Melihat Islam di Indonesia Melalui Kartun “Upin Ipin” dan “Nussa Rara”

Featured

Rofii Zuhdi Kurniawan

Semenjak ada kartun Upin dan Ipin, sekarang saya lihat kartun bertema islami mulai banyak penontonnya di Indonesia. Selain Upin dan Ipin sekarang ada juga kartun berjudul “Nussa dan Rara” yang kalau dilihat jumlah penontonnya di YouTube yang sampai jutaan, kartun islami ini jelas punya pasar besar dan berkembang pesat di industri media Indonesia.

Ada hal menarik yang saya lihat dari dua kartun islami ini. Meskipun sama-sama kartun yang mengangkat cerita tentang anak-anak bertema islam, mereka membungkus nilai-nilai islam secara berbeda. Upin-Ipin bisa dibilang cukup fleksible dan cocok merepresentasikan kelompok moderat. Sementara Nussa-Rara menggambarkan islam yang cukup kaku yang mirip dengan pemahaman kelompok konservatif. Tapi secara keseluruhan, tetap ada kesamaan antara kedua kartun tersebut kok. Biar lebih jelas, saya akan bahas satu-satu.

Pertama, kita akan mengulik “Upin Ipin” terlebih dahulu.

“Upin Ipin” berhasil bertahan di dunia pertelevisian tanah air selama satu dekade. Salah satu faktor yang menyebabkan “Upin Ipin” bertahan adalah keberhasilan membungkus nilai-nilai Islam secara fleksibel.

Kartun “Upin Ipin” mengajarkan bahwa persahabatan  tidak membeda-bedakan agama dan suku. Terbukti ketika episode hari raya, di mana Upin Ipin mengadakan pesta bersama keluarga dan kawan-kawannya. Mereka yang ikut pesta terdiri dari berbagai agama (Muslim, KongHucu) dan suku (Malaysia, India, Cina) menikmati hidangan dari Opa.

Selain toleransi, kartun “Upin Ipin” jarang mengajarkan Islam secara simbolik seperti penggunaan kerudung dan menasehati dengan ayat-ayat Al-Quran. Alih-alih mengedepankan simbol, kartun “Upin Ipin” lebih suka menjadikan nilai-nilai Islam sebagai nafas dalam perilaku sehari-hari seperti dalam sebuah dialog di episode “Laitul Qadar” berikut:

Fizi: Eh, aku ada mercon… nanti setelah shalat kita maen yuk?

Baca Juga:  Putri Marino dan Buku PoemPM Adalah Wujud Menulis dengan Privilese

Upin: Mercon? Mana boleh maen? Nanti mengganggu orang sembahyang.

Ehsan: Tak apa, kita maen jauh-jauh dikit.

Upin: Tak enaklah, aku nak ikut baca Qur’an.

Selanjutnya, kita akan membahas tentang kartun “Nussa Rara”.

Selama bulan Ramadan, serial kartun “Nussa Rara” mengisi Program Spesial Trans TV setiap pukul 04.30 untuk menemani penonton selepas sahur. Telah tayang di YouTube sejak 2018, serial ini bercerita tentang aktivitas sehari-hari adik-kakak Nussa dan Rara beserta ibu mereka.

Durasi kartun yang singkat dan pembelajaran nilai-nilai Islam secara eksplisit, berhasil membuat serial ini cepat memperoleh penggemar di Indonesia. Bahkan, Nussa dikabarkan akan diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi Visinema pada tahun ini, tetapi terhambat oleh pandemi COVID-19.

Jika “Upin Ipin” membungkus Islam secara fleksibel dan jarang menggunakan simbol-simbol, kartun “Nussa Rara” justru membungkus Islam secara lebih kaku dan banyak menggunakan simbol-simbol.

Bukti dari Islam diajarkan secara kaku terletak pada sebuah episode, di mana Rara tidak mau berjabat tangan dengan seorang pengantar paket yang berbeda jenis kelamin. Dalam episode lainnya, Nussa pun tidak mau bersalaman dengan orang asing yang datang ke rumahnya. Ia baru mau bersentuhan secara fisik ketika mengetahui bahwa orang asing itu adalah tantenya.

Simbol-simbol Islami pun kerap ditampilkan dalam kartun “Nussa Rara” melalui karakter Nussa dan Rara yang selalu mengenakan baju koko dan pakaian tertutup rapat serta jilbab, baik pagi, siang, maupun malam hari—bahkan ketika mereka di rumah saja dan tidak menerima tamu. Nasehat-nasehat di dalam kartun “Nussa Rara” juga kerap menampilkan potongan dari Ayat Al-Qur’an maupun Hadis Rasul.

Baik “Nussa Rara” dan “Upin Ipin” sebenarnya merepresentasikan umat muslim di Indonesia secara umum. Terdapat dua kotak umat muslim Indonesia yang saya amati memiliki perbedaan cukup mencolok. Pertama, mereka seperti dalam kartun “Upin Ipin” yang memiliki karakter moderat dan tidak terlalu ambil pusing dengan simbol-simbol Islami.

Baca Juga:  5 Alasan Jadi Penghuni Kampus Cabang UIN Jakarta Itu Nggak Buruk-buruk Amat

Kelompok selanjutnya, memiliki kemiripan dengan kartun “Nussa Rara” yang memiliki karakter konservatif dan suka sekali menggunakan simbol-simbol Islam.

Keduanya tidak bisa dibenarkan dan disalahkan karena hukum fiqih Islam yang beragam serta prinsip bahwa Islam tidak pernah bertanya “5+5 sama dengan berapa, namun 10 itu berasal dari berapa tambah berapa”. Maksudnya, Islam tidak menuntut kita untuk memiliki jalan serupa dalam mencari ridho Tuhan,

Sebenarnya, kedua kartun baik “Upin Ipin” maupun “Nussa Rara” terdapat satu kesamaan pokok karakter yang menjadi ciri khas umat muslim di Indonesia. Kesamaan terletak suatu penggambaran bernama post-Islamisme yang mana menjelaskan bahwa umat muslim Indonesia relatif menolak Islam secara formal (Islam dalam bentuk sistem pemerintahan), senantiasa menjaga ketaqwaan terhadap Tuhan, namun di sisi lain mempunyai budaya konsumsi khas masyarakat kapitalis. Kedua kartun tersebut tidak mengajarkan pemerintahan Islam, keduanya juga senantiasa mengajarkan ketaqwaan dengan bungkus yang berbeda, namun di sisi lain mempunyai budaya konsumsi yang digambarkan melalui busana trendi para tokohnya.

BACA JUGA Alasan Saya Nggak Pernah Bosan sama Upin Ipin dan tulisan Rofi’i Zuhdi Kurniawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
22


Komentar

Comments are closed.