Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Anime

Melihat Realitas Kesenjangan Sosial dari Sosok Sopo dan Jarwo

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
25 Mei 2021
A A
Belajar Kesenjangan Sosial dari Sosok Sopo dan Jarwo dalam Animasi 'Adit Sopo Jarwo' terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Di siang hari yang panas, sebuah motor jadul berlalu melewati jalanan sempit di perkampungan yang berdebu. Dua orang nampak berada di atas motor itu. Yang di depan adalah seorang pria berkacamata dengan kemeja dan rambut klimis serta kumis tipis. Lalu yang di belakang adalah seorang pria berbadan besar dengan rompi dari jaket jeans buntung. Merekalah Bang Jarwo dan anak buahnya yang setia, Bang Sopo, dari serial animasi kesayangan anak-anak Adit Sopo Jarwo.

Mereka adalah sosok yang digambarkan kontradiksi dari kemapanan dan keteraturan. Mereka berbeda dari Adit dan Denis yang merupakan anak komplek menengah atas. Mereka juga nggak seperti Dik Lime anak Babah Cang yang kuliahan. Bahkan, bapaknya si Ucup yang hansip terlihat lebih mendingan dibandingkan mereka. Mereka bekerja serabutan, meski sering bantu-bantu di toko Babah Cang. Sosok mereka sangat dekat dengan kehidupan di sekitar kita.

Lewat Bang Jarwo dan Bang Sopo, kita bisa melihat realitas kehidupan kita. Meski Adit serupa tokoh utama, perhatian saya justru terpatri pada Sopo dan Jarwo. Mereka adalah contoh manusia yang banyak sekali saya temui di lingkungan tempat tinggal saya. Hidup di perkampungan pinggiran kota, pendidikan nggak sampai sembilan tahun, nggak punya pekerjaan tetap, dan pada akhirnya dicap dan dianggap sampah masyarakat. Untuk kemudian berprofesi menjadi semacam preman wilayah situ. Setidaknya itu pandangan dari banyak orang ke mereka. Memang mereka kerap bikin masalah, apalagi saat ngambil job ganda. Sudah punya kerjaan, eh, ngambil proyekan lain. Biasanya mereka jadi bulan-bulanan warga karena tingkah lakunya yang kerap merugikan orang lain. Tapi, kehidupan mereka adalah efek dari banyak faktor.

Pengangguran muncul dari kesempatan yang memang kecil, pun pendidikan yang kurang memadai. Sehingga perekonomian jeblok, lalu sosok para preman muncul, mencari uang lewat cara tak biasa dan unik. Setidaknya Sopo dan Jarwo tak sampai masuk lembah hitam, paling pol cuma punya banyak utang karena kecerobohan sendiri. Bisa kita lihat lingkungan tempat tinggal mereka, terkesan sempit dan seringkali dianggap kumuh. Hal yang banyak kita temui di mana-mana. Bahkan di wilayah yang ngaku istimewa. Lingkungan yang sungguh berbeda dari lingkungan Adit dan Denis. Kesenjangan sosial terasa betul di sana.

Lewat Sopo dan Jarwo, kita bisa melihat realitas kehidupan yang sebenarnya. Privilese memang ada, meski saya percaya tiap orang bisa merubah nasibnya agar lebih baik. Tapi, lingkungan, pendidikan, keluarga, semua tetap saling mempengaruhi, semua bertautan, kita tak bisa menyangkalnya. Sopo dan Jarwo tetap bergerak meski tanpa privilese. Mereka adalah sosok yang nyebelin, namun sekaligus bikin iba. Mereka terjebak dalam pusaran kemiskinan struktural, mereka juga nggak mungkin menginginkan hal itu. Mereka nggak malas, meski kadang terlalu rakus mencari proyek dan nggak mengukur kemampuan diri.

Mereka seperti orang di sekitar saya, terus bergerak tanpa ampun. Sayangnya, mereka banyak disalahartikan dan diberi banyak stigma buruk. Mulai dari malas, kurang berusaha, nggak niat, kurang ibadah, sampai dianggap jika orang kaya lebih mudah berbuat baik, sehingga orang miskin terlalu sibuk membenci dunia. Yah, mengakui diri punya privilese saja susah, masa mau menghargai orang lain? Tiap disinggung soal privilese, mencak-mencak nggak karuan. Padahal, kita harus mengakui jika memang ada yang namanya kesenjangan sosial, dan privilese ikut ambil bagian di situ.

