Ironi Mahasiswa Jurusan Pendidikan: Buangan dan Tidak Ingin Menjadi Guru

Ironi Mahasiswa Jurusan Pendidikan: Buangan dan Tidak Ingin Menjadi Guru Mojok.co

Ironi Mahasiswa Jurusan Pendidikan: Buangan dan Tidak Ingin Menjadi Guru (unsplash.com)

Saya rasa tidak berlebihan untuk mengatakan masa depan bangsa ini bergantung pada mahasiswa jurusan pendidikan. Merekalah yang akan menjadi guru bagi anak-anak kita. Anak-anak yang kelak menjadi penerus bangsa. 

Bibit-bibit menjadi guru yang kompeten perlu ditanamkan sejak mereka masih menjadi mahasiswa. Namun, yang terjadi saat ini, mahasiswa jurusan pendidikan tidak banyak yang termotivasi menjadi guru. Ironi memang, tapi hal itu dapat dipahami setelah mengetahui beberapa alasannya.

Mahasiswa jurusan pendidikan buangan jurusan lain

Dosen mata kuliah Ilmu Pendidikan saat saya masih menempuh jenjang sarjana (S1) pernah melakukan survei kecil-kecilan. Survei itu ingin mengetahui berapa banyak mahasiswa jurusan pendidikan yang menjadikan jurusannya sebagai pilihan pertama. Banyak yang mengaku jurusan pendidikan adalah pilihan kedua, bahkan ketiga. Mereka terlempar dari jurusan-jurusan yang lebih favorit seperti Ekonomi Pembangunan, Akuntansi, dan Manajemen. 

Konsekuensi menjadi jurusan bukan pilihan pertama ada banyak, salah satunya kualitas mahasiswa yang tidak sebaik jurusan favorit. Kalau begitu ceritanya, jangankan memiliki penerus bangsa yang berkualitas, calon guru berkualitas dan kompeten yang bakal menjadi pendidik saja tidak ada. 

Menurut survei kecil-kecilan dosen saya di atas, tidak heran kalau kemudian banyak mahasiswa jurusan pendidikan yang tidak tertarik menjadi guru setelah lulus. Kalaupun ada yang menjadikan jurusan pendidikan sebagai pilihan pertama, mereka hanya mengejar jurusan dengan selektivitas masuk yang tidak ketat. Sejak awal, mereka memang tidak berniat menjadi guru. 

Baca halaman selanjutnya: Tidak ingin menjadi guru

Tidak ingin menjadi guru

Keinginan menjadi guru semakin menipis ketika banyak kabar terkait guru-guru honorer yang digaji sangat sedikit. Belum soal berita kekerasan di lingkungan sekolah termasuk kepada guru, beban kerja guru yang sangat besar, dan berbagai sentimen negatif lain. Tidak sedikit mahasiswa jurusan pendidikan yang akhirnya keluar dari bidang pendidikan. Mereka lebih memilih bekerja di perusahaan atau wirausaha. 

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa jurusan pendidikan adalah soal pilihan. Namun yang ingin saya tekankan, jurusan ini sebenarnya tidak buruk-buruk amat lho. Ada yang merasa tersesat di jurusan ini, tapi akhirnya terus mengabdi sebagai guru. Kalau mau menelisik lebih jauh, gaji guru sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Guru yang sudah diangkat menjadi ASN mendapat gaji layak dan bisa untuk menafkahi keluarga. Belum lagi ketika ada tunjangan ini. Walau harus diakui, belum semua guru bernasib baik seperti itu.

Inilah yang perlu diperjuangkan bersama. Guru yang mengabdikan diri untuk mencerdaskan memang perlu dijamin kesejahteraannya. Niscaya, jaminan kesejahteraan ini bisa menarik kembali minat menjadi guru maupun mahasiswa jurusan pendidikan. 

Penulis: Kamsu Aji Wiguna
Editor : Kenia Intan

BACA JUGA Mempunyai Guru yang Memiliki Passion Mengajar Adalah Sebuah Privilese

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version