi di pelabuhan sumpek dan panasnya bukan main. Deru mesin kendaraan dan ombak kadang bercampur jadi satu, tentu kalau ngomong orang di pelabuhan harus keras.

Saya menduga, suasana panas dan ruwet di pelabuhan itulah yang bikin orang-orang di sana kadang nggak sabaran dan omongannya pedas. Terlebih kalau sudah lelah tapi masih dipaksain, tentu darah makin mendidih. Barangkali ini yang bikin terminal dan pelabuhan sampai sekarang identik dan khas dengan bahasa kasar.

Mana yang lebih kasar, bahasa terminal atau bahasa pelabuhan?

Sulit sebenarnya mencari mana bahasa yang lebih kasar antara terminal dengan pelabuhan. Pasalnya, keduanya seperti punya bahasa dengan nuansa yang sama. Baik bahasa terminal maupun bahasa pelabuhan, mirip-mirip dalam intonasinya.

Tapi, berdasarkan pengamatan dan pengalaman saat singgah di kedua tempat umum tersebut, saya rasa bahasa terminal lebih kasar dari pelabuhan deh, ya. Bahasa terminal cenderung lebih ceplas-ceplos, bebas, lepas saat berinteraksi sama orang. Bahkan, nada bicaranya pun sudah sangat khas: keras dan tanpa tedeng aling-aling. Saya sendiri kadang ketawa kalau dengar gaya bicara sopir bus saat berpapasan sama kawannya di jalan, kasarnya tuh ikonik dan autentik gitu.

Mungkin ini nggak lepas dari pengalaman orang-orang terminal, kayak sopir dan kernet, yang sudah malang melintang di berbagai medan sehingga bisa “mengoleksi” kata-kata kasar dari banyak daerah. Selain itu, sesama penghuni terminal mereka juga tampak lebih akrab dan solid dibanding suasana di pelabuhan. Jadi, bahasa kasar lebih mengakar kuat di terminal, baik pisuhan maupun ejekan.

Kondisi pelabuhan yang agak berbeda

Sedangkan di pelabuhan, meski punya bahasa kasar, tapi cenderung lebih tertata dan ada temponya. Biasanya, orang pelabuhan ngomong kasar saat hari-hari tertentu saja, saat penumpang membludak, kerjaan numpuk, atau cuaca lagi nggak bersahabat.

Kalau di terminal, nyaris setiap hari kita akan menjumpai orang-orang ngomong pakai bahasa kasar. Karena bahasa kasar ini nggak cuma dipakai saat mau berantem saja, tapi juga pas ngobrol. Jadi, kesan bahasa kasar benar-benar menempel kuat di terminal. Toh, sampai sekarang, kalau ada orang yang ngomong kasar selalu dikaitkan sama bahasa terminal bukan pelabuhan. Bukankah ini jadi bukti valid kalau bahasa terminal memang lebih kasar dan autentik dibanding bahasa pelabuhan?

Yah, apa pun itu, bahasa kasar nggak bisa dikaitkan sama tindakan kriminal, beda jauh! Terlebih kalau ngomong kasar sama teman sendiri dengan konteks becandaan, lha ya malah wajib. Yang penting tidak korupsi aja, Lur!

Penulis: Jevi Adhi Nugraha
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bahasa Surabaya yang Perlu Diketahui biar Ngobrolmu Makin Ngegas

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Juni 2023 oleh

Tags: BahasapelabuhanTerminal
Jevi Adhi Nugraha

Jevi Adhi Nugraha

Lulusan S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berdomisili di Gunungkidul.

ArtikelTerkait

bahasa slang g

Nostalgia Bahasa Slang Iginigi

7 Juli 2019
Logat Batang: Sebuah Ngapak yang Berbeda

Logat Batang: Sebuah Ngapak yang Berbeda

6 Januari 2023
terminal mojok

Terminal Mojok: Penulis sebagai Bis, Tulisan sebagai Penumpang, dan Pembaca sebagai Bis Mania

7 Juni 2019
Kalau Istilah 'Kampungan' Artinya Udik, Kenapa Nggak Ada Istilah 'Kotaan' yang Artinya Tamak? terminal mojok.co

Kalau Istilah ‘Kampungan’ Artinya Udik, Kenapa Nggak Ada Istilah ‘Kotaan’ yang Artinya Tamak?

16 Februari 2021
Terminal Bahurekso Kendal, Hidup Segan Mati Tak Mau

Terminal Bahurekso Kendal, Hidup Segan Mati Tak Mau

5 Mei 2023
Terminal Dhaksinarga Wonosari Gunungkidul: Terminal Rasa Mal dan Restoran

Terminal Dhaksinarga Wonosari Gunungkidul: Terminal Rasa “Mal” dan Restoran

7 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.