Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Lips Service dan Politik Abang-abang Lambe

Suwatno oleh Suwatno
29 Juni 2021
A A
Lips Service dan Politik Abang-abang Lambe terminal mojok.co

Lips Service dan Politik Abang-abang Lambe terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Media sosial kembali gegap oleh postingan dari akun resmi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) yang menggelari Presiden Jokowi sebagai “King of Lips Service”. Postingan tersebut mendapat kecaman dari seorang dosen UI yang kerap membuat kontroversi, Ade Armando.

Pak dosen, yang beberapa waktu lalu sempat menjadi bahan julid netijen gegara mendirikan Civil Society Watch (CSW) itu, bertanya (setengah mengolok) bahwa mahasiswa yang memposting itu masuk UI dengan cara “nyogok”. Sebuah tuduhan yang absurd mengingat datangnya dari seorang dosen. Smh.

Tak lama kemudian beredar surat pemanggilan dari Direktur Kemahasiswaan kepada pihak-pihak yang terkait dengan unggahan BEM UI tersebut. Terang saja, netizen langsung berebut masuk gelanggang untuk ikut saling sambit argumen di media sosial.

***

“Piye iki, Cak, kok kita balik seperti zaman Orba. Mosok cuman bikin kritik seperti ini langsung dipanggil…” ujar Solikin dari atas motornya. Mahasiswa cum aktivis yang sudah hampir setahun ini pulang ke kampung gara-gara kampusnya tidak ada kuliah tatap muka itu, mendatangi Cak Narto yang sedang ngganthang murai batu di halaman rumah.

“Mbok kamu sini dulu, Kin, duduk, terus cerita yang jelas…” undang Cak Narto.

Solikin menurunkan penyangga motor, lantas mengeluarkan hape dari saku celananya, memperlihatkan kepceran surat panggilan dari Direktur Kemahasiswaan UI kepada anak-anak BEM UI itu.

“Ooo…hehe…” Cak Narto hanya terkekeh.

Baca Juga:

Isu Ijazah Jokowi Palsu Adalah Isu Goblok, Amat Tidak Penting, dan Menghina Kecerdasan, Lebih Baik Nggak Usah Digubris!

Rumah Pribadi Jokowi di Solo Memang Cocok Jadi Destinasi Wisata Baru

“Kok sampean ketawa sih, Cak? Ini kan bentuk represi kampus kepada kebebasan berekspresi. Lagian julukan King of Lips Service ini kan berdasarkan fakta-fakta, Cak,” sergah Solikin.

“Kamu tuh mbokya jangan kagetan gitu. Namanya politisi ya wajar kalau lips service. Wong Pak Jokowi tuh orang Jawa, dan orang Jawa sudah biasa itu dengan lips service. Statement abang-abang lambe gitu,” jawab Cak Narto tenang.

“Iya, aku paham, Cak, tapi kan beliau presiden. Nggak boleh dong bikin statement abang-abang lambe yang menyangkut hajat hidup rakyatnya. Harus tegas, to-the-point, dan konsisten, dong!” gugat Solikin.

“Kok rasa-rasanya bangsa kita belum siap kalau punya politisi dengan kriteria yang kamu sebutkan tadi. Kamu ingat apa yang terjadi dengan Ahok yang punya pola komunikasi blak-blakan gitu. Habis dia, Kin…” ujar Cak Narto sambil menuangkan teh dari ceret ke gelas di hadapan Solikin.

“Ya tapi kan tidak perlu ngomong kasar di hadapan media. Ketegasan kan bisa disampaikan dengan santun, Cak…” jawab Solikin seiring sruputan teh.

“Gini lho, Kin. Apa yang dilakukan Pak Jokowi itu merupakan bentuk pola komunikasi yang diracik dari kombinasi gaya bertutur presiden-presiden sebelumnya. Pak Jokowi nggak bakalan bisa marah-marah dan memaki ala Ahok di depan sorotan kamera karena selain bertolak belakang dengan sopan santun ketimuran juga gaya seperti itu kontra-produktif. Jadi jangan kaget kalau ke depan kita akan punya pejabat yang selalu ngasih lips service, abang-abang lambe, basa-basi. Karena rakyat Indonesia masih belum siap dengan ketelanjangan kata-kata…” jelas Cak Narto.

“Lho, kok jadi rakyat lagi yang salah, Cak. Nggak bisa gitu, dong. Julukan tadi itu kan disematkan semata untuk mempertanyakan konsistensi beliau atas pernyataan-pernyataan beliau, Cak. Karena banyak yang tidak terwujud dan bahkan banyak juga yang bertentangan,” balas Solikin.

“Aku nggak menyalahkan siapa-siapa, Kin. Maksudku itu jangan kagetan gitu. Lips service itu hal yang lumrah dalam politik kita. Seorang pemimpin yang berangkat dari masyarakat yang penuh basa-basi niscaya juga akan berbasa-basi ketika memimpin. Wong beliau yang penuh kesantunan dan basa-basi sejak awal menjabat saja toh nyatanya kita pilih lagi jadi presiden, kan? Hehehe…”

Solikin hanya mengangguk mendengar penjelasan Cak Narto itu.

“Tapi aku betul-betul kasihan, Cak. Ini temen-temen BEM UI sudah dipanggil sama rektorat. Sudahlah diolok-olok sama dosen sendiri di ruang publik, dituduh masuk UI-nya nyogok, sekarang dipanggil lagi oleh rektorat.”

“Lho… sudah dibilang jangan kagetan, kok. Itu pak dosen yang ngolok dan nuduh mahasiswanya sendiri kan sedang berusaha stay relevant, Kin. Pun dengan rektoratnya. Caper saja itu.”

“Maksudnya, Cak?”

“Menjadi dosen di UI itu bukan profesi semata, Kin, tapi bisa jadi portofolio bagi para oportunis untuk dapat posisi-posisi strategis dalam peta politik di Indonesia, jadi komisaris BUMN, misalnya. Maka jangan kaget kalau tingkah polah dosen itu tadi nyeleneh dan tidak mencerