Privilese dan Ironi yang Saya Dapat sebagai Anak Preman – Terminal Mojok

Privilese dan Ironi yang Saya Dapat sebagai Anak Preman

Artikel

Avatar

Privilese yang didapat dari keluarga ada banyak macamnya. Privilese kekayaan, koneksi, akses, dan kadang, keamanan. Perkara keamanan, tak hanya anak penegak hukum yang dapat privilese macam ini, tapi juga anak preman. Ada beberapa keberuntungan yang saya dapatkan ketika jadi anak preman, dan keberuntungannya selalu menyelamatkan saya dari setiap bahaya yang datang.

Ayah saya adalah seorang preman. Saya tak peduli cap apa yang akan Anda lekatkan, lagipula kita tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga macam apa. Yang jelas, saya hanya akan bercerita sisi lain kehidupan yang mungkin Anda belum tahu.

Saya ceritakan keberuntungan jadi anak preman yang pertama. Dulu, saya pernah main ke sebuah lorong, dan lorong ini memang terkenal dengan kenakalan orang-orangnya yang suka menyerang pendatang. Tujuan saya ke lorong ini sebenarnya atas perintah ayah saya, perintahnya adalah saya harus datang ke lorong itu, dan menemui anak buah ayah saya yang bernama Om Lekat.

Ketika sampai di sebuah gang kecil dalam lorong ini, saya kemudian bertemu dengan beberapa preman yang ada di sana. Saat saya masuk menuju gang tersebut, ternyata para preman itu nggak suka dengan hadirnya saya di gang mereka.

Maka, terjadilah keributan kecil antara saya dan mereka, lalu salah satu dari preman itu langsung mencabut pisaunya dan mengarahkannya ke saya. Nah, di sinilah keberuntungan nama ayah saya teruji di hadapan para preman gang tadi.

Saat kami sedang ribut-ribut, datanglah seorang preman lain yang kebetulan tahu dengan saya. Sambil berlari-lari, dia berkata begini dengan para preman gang itu, “Berhenti! Berhenti! Dia anak bos kita, bubar kalian, bubar! Bubar!!!”

Setelah kedatangan Pak Preman tadi, akhirnya para preman itu seketika berhenti mengarahkan pisaunya ke saya. Mereka tidak menyangka bila saya anaknya bos mereka sendiri, dan mereka menyesal karena sudah menyerang saya.

Itu keberuntungan pertama yang saya dapatkan ketika jadi anak preman. Intinya, kalau bukan karena kepremanan ayah saya, tubuh saya sudah pasti tercabik-cabik oleh tebasan para preman tadi. Untunglah saya ini anaknya seorang preman, maka tertundalah jalan kematian saya di sana.

Sekarang, mari kita beralih menuju keberuntungan yang kedua.

Keberuntungan yang ini adalah soal orang-orang pasar yang belum kenal saya. Begini, kalau Anda orang baru di sebuah pasar di daerah saya, biasanya orang lama di pasar itu langsung sok-sok-an preman dengan Anda. Mata mereka bakal melotot ke Anda, tato mereka akan sedikit ditonjolkan ke Anda, dan pisau mereka akan dikeluarkan menganga dari bajunya.

Tujuan mereka begitu untuk apa? Iya, tujuannya adalah untuk menakut-nakuti orang baru seperti saya. Kehadiran orang baru di pasar itu bak musuh bagi orang lama, orang baru dianggap mengusik kenyamanan orang-orang lama di pasar.

Contohnya seperti ini. Waktu saya parkir di dekat motor ayah saya, preman penjaga area itu tiba-tiba menatap sinis ke arah saya. Dia saja preman penjaga area itu nggak berani parkir motor di situ, lah saya, yang bukan preman pasar, kok berani-beraninya naruh motor di samping motor ayah saya.

Ketika saya sama ayah saya jalan pulang dari dalam pasar menuju parkiran, preman itu heran mengapa saya yang orang baru ini bisa seakrab itu dengan preman besar. Penasaran, dia pun nanya ke ayah saya mengenai siapa saya sesungguhnya.

