Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Beasiswa LPDP Terkadang Memang Tak Tepat Sasaran, tapi BIB Justru Jauh lebih Mengecewakan

Supriyadi oleh Supriyadi
2 Maret 2026
A A
Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Bikin Sengsara Lulusan S2 (Unsplash) LPDP

Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Bikin Sengsara Lulusan S2 (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Pertanyaannya sederhana: jika standar administrasi LPDP saja bisa ditembus hingga tahap akhir, mengapa di BIB bisa berhenti di pintu masuk?

Viralnya seorang penerima beasiswa LPDP namun justru membelot menjadikan anaknya bukan WNI tengah menyita banyak orang. Medsos pun ramai. Kritik mengalir layaknya banjir di musim hujan.

Ya, beasiswa memang selalu terdengar seperti kabar baik bagi penerimanya. Ia membawa harapan, mobilitas sosial, dan janji masa depan yang lebih cerah. Negara hadir, katanya, untuk memastikan pendidikan tidak hanya milik mereka yang mampu.

Kita mengenal Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai program besar dengan seleksi ketat dan gengsi tinggi. Kita juga mengenal Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) sebagai jalur lain yang katanya memberi ruang bagi kalangan yang berafiliasi dengan lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama. Juga sering disebut LPDP syar’i karena memang BIB itu dari LPDP yang dikelola oleh Kementerian Agama.

Secara konsep, keduanya terdengar mulia. Tapi pengalaman kadang menghadirkan cerita yang tidak sesederhana brosurnya.

Dua kali daftar Beasiswa BIB, dua kali gugur, semuanya tanpa penjelasan

Saya mendaftar beasiswa BIB dua kali untuk jenjang S2. Antara yang pertama dan kedua selisih sekitar 2 tahun. Dua-duanya berhenti di tahap seleksi administrasi. Ya, baru seleksi administrasi saja tapi tak lolos. Ibarat baru mengetuk pintu, tapi sudah diusir. Yang lebih mengganggu bukan kegagalannya, melainkan ketiadaan penjelasan.

Tidak ada catatan kekurangan. Tidak ada keterangan dokumen mana yang salah. Padahal semua persyaratan sudah dipenuhi, berkas lengkap, format sesuai, skor TOAFL tinggi di atas standar yang ditentukan. Gugur, begitu saja. Jadi, ketika mendaftar lagi di penyelenggaraan dua tahun berikutnya, gugur juga tanpa kejelasan.

Dalam seleksi yang sehat, kegagalan seharusnya disertai evaluasi. Bukan untuk menyalahkan penyelenggara BIB, tapi agar pendaftar tahu di mana letak kekurangannya sehingga bisa diperbaiki untuk mengikuti ajang serupa ke depannya. Tanpa itu, seleksi terasa seperti lorong gelap: kita disuruh berjalan, tapi tidak pernah diberi tahu di mana pintu keluarnya.

Baca Juga:

5 Syarat “Terselubung” Beasiswa LPDP yang Jarang Orang-orang Bahas

6 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang sehingga Gagal Tembus Beasiswa LPDP

BACA JUGA: Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

Ketika standar BIB terlihat tidak konsisten

Itu pengalaman saya. Kali ini, saya cerita tentang teman saya.

Ia pernah menembus seleksi LPDP hingga tahap wawancara untuk jenjang S3. Artinya, secara administrasi dan kualitas dokumen, ia tidak main-main. Ia hanya kalah di tahap akhir dan itu wajar. Seleksi memang kompetitif.

Yang janggal muncul ketika ia mencoba mendaftar beasiswa BIB. Dengan dokumen dan rekam jejak yang bahkan sudah lolos sampai wawancara di LPDP, ia justru tidak lolos di tahap awal BIB dengan berkas yang bisa meloloskannya di LPDP. Aneh, bukan?

Pertanyaannya sederhana: jika standar administrasi LPDP saja bisa ditembus hingga tahap akhir, mengapa di BIB ia berhenti di pintu masuk? Ia belum masuk, bahkan. Ya, baru seleksi administrasi saja langsung gugur.

Apakah standar BIB dan LPDP berbeda? Sangat mungkin. Apakah prosesnya berbeda? Bisa jadi. Tapi tanpa transparansi, perbedaan itu terasa seperti misteri, bukan mekanisme.

Beasiswa untuk siapa?

Di ruang publik, LPDP sering dikritik karena dianggap tidak selalu tepat sasaran. Ada cerita tentang anak pejabat, anak orang kaya, atau mereka yang sebenarnya sudah sangat mampu tetap lolos mendapatkan pembiayaan negara. Kritik itu mungkin ada benarnya, mungkin juga tidak sepenuhnya adil. Kita tidak selalu tahu keseluruhan ceritanya.

