Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Anime

Kehidupan SD di Jepang Versi Nobita Itu Bukan Mitos, 6 Hal Ini Buktinya

Primasari N Dewi oleh Primasari N Dewi
8 Juli 2021
A A
Kehidupan SD di Jepang Versi Nobita Itu Bukan Mitos, 6 Hal Ini Buktinya terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Serial Doraemon memang nggak melulu membahas soal kehidupan sekolahnya Nobita saja. Namun, setidaknya ada sedikit gambaran bagaimana kehidupan sekolah dasar di Jepang. Sekolah kok selalu dapat hukuman dari gurunya karena datang terlambat atau nggak mengerjakan PR. Padahal Nobita sudah kelas 5, lho. Memangnya SD di Jepang itu begitu?

Tahun 2018 silam, saya berkesempatan merasakan bagaimana kehidupan SD di Jepang lantaran anak saya sekolah di sana. Saya merasa bahwa kehidupan SD Nobita nggak beda jauh dari yang kami alami. Bukan mitos dan mengada-ada.

Gedung sekolah dan ruang kelasnya sama

Gedung SD di Jepang itu besar dan bertingkat lantainya dengan lapangan sekolah yang luas. Ruang kelasnya pun luas. Satu murid dengan satu meja berlaci dan satu kursi. Biasanya guru berdiri di tengah depan kelas. Di belakang guru ada papan tulis besar. Biasanya papan tulis ini pakai kapur, ya, bukan papan tulis whiteboard.

Di samping papan tulis ada tempat untuk menempel info pengumuman, macam jadwal piket murid. Di belakang murid terpajang hasil karya. Di depan ruang kelas ada rak yang bisa diisi dengan barang-barang murid.

Ruang kelas anak saya jauh lebih ribet. Di bawah hasil karya ada gantungan handuk tangan dan gelas kumur yang digunakan murid setelah makan siang. Di kanan kiri murid ada rak buku, meja untuk menaruh botol minum murid, kotak P3K, dll. Di depan ruang kelas ada rak untuk menaruh alat menggambar, plastisin, pianika masing-masing anak. Semua barang wajib diberi nama sehingga kalau hilang dan ditemukan orang lain bisa langsung dikembalikan.

Biasanya satu kelas hanya sekitar 30 murid. Kalau lebih, ya harus dibagi menjadi 2. Nama kelasnya 1-1, 1-2, 2-1, dst. Sama seperti sekolah Nobita.

Banyak PR dan ada hukuman

Nobita selalu mengeluhkan banyak tugas dan PR dari gurunya. Pulang sekolah bukannya mengerjakan malah keluyuran main.

Di kehidupan nyata di Jepang, meski baru kelas 1 SD saja tugasnya sudah banyak banget. Setiap hari ada berlembar-lembar kertas PR yang harus dikerjakan. Orang tua juga harus memantau anak mengerjakan PR. Kalau sering lupa, bisa jadi orang tuanya dipanggil ke sekolah. Duh.

Baca Juga:

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Gak Usah Banyak Alasan: Menabung Itu Penting!

Memang nggak ada UTS dan UAS di SD Jepang. Namun, ada evaluasi semacam ulangan harian setelah bab selesai diajarkan. Biasanya penilaian bisa berupa nilai seperti milik Nobita, tapi ada juga yang hanya ABC, atau sekadar gambar bunga (dikenal dengan hanamaru).

Sekolah di Jepang itu dimulai sekitar pukul 8.30 pagi dan pulang sekitar pukul 2-4 sore, tergantung tingkat kelasnya. Jam 8.30 itu pagi? Iya, rata-rata orang Jepang bangun pukul 7 pagi kemudian siap-siap sekolah atau kerja. Nobita sering dihukum gurunya berdiri di luar kelas karena datang terlambat sekolah atau nggak mengerjakan PR.

Anak saya belum pernah terlambat datang ke sekolah sih, tetapi pernah dihukum berdiri di depan kelas karena katanya terlambat masuk kelas setelah istirahat. Meski katanya itu tergantung kebijakan guru dan sekolahnya, ternyata hukuman seperti itu masih ada ya.

Tas randoseru dan baju bebas

Tas ransel khusus anak SD yang dipakai Nobita itu dinamakan randoseru. Sampai sekarang masih dipakai murid SD di Jepang. Biasanya warna hitam untuk laki-laki dan merah untuk perempuan. Namun, sekarang warnanya jauh lebih bervariasi. Material yang digunakan pun mengalami inovasi, jauh menjadi lebih nyaman dan ringan, tapi bentuknya tetap randoseru.

Tas randoseru ini digunakan dari kelas 1 sampai kelas 6. Karena pemakaian lama inilah, tas harus awet. Harganya juga nggak tanggung-tanggung, 3 jutaan rupiah paling murah. Ada merek yang memberi garansi 6 tahun, kalau rusak boleh diganti baru. Keren, kan? Anak saya juga punya.

Seragam biasanya nggak diperlukan di SD. Pakai kaos biasa (bahkan singlet) dan celana pendek boleh bersekolah. Ada juga sekolah swasta yang mewajibkan berseragam, tetapi umumnya SD negeri nggak berseragam. Macam anak Amerika sekolah, deh. Kalau kamu tim seragam atau tim baju bebas?

