Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Logika Mendag Lutfi: Mampu Bayar PCR atau Antigen Boleh Masuk Mal, yang Nggak Silakan ke Pasar Tradisional

Aminah Sri Prabasari oleh Aminah Sri Prabasari
11 Agustus 2021
A A
Logika Mendag Lutfi_ Mampu Bayar PCR atau Antigen Boleh Masuk Mal, yang Nggak Mampu Silakan ke Pasar Tradisional terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Saat mengunjungi Mal Kota Kasablanka di Jakarta Selatan, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan tes negatif PCR dan atau Swab Antigen ikut menjadi syarat masuk mal. Lucunya, menurut Mendag Lutfi, belanja ke pasar tradisional mah bebas. Pembedanya ada pada fasilitas AC.

Ruangan yang memakai AC memang berisiko tinggi terpapar Covid-19 karena virus terlokalisir di satu tempat. Tapi, alasan Mendag Lutfi bukan itu—bukan karena kepedulian pada keselamatan pengunjung mal. Pernyataan tersebut muncul karena diskriminasi dan minimnya keberpihakan pada masyarakat yang nggak mampu bayar PCR/antigen.

“Kalau nggak (mau), ya boleh ke pasar rakyat. Ke pasar rakyat nggak perlu antigen, nggak mesti PCR, nggak mesti vaksin. Silakan masuk aja ke pasar rakyat. Kalau mau pakai AC mesti keluarkan uang untuk Antigen. Jadi vaksinasi, PCR, dan atau Antigen. PCR bisa dua hari, Antigen sehari saja,” kata Mendag.

Vaksin saja distribusinya belum merata, pelosok belum sepenuhnya terjamah. Bisa mendapat vaksinasi adalah privilese bagi rakyat sekarang, padahal gratis. Apalagi yang harus bayar ratusan ribu seperti PCR dan antigen.

FYI, pemerintah menetapkan harga rapid test antigen tertinggi 250 ribu untuk Pulau Jawa dan 275 ribu luar Jawa. Ketetapan tersebut ada di Surat Edaran No HK.02.02/I/4611/2020 yang dikeluarkan per tanggal 18 Desember 2020. Sedangkan batas atas biaya PCR adalah 900 ribu ditetapkan dalam Surat Edaran Nomor HK.02.02/1/3713/2020.

Di sisi lain, secara nggak langsung Mendag Lutfi mengatakan bahwa di tempat kita bisa belanja murah, di pasar tradisional, keamanan pengunjung jauh lebih longgar. Oleh karena itu, masyarakat yang punya uang lebih silakan pilih tempat belanja yang lebih aman seperti mal, sementara masyarakat yang uangnya mepet—nggak bisa bayar PCR/antigen, mestinya lebih tahu diri, bisa ke pasar tradisional saja.

Era 90-an dan awal 2000-an, kita sering mendengar kalimat, “Orang miskin dilarang sakit” dan “Orang miskin dilarang sekolah”, yang diucapkan sebagai kritik ketimpangan sosial dan kurangnya keberpihakan pemerintah pada rakyat. Sekarang tambah lagi orang miskin juga dilarang ke mal.

Sebagai rakyat jelata, saya masih terkaget-kaget seorang menteri terang benderang mengatakan pemakaian AC menjadi pembatas antara masyarakat kaya dengan masyarakat miskin. Mal vs pasar tradisional, kenyamanan berbelanja vs status ekonomi, familier dengan cara berpikir yang seperti ini?

Baca Juga:

Membayangkan Lamongan Punya Mal, Cari Hiburan Nggak Perlu Repot-repot ke Kabupaten Tetangga

Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

Ya, memang sudah biasa orang miskin diminta tahu diri, dalam keseharian, kan, juga begitu. Mau belanja yang lebih nyaman dan bersih, bisa ke supermarket di mal. Kalau mampunya belanja yang bisa nawar, meski tempatnya lusuh dan becek, bisa ke pasar. Ada fasilitas, ada harga.