Sopo dan Jarwo adalah gambaran masyarakat kita yang selalu menggunakan falsafah hidup, “Dipikir karo mlaku” serta “Ojo spaneng”. Mereka hanya percaya untuk tetap bergerak dan bekerja. Soal UMR, mereka nggak peduli, wong memang nggak kerja formal. Bahkan, di negara kita yang bergaji di bawah UMR saja pada berani hidup dengan rileks penuh cicilan dan tetap nrimo ing pandum. Mental kita nggak kaleng-kaleng, Sopo dan Jarwo adalah buktinya, tetap harus bergerak meski kesenjangan sosial nyata adanya. Pokoknya kejar Dik Lime sampai dapat, semangat!

Sumber Gambar: YouTube Hiburan Keluarga Terbaru

Baca Juga:

5 Kekacauan yang Mungkin Terjadi Kalau Dennis Masuk Upin Ipin Universe dan Jadi Warga Kampung Durian Runtuh

Dennis Nggak Ada Apa-apanya ketimbang Nobita, Tokoh Paling Beban dan Nggak Tahu Diri!

BACA JUGA Alasan Serial Animasi Nussa Nggak Cocok untuk Tayangan Anak-anak di Televisi dan tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 November 2021 oleh

Tags: adit sopo jarwoanimasianimasi terbaikAnime Terminal
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

Tuan Krabs, Tokoh Kartun Cerminan Pemilik Media yang Realistis terminal mojok.co

SpongeBob Mogok Kerja di Episode ‘Squid on Strike’ Adalah Gambaran Demo yang Kompleks

13 Oktober 2020

Pesan Cinta untuk para Wibu yang Sering Mengandaikan Jepang Menang PD-II

7 Juni 2021
5 Kekacauan yang Mungkin Terjadi Kalau Dennis Masuk Upin Ipin Universe dan Jadi Warga Kampung Durian Runtuh kuliah di malang

5 Kekacauan yang Mungkin Terjadi Kalau Dennis Masuk Upin Ipin Universe dan Jadi Warga Kampung Durian Runtuh

26 April 2025
hokage konoha kapasitas chakra naruto baryon mode hokage naruto boruto mojok

Praktik Pemilihan Hokage Konoha Itu Bukan Nepotisme, tapi Sebatas Memilih Siapa yang Paling Kuat

1 Juli 2021
Tokyo Revengers_ Lebih Kompleks dari Crows, Lebih Bercita Rasa dari Naruto terminal mojok

Tokyo Revengers Itu Jauh Lebih Kompleks dari Crows, Lebih Bercita Rasa dari Naruto

25 Mei 2021
Jumbo, Sebaik-baiknya Film Animasi Anak Indonesia yang Pernah Saya Tonton

Jumbo, Sebaik-baiknya Film Animasi Anak Indonesia yang Pernah Saya Tonton

5 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

15 Mei 2026
Kos Murah yang Diidamkan Berujung Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang Mojok.co

Rasa Syukur Tinggal di Kos Murah Berubah Jadi Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang

20 Mei 2026
GOR Jatidiri Semarang Memang Tempat Olahraga, tapi Nggak Cocok buat Jogging Pemula (Pixabay)

GOR Jatidiri Semarang Memang Tempat Olahraga, tapi Nggak Cocok buat Jogging Pemula

21 Mei 2026
8 Tipe Pengguna Toilet Mal Paling Red Flag di Mata Cleaning Service, Semoga Kalian Bukan Salah Satunya Mojok.co

8 Tipe Pengguna Toilet Mal Paling Red Flag di Mata Cleaning Service, Semoga Kalian Bukan Salah Satunya

19 Mei 2026
Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

21 Mei 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Alasan Wonogiri Masih dan Akan Selalu Jadi Ibu Kota Bakso Indonesia, Malang Minggir Dulu!

20 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.