Guru datang ke rumah

Guru Nobita datang ke rumah untuk berkonsultasi dengan orang tua Nobita mengenai sekolah Nobita. Serunya cerita Doraemon karena selalu dimintain tolong Nobita agar membuat gurunya nggak bertemu ibunya. Kalau bertemu, pasti Nobita yang dimarahin.

Ini juga terjadi kepada saya. Awal kelas 1, guru SD anak saya datang ke rumah untuk sekadar melihat dan menanyakan bagaimana kondisi belajar anak saya. Mungkin karena masih awal ya, jadi hanya konsultasi biasa. Kalau sudah mulai ada ulangan harian (biasanya kelas 3 ke atas), bisa jadi juga bahas nilai, deh. Kalau sudah begini, orang tua harus peka membantu anaknya belajar biar nilainya bagus.

Kunjungan orang tua

Ada adegan ibunya Nobita datang ke sekolah untuk melihat bagaimana anaknya belajar di kelas. Guru bertanya dan murid menjawab soal di papan tulis. Biasanya para orang tua berdiri di belakang.

Saya juga berkesempatan melakukan ini. Mungkin karena masih kelas 1 jadinya masih sambil bernyanyi-nyanyi dan ceria. Kalau saya lihat di serial Doraemon sepertinya tegang banget. Kadang orang tua juga yang deg-degan melihat anaknya bisa menjawab dengan baik atau nggak. Kan malu juga kalau nggak bisa karena ada wali murid lain di situ.

Nobita nggak diantar ke sekolah

Pernah lihat adegan Nobita diantar ke sekolah oleh orang tuanya?

Nggak pernah, kan?

Di kehidupan nyata juga memang nggak ada orang tua mengantar anak ke sekolah di Jepang. Sejak kelas 1 sudah dibiasakan jalan kaki berangkat ke sekolah. Nggak boleh bersepeda juga. Kebijakan pemerintah Jepang yang menentukan SD berdasar jarak tempuh ke sekolah inilah yang membuat orang tua nggak perlu repot-repot mengantar anaknya ke sekolah.

Kalau ada apa-apa di jalan gimana?

Kalau berdasar pengalaman saya, rute berangkat sekolah biasanya ditentukan dari sekolah dan orang tua.

Murid-murid yang searah rumahnya jalan kaki dari titik yang sama. Biasanya kakak kelas jadi semacam ketua rombongan. Di tempat berbahaya seperti penyeberangan jalan raya juga ada warga sekitar dan perwakilan orang tua yang berjaga. Jadi aman, deh. Lagian kalau jalan kaki, kan, sekalian olahraga biar anak sehat dan nggak malas. Padahal lumayan lho jalan kaki ke sekolah anak saya, sekitar 20 menitan. Gempor kalau harus antar jemput anak setiap hari.

Sebenarnya masih banyak keseruan sekolah SD di Jepang yang nggak ditampilkan dalam serial Doraemon. Tetapi sayang kami cuma sebentar di sana…

Sumber Gambar: YouTube TS World Saujana

BACA JUGA 5 Adegan Pemanis di Drama Korea yang Overrated dan tulisan Primasari N Dewi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2021 oleh

Tags: anak SDAnime TerminaldoraemonGaya HidupjepangNobita
Primasari N Dewi

Primasari N Dewi

Saat ini bekerja di Jepang, menjalani hari demi hari sebagai bagian dari proses belajar, bertahan, dan berkembang.

ArtikelTerkait

Detail dalam Dorama Jepang yang Bikin Penonton Drama Korea Kaget

Detail dalam Dorama Jepang yang Bikin Penonton Drama Korea Kaget

27 Agustus 2023
takagi wataru miwako sato conan edogawa mojok

Nge-ship kok Conan dan Haibara, Mending Takagi Wataru dan Miwako Sato lah!

24 Juni 2021
rekomendasi 4 manga terbaik weekly shonen jump mojok.co

Rekomendasi 4 Manga Weekly Shonen Jump yang Menarik Diikuti

9 September 2020
Budaya Pop Jepang, Nasibmu Kini Terminal Mojok

Budaya Pop Jepang di Indonesia: Nasibmu Kini

24 Juli 2022
Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh Menang Cepat daripada Shinkansen Jepang, tapi Kalah Telak dalam Menjawab Kebutuhan Warga

Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh Menang Cepat dari Shinkansen Jepang, tapi Kalah Telak Soal Menjawab Kebutuhan Warga

17 Maret 2024
Yakin, Wibu Ngotot Pengin Tinggal di Jepang? terminal mojok.co

Kalau Kamu Pengin Tinggal di Jepang, Jangan Kaget dengan 6 Hal Ini

17 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

8 Juni 2026
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Lulusan UIN Sulit Cari Kerja Itu Mitos, Kenyataan Membuktikan Sebaliknya!

5 Juni 2026
Blora Bukan Tempat Tinggal yang Tepat untuk 4 Orang Ini

Mampukah Blora Bangkit dari Julukan Pelosok dan Daerah Tersepi?

10 Juni 2026
Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan Mojok.co

Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan

5 Juni 2026
Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang Mojok,co

Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang

5 Juni 2026
Derita Di Balik Keindahan Brown Canyon Semarang: Kisah Warga yang Harus Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang Mojok.co

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Brown Canyon Semarang, Warga (Terpaksa) Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang

4 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.