Mari Sambut dengan Tawa Wacana Menkes Terawan Soal Wisata Kebugaran, Jamu, dan Kerokan

Soal jamu, saya mewanti-wanti kepada Menkes Terawan agar tidak mengganti namanya. Biarlah jamu bernama jamu. Tak perlu namanya diubah menjadi bir sehat,

Featured

Erwin Setia

Ketika jiwa saya sedang gersang dan merasa begitu merana, Kabinet Indonesia Maju 2019-2024 seolah tahu cara menghibur warganya. Sebelum melanjutkan tulisan ini, tak elok rasanya kalau saya tidak mengucapkan terima kasih kepada Jokowi. Berkat beliaulah saya bisa tertawa-tawa karena melihat terobosan para menterinya. Terima kasih, Jokowi!

Bukan hanya satu menteri yang bikin saya nyengir-nyengir, melainkan beberapa menteri! Saya tentu tidak bisa tidak cengar-cengir ketika melihat Menhan Prabowo mencanangkan ide tentang perwira cadangan dari kalangan mahasiswa, Menko PMK Muhadjir Effendy mengusulkan soal sertifikat pernikahan, Kemendagri meluncurkan mesin ajaib bernama Anjungan Dukcapil Mandiri (ADM loh, bukan ATM).

Namun, tidak ada yang memiliki selera seikonik Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto. Bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di bawah pimpinan Wishnutama, Terawan ingin memaksimalkan wisata kebugaran dan jamu sebagai daya tarik utama untuk mendatangkan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Menariknya, menteri yang sejak belum jadi menteri sudah populer dengan ide-ide out of the box-nya semisal metode pengobatan “cuci otak” ini, menyebut sejumlah aset legendaris Indonesia.

“Kita punya industri jamu yang hebat-hebat, tapi nggak pernah kita ungkapkan. Misalnya Purwaceng. Lalu kalau kebugaran ada Mak Erot, itu kalau dikemas dengan baik wisatawan asing pasti datang,” kata Terawan sebagaiman dilansir dari Kumparan.

Ketika membicarakan soal metode kebugaran, Terawan juga menyebut-nyebut soal kerokan. “Jangan sepelekan kerokan,” ujarnya. Ia juga menambahkan, “Kita anggap kerokan itu tidak elit. Padahal bagi orang asing itu hal yang unik. Itu bisa menarik. Misalnya nama kerokan diganti tato sehat, Kan itu kayak tato sementara.”

Menyimak deretan perkataan Terawan di atas membuat saya berkeyakinan bahwa Jokowi telah membuat keputusan brilian sewaktu menunjuknya sebagai Menteri Kesehatan pada periode kedua masa pemerintahannya. Terawan mungkin bukan ahli kesehatan terbaik yang Indonesia miliki, tapi ia mempunyai keunggulan sampingan yang sungguh sangat dibutuhkan rakyat Indonesia, yaitu menghibur warga dengan ide-ide ciamiknya. Dengan kemampuan menghiburnya yang di atas rata-rata, saya tak akan heran kalau beberapa waktu kemudian Terawan tiba-tiba membikin Srimulat 4.0 yang terdiri dari Terawan, Prabowo Subianto, Fachrul Razi, Muhadjir Effendy, dan Puan Maharani, misalnya.

Baca Juga:  Kelakar Menyikapi Cuaca Panas di Surabaya

Kapan lagi coba kita bisa menemukan seseorang yang dapat menjadikan jamu, Mak Erot, dan kerokan go-international? Bukan hanya soal gagasan, Terawan juga pandai menciptakan istilah. Tato sehat sebagai sinonim kerokan adalah sebuah penemuan yang berpotensi membuat para ahli bahasa dan ahli kesehatan akan mengurung diri di dalam rumah karena dilanda rasa malu.

Ide Terawan bukan hanya bisa membuat orang tertawa, tapi juga membuka lapangan pekerjaan. Dengan status jamu dan kerokan yang kelak setara dengan Agnes Monica dan Anggun C. Sasmi, tentu membuat gembira sejumlah kalangan. Ya, dengan internasionalisasi jamu dan kerokan, mbak-mbak penjual jamu dan para pengerok amatir yang sebelumnya dipandang sebelah mata akan mendapat ruang lebih luas. Para pengangguran yang sebelumnya cuma bisa menyalurkan bakat mengeroknya kepada punggung-punggung orang terdekat, dapat menunjukkan bakatnya ke khalayak luas. Bukan tidak mungkin pada masa depan, profesi “penjual jamu” dan “juru kerok” akan terpampang di KTP.

Kendati ide Menkes Terawan sudah cukup apik, saya kira masih ada beberapa elemen lain terkait kesehatan yang perlu untuk dipromosikan. Di antaranya adalah pijat patah tulang Cimande dan minyak kutus-kutus. Dua kearifan lokal Indonesia dalam bidang kesehatan itu sudah tidak diragukan lagi jasanya dalam menjaga kesehatan rakyat Indonesia yang mudah pegal dan linu karena harus bekerja keras di tengah naiknya harga tarif listrik dan iuran BPJS.

Khusus soal jamu, saya mewanti-wanti kepada Menkes Terawan agar tidak mengganti namanya. Biarlah jamu bernama jamu. Tak perlu namanya diubah menjadi bir sehat, umpamanya, hanya agar para wisatawan mancanegara tertarik untuk mencicipinya. Lalu, Mak Erot juga tak perlu sampai disebut sebagai dukun sehat. Cukup kerokan saja yang disebut dengan tato sehat.

Baca Juga:  Menjadi Ambis atau Tidak Ambis dalam Pusaran Kehidupan Mahasiswa

Dengan keberadaan Terawan dan menteri-menteri lucu lain di jajaran kementerian periode kedua Jokowi, saya rasa kakek La Lembah Manah tersebut patut kita beri apresiasi setinggi-tingginya. Di tengah-tengah timbunan masalah negeri ini, mulai dari masalah dalam bidang sosial, ekonomi, hingga pendidikan, Jokowi sungguh telah melakukan pemilihan menteri yang amat tepat. Beliau telah memilihkan untuk rakyat-rakyat Indonesia menteri-menteri yang sanggup membikin… kita tertawa. Soal apakah tawa itu tawa bahagia atau tawa prihatin, tak usahlah dipanjang-panjangkan. Yang penting kita bisa tertawa, tho?

BACA JUGA Menteri Kabinet Indonesia Maju: Pak Jokowi Suka Bikin Kejutan, Ah. atau tulisan Erwin Setia lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
429 kali dilihat

7

Komentar

Comments are closed.