Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Mana yang Paling Istimewa bagi Yogyakarta: Kriminalitas, Ketimpangan Sosial, UMR Rendah, Konflik Agraria, atau Pengelolaan Sampah?

Marshel Leonard Nanlohy oleh Marshel Leonard Nanlohy
25 Maret 2021
A A
Mana yang Paling Istimewa bagi Yogyakarta Kriminalitas, Ketimpangan Sosial, UMR Rendah, Konflik Agraria, atau Pengelolaan Sampah terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Sedih rasanya harus memberikan judul penulisan yang agak keras kali ini soal Yogyakarta yang sering disebut-sebut istimewa. Bagaimanapun, konten-konten bernapaskan hidden gem itu harus diganti. Kali ini, saya mencoba bahas the hidden story: what did it cost to make a beautiful gem?

Seperti kata Mas Gusti Aditya dalam tulisannya, romantisisasi itu sejatinya memabukkan, menimbulkan kekecewaan yang berlebihan, dan tentu saja sifatnya semu. Menanggapi hal tersebut, saya mencoba meresapi kata-kata tersebut dan memberanikan diri untuk menulis artikel ini.

Berangkat dari keresahan pribadi, sebenarnya hidden gem kayak apa lagi sih yang mau dicari sama kawan-kawan di luar Jogja? Maaf buat kaum pembuat maupun penikmat konten hidden gem. Bukan bermaksud nyinyir, tapi sesekali Anda juga perlu bikin konten mengenai cerita kelam di balik indahnya sebuah permata, azek…

Supaya tulisan ini nggak terlalu panjang, saya ingin langsung ngomongin tentang hal-hal apa saja sih yang sebenarnya membuat Kota Yogyakarta itu jadi “istimewa”.

Apakah “keistimewaan” itu datang dari klitih, dari pemukiman kumuh yang memadati bantaran sungai, dari UMR yang sudah buaaanyakkk buaaangeeet yang ngomongin, dari kasus-kasus penggusuran demi alasan pembangunan, atau dari pengelolaan sampah yang overload di TPST Piyungan?

Pertama, Yogyakarta yang menyandang julukan “Kota Pelajar” kerap kali dibuat kewalahan oleh kasus kriminalitas. Mulai dari kasus narkoba, pencurian, tawuran pelajar, hingga klitih yang satu tahun belakangan sering dibahas karena kembali mewabah.

Kasus kriminalitas di DIY tercatat mengalami peningkatan sekitar 35,94% di tahun 2020. Hingga Maret 2021 pun, masih ada berita kriminal yang mengungkap para terduga klitih yang berhasil ditangkap sebelum melakukan aksi. Klitih termasuk kejahatan yang mengerikan buat saya. Ya gimana nggak ngeri, wong langsung dibacok tanpa fafifu…

Jengkelnya lagi, beberapa korban klitih mengaku bahwa pelaku nggak ngambil motor, sepeda, atau barang-barang lain yang dibawa korban. Intinya, klitih tuh secara singkat bisa digambarkan sebagai kasus pembunuhan yang cukup sadis. Tapi ingat, ini baru hidden story pertama.

Baca Juga:

Saya Semakin Muak dengan Orang yang Bilang Jogja itu Nggak Berubah Padahal Nyatanya Bullshit!

Bukannya Nggak Cinta Kabupaten Sendiri, Ini Alasan Warlok Malas Plesir ke Tempat Wisata di Bantul

Kedua, Dibalik ingar bingar keindahannya, Kota Yogyakarta juga menyimpan segudang masalah ketimpangan. Gedung hotel yang megah itu mungkin bisa dikategorikan sebagai hidden gem.

Uniknya, dari tempat yang sama, Anda juga dapat menikmati ketimpangan di sudut-sudut Kota Yogyakarta. Persis, ada yang harus dikorbankan untuk mendapatkan sebuah berlian yang bagus.

Data dari Bank Indonesia di tahun 2020 memaparkan bahwa tingkat perekonomian di Yogyakarta terkontraksi akibat dampak pandemi sebesar -0,17%. Hal ini terus memicu ketidakmampuan masyarakat mengakses pemukiman layak huni.

Alhasil, Anda dapat mengamati pemukiman kumuh yang memadati bantaran sungai: Winongo, Code, dan Gadjah Wong. Ketiga sungai utama di DIY yang menjadi distributor pemukiman kumuh.

Beberapa upaya penataan sungai telah dilakukan. Lantas bagaimana nasib warga yang tinggal di bantaran sungai? Tenang dulu, aman kok, nggak usah emosi, tahan, ini masih hidden story kedua.