Tapi, kalau yang berpikir seperti itu adalah pejabat negara yang seharusnya bekerja keras mengatasi kesenjangan sosial, kok, jengkel banget rasanya, ya?

Ngapain kita buang-buang uang untuk pemilu setiap lima tahun kalau logika pejabatnya nggak jauh-jauh dari diskriminasi berdasarkan kemampuan ekonomi begitu? Itu logika pejabat atau logika tukang jualan?

Nggak heran bisa muncul ide vaksin berbayar saat pandemi sedang menggila.

Nggak heran pasar tradisional jarang dibenahi—kalaupun dibenahi, harga kios jauh lebih tinggi kemudian lama-lama ditinggalkan pembeli karena harga barang juga naik.

Nggak heran izin pendirian mal terus diberikan tanpa dibarengi revitalisasi pasar tradisional.

Nggak heran muncul kasus impor bahan pokok yang sebenarnya masih bisa dipenuhi petani kita.

Nggak heran kursi Mendag di era Jokowi paling sering berganti pemilik.

Nggak heran~

Mendag Lutfi bukan kali ini saja membuktikan dirinya nggak punya keberpihakan pada rakyat miskin. Bulan Maret lalu sampai ramai muncul tagar #MendagBebanJokowi lantaran blio berencana impor beras padahal sedang musim panen. Impor beras saat panen rasanya sudah jelas bisa bikin petani merugi karena harga jual beras lokal menjadi rendah.

Dalih Mendag saat itu, rencana impor dilakukan bukan untuk dijual ke pasar, melainkan sebagai cadangan nasional. Sementara Budi Waseso menyatakan cadangan beras di Bulog cukup untuk cadangan nasional dan pasokan beras dalam negeri.

How low can you go, Pak Mendag?

Keberpihakan pemerintah kepada rakyat akan meningkatkan kesejahteraan sosial, ini harga mati. Tolong jangan diutak-atik.

Yang paling repot kalau punya pejabat ngefans teori Darwin “survival of the fittest”, sudah pasti rakyat menjerit. Pejabat minim empati dan nggak punya keberpihakan pada rakyat saja sudah bikin pengelolaan negara kayak lagi naik mobil matic dengan driver baru belajar, masih ditambah ngefans teori Darwin. Padahal kita semua sekarang harus berhadapan dengan pandemi. Wis, angel, angel~

Ketika keberpihakan pejabat negara pada rakyat adalah fiksi, kesenjangan sosial menjadi repetisi.

BACA JUGA Kalau Pak Luhut Bilang Penanganan Pandemi Itu Terkendali, Terus Kenapa 31 Negara Mencekal Pelancong dari Indonesia? dan tulisan Aminah Sri Prabasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 Agustus 2021 oleh

Tags: antigenMalmendagripasar tradisionalPCRPojok Tubir Terminaltes swab
Aminah Sri Prabasari

Aminah Sri Prabasari

Perempuan yg merdeka, pegawai swasta yg punya kerja sambilan, pembaca yg sesekali menulis. Tertarik pada isu gender, politik, sosial dan budaya.

ArtikelTerkait

Cantumkan Syarat Zodiak Tertentu dalam Info Lowongan Kerja: Serius atau Bercanda, sih?

19 Juni 2021

4 Pembelajaran dari Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Gofar Hilman

10 Juni 2021
4 Surga Barang Bekas Berkualitas di Indonesia Terminal Mojok

4 Surga Barang Bekas Berkualitas di Indonesia

16 September 2022
pasar tradisional

Mendirikan Minimarket di Area Pasar Tradisional Itu Maksudnya Apa Sih?

18 Desember 2021
PGI tes wawasan kebangsaan KPK mojok

Memangnya Ada yang Salah dari PGI Menolak Upaya Pelemahan KPK? Kenapa Diserang?

3 Juni 2021
juliari batubara badut jalanan sedih tawa mojok

Mentertawakan Permohonan Bebas Juliari Batubara, si Paling Menderita

10 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang Mojok.co

Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang

1 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga
  • Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.