Memang sih, LPDP itu tidak hanya untuk kalangan menengah, apalagi yang ke bawah. Seleksinya adalah kompetensi, bukan ekonomi. Tapi, kalau kita melihat penerima beasiswa LPDP berasal dari kalangan yang sangat mampu, rasanya bagaimana gitu. LPDP itu dananya diambil dari pajak masyarakat, lho. Dan masyarakat itu tidak semuanya mampu. Bagaimana dengan orang pintar dengan kemampuan ekonomi rendah dan tidak bisa kuliah karena mahal?

Tapi, mau bagaimana lagi. Itu memang sudah dari sananya.

Yang lebih mengganggu justru ketika beasiswa yang digadang-gadang sebagai “bangkit” dan “agamis” terasa tidak memberi ruang penjelasan bagi yang gagal bahkan di tahap awal. Jika gagal karena kualitas, katakan. Jika gagal karena administrasi, tunjukkan di mana letaknya. Transparansi bukan ancaman; ia justru penguat legitimasi.

Karena beasiswa negara, entah BIB atau LPDP, bukan hadiah pribadi. Ia menggunakan dana publik. Dan dana publik selalu membawa hak publik untuk bertanya.

BACA JUGA: 5 Syarat “Terselubung” Beasiswa LPDP yang Jarang Orang-orang Bahas

Antara harapan dan kekecewaan

Mendaftar beasiswa bukan sekadar mengunggah berkas. Ada waktu, tenaga, harapan, dan kadang harga diri yang ikut dipertaruhkan. Ketika gagal tanpa tahu sebabnya, yang tersisa bukan hanya kecewa, tapi rasa digantung.

Kita tidak menuntut untuk selalu lolos. Kita hanya ingin tahu mengapa tidak.

Di titik ini, pertanyaannya menjadi sederhana sekaligus menggelisahkan: BIB itu sebenarnya untuk siapa? Untuk mereka yang paling layak? Untuk yang paling memenuhi syarat? Atau untuk mereka yang paling sesuai dengan kriteria yang tak pernah dijelaskan? Atau mungkin, itu hanya iseng-iseng berhadiah?

Barangkali negara perlu lebih dari sekadar membuka pendaftaran. Ia perlu membuka proses. Karena keadilan bukan hanya soal siapa yang diterima, tapi juga bagaimana yang tidak diterima diperlakukan.

Penulis: Supriyadi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kemenag Tahun Ini Berhasil Membuat Fresh Graduate S2 Patah Hati

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Maret 2026 oleh

Tags: beasiswa BIBbeasiswa LPDPpersyaratan LPDPsyarat daftar Beasiswa Indonesia Bangkit
Supriyadi

Supriyadi

Seorang yang lahir di Bantul bagian selatan, berdomisili di Bantul bagian utara, dan ber-KTP Cirebon.

ArtikelTerkait

Beasiswa LPDP cuma Mencetak Budak Korporat Baru (Unsplash)

5 Alasan Mengapa Kamu Nggak Perlu Kuliah S2 Meskipun Pendaftaran Beasiswa LPDP Tahun 2024 Telah Dibuka

14 Januari 2024
6 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang sehingga Gagal Tembus Beasiswa LPDP

6 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang sehingga Gagal Tembus Beasiswa LPDP

24 Juli 2024
Saya dan Teman-Teman Saya Lolos LPDP Karena Melakukan Ini

Saya dan Teman-Teman Saya Lolos LPDP Karena Melakukan Ini

12 Maret 2020
Panduan Lengkap Mendaftar Beasiswa LPDP 2024 (Unsplash)

Panduan Lengkap Mendaftar Beasiswa LPDP 2024: Syarat, Jenis, dan Cara Mendaftar

6 Desember 2023
Beasiswa LPDP Diskriminasi yang Dialami Awardee Dalam Negeri (Unsplash.com)

Beasiswa LPDP: Diskriminasi yang Dialami Awardee Dalam Negeri yang Nggak Pernah Diajak Debat di Twitter

2 Agustus 2022
3 Pesan dari Ibu-ibu Tangguh yang Gagal Lolos Beasiswa LPDP

3 Pesan dari Ibu-ibu Tangguh yang Gagal Lolos Beasiswa LPDP

12 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama Mojok.co

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama

29 April 2026
Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang

29 April 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
Kotabaru Jogja, Kawasan Pemukiman Belanda yang Punya Fasilitas Lengkap, yang Sekarang Bersolek Jadi Tempat Wisata

Hidup di Kotabaru Jogja Itu Enak, Sampai Kamu Coba Menyeberang Jalan, Ruwet!

28 April 2026
LCGC Bukan Lagi Mobil Murah, Mending Beli Motor Baru (Unsplash)

Tidak Bisa Lagi Disebut Mobil Murah, Nggak Heran Jika Pasar LCGC Semakin Kecil dan Calon Pembeli Jadi Takut untuk Membeli

25 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • 1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa
  • Cerita Lulusan Termuda S2 UGM, Berhasil Kantongi Gelar Sarjana Kedokteran dan Kesmas sebelum Usia 25 Tahun
  • Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau
  • Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing
  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.