Ketiga, upah minimum yang rendah. Poin ini nggak perlu dijelaskan lebih lanjutlah, ya? Agak kebangetan kalau masih belum paham seluk beluk rendahnya UMR Jogja. Nih, coba baca, biar nggak gampang digocek sama clickbait di media…

Keempat, Reforma Agraria di Kota Yogyakarta perlu Anda pahami juga. Mengutip tulisan Ahmad Nashih Luthfi (2019) dalam buku Perjuangan Keadilan Agraria, kebijakan tentang masalah agraria yang mengandalkan sektor pariwisata tidak menghasilkan trickle-down effect.

Singkatnya, hanya segelintir atau bahkan tidak ada masyarakat menengah ke bawah yang mendapatkan manfaat dari pariwisata. Sebaliknya, sektor pariwisata malah menghasilkan trickle-up effect. Akibatnya, hanya segelintir elite di Yogyakarta yang bisa menikmati hasil pembangunan jor-joran.

Nah, di sini Anda perlu mengingat bahwa pembangunan berbasis pertanahan di Yogyakarta melahirkan kerusakan lingkungan dan keresahan sosial masyarakat Yogyakarta di desa maupun kota.

Kelima, sekaligus yang terakhir. Tentang pengelolaan sampah dan permasalahan TPST Piyungan yang baru-baru ini ramai dibahas. Tempat yang paling kotor tapi punya peran yang paling penting.

Masa pandemi yang mengharuskan kita untuk berdiam diri di rumah tentu bisa memicu peningkatan sampah rumah tangga.Coba pikirkan, mulai dari sampah masker yang penggunaannya sekali pakai, hingga sampah plastik yang disebabkan oleh unboxing barang dari e-commerce.

Lantas ke mana sih perginya semua sampah itu? Kalau berbicara tentang hukum, hal itu diatur pada UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Faktanya, DIY sendiri memiliki 3 tempat pembuangan. TPS Wukirsari bagian Gunung Kidul, TPS Banyuroto bagian Kabupaten Kulon Progo, dan TPST Piyungan yang memikul beban sampah dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul.

Dari berita yang beredar, TPST Piyungan mengalami overload sampah yang diperburuk dengan minimnya fasilitas pengelolaan. Pemda DIY mengatakan akan meninggikan TPST sebanyak 3 meter dari sebelumnya, selain itu akan dibentuk juga terasering yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas serta operasional selama 2 tahun ke depan.

Demikian beberapa hidden story tentang bagaimana cerita gelap dibalik pembuatan sebuah permata yang indah.

Nah, sekarang jika Anda diharuskan untuk memilih satu “keistimewaan” yang paling merepresentasikan D.I.Yogyakarta, poin ke berapa yang akan Anda tunjuk?

BACA JUGA Yogyakarta yang Istimewa Tengah Putus Asa Ditelanjangi Covid-19 dan tulisan Marshel Leonard Nanlohy lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Januari 2022 oleh

Tags: Yogyakarta
Marshel Leonard Nanlohy

Marshel Leonard Nanlohy

Seorang Pemuda yang berusaha menemukan makna kehadiran Tuhan dalam setiap peristiwa, baik yang sederhana maupun yang menguji, sebagai bagian dari perjalanan memahami kehidupan.

ArtikelTerkait

gubernur jogja sultan jogja kebijaksanaan mojok

Sungguh Benar, Sultan HB X Harus Memarahi Gubernur Jogja Perkara Upah Murah

6 November 2020
Terima Kasih Umbu Landu Paranggi Telah Membuat Malioboro Romantis terminal mojok.co

Terima Kasih Umbu Landu Paranggi Telah Membuat Malioboro Romantis

7 April 2021
Nasi Kucing Adalah Satire Terbaik untuk Pemerintah Yogyakarta Terminal Mojok.co

Nasi Kucing, Satire Terbaik untuk Pemerintah Yogyakarta

10 Mei 2022
Bukannya Nggak Cinta kabupaten Sendiri, Ini Alasan Warlok Malas Plesir ke Tempat Wisata di Bantul Mojok.co

Bukannya Nggak Cinta Kabupaten Sendiri, Ini Alasan Warlok Malas Plesir ke Tempat Wisata di Bantul

13 Oktober 2025
culture shock merantau MOJOK.CO

Culture Shock Orang Cirebon yang Merantau ke Yogyakarta Diselamatkan oleh Magelangan Warmindo

8 Juli 2020
Sumber Gambar Tumpeng Menoreh via YouTube Rian Wicaksono

3 Jenis Orang yang Sebaiknya Tidak Berkunjung ke Tumpeng Menoreh

22 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
MU Menang, Dunia Penuh Setan dan Suram bagi Fans Liverpool (Unsplash)

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

1 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.