Setelah dia tahu kalau saya anaknya Ayah, dia pun langsung baik ke saya, ramah ke saya, ngobrol sebentar dengan saya, dan nggak mau dibayar selama saya parkir berikut-berikutnya.

Ya, begitulah keberuntungan jadi anak preman yang kedua, bebas parkir.

Lalu keberuntungan yang ketiga. Waktu saya naik bus kota menuju sekolah, ternyata tas saya yang berisi laptop dicuri orang. Saya sadar laptopnya hilang ketika sudah sampai di dekat sekolah. Saat pulang ke rumah, saya langsung ngomong ke Ayah mengenai laptop saya yang hilang dicuri orang.

Ayah kemudian bertanya ke saya mengenai ciri-ciri bus kotanya, warnanya apa, jurusannya dari mana ke mana, bagaimana ciri kernet busnya, seperti apa sopirnya, dan sebagainya. Setelah Ayah mendapat semua informasi itu, besoknya Ayah langsung menurunkan seluruh anak buahnya untuk mencari bus itu.

Sekitar jam empat sore, Om Lekat pimpinan preman daerah itu bergegas menemui Ayah, dia berkata kalau laptop saya pasti didapatkan sore ini, jika laptopnya tidak ditemukan, maka nyawanya jadi taruhan, kata Om Lekat.

Setelah menemui Ayah, Om Lekat bersama anak buahnya langsung berjejer di tengah jalan raya, mereka bersiap dengan pisau masing-masing untuk memberhentikan setiap bus kota yang lewat.

Saat busnya berhenti, Om Lekat langsung menghantam wajah setiap kernetnya dengan pukulannya yang mematikan itu, mau kernetnya maling, atau bukan pokoknya dihajar dulu.

Saat jam lima sore, ternyata bus yang dicari Om Lekat akhirnya ketemu, kernetnya langsung dibawa Om Lekat ke sebuah tempat, di situlah si kernet alias si maling tamat disiksa Om Lekat. Si kernet mengaku kalau dia yang mencuri laptop saya, dan dia siap ganti rugi atas hilangnya laptop saya.

Iya, bagaimana lagi, bila si kernet tidak mau mengganti laptop saya, habis dia. Daripada urusan makin panjang, lebih baik si kernet mengganti laptop saya yang dicurinya itu.

Bagaimana kalau kejadian ini menimpa kehidupan Anda? Laptop Anda hilang dicuri dalam bus, apakah laptop itu bakal kembali lagi? Berapa persen harapan laptopnya akan ke pelukan Anda kembali? Kalau Anda bukan anak preman kek saya, harapan kalau laptopnya balik lagi sepertinya nol persen. Iya, saya sangat yakin dengan hal ini.

Inilah ironi kehidupan kita. Keamanan dan kenyamanan hidup tidak dihadirkan secara utuh oleh penegak hukum. Justru preman bisa menyelesaikan pencurian—meski dengan cara yang salah—dan ironisnya, efektif. Apakah penegak hukum benar-benar tidak bisa menyelesaikan pencurian? Ya bisa, tapi realitasnya bagaimana? Andai saja saya bukan anak preman, pencuri tersebut bisa melenggang dengan tenang.

Barangkali itulah tiga keberuntungan yang saya dapatkan ketika jadi anak preman. Sebenarnya ada beberapa keberuntungan lagi, namun tulisan ini akan kepanjangan bila semua keberuntungan itu saya ceritakan.

Setidaknya, tiga hal di atas sudah cukup mewakili betapa beruntungnya saya jadi anak preman. Laptop yang sudah dicuri, dan dijual pun bisa balik lagi, apa lagi kalau kamu yang hilang, dijamin bakal kembali lagi deh kamunya. Hehe.

Nggak ding, nggak gitu mainnya.

BACA JUGA Purwokerto, Kota Wisata Underrated yang Tak Kalah Ciamik.

Baca Juga:  Support Your Local Brand: Kok Harganya Nggak Support Customer, Sih!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
7


Komentar

Comments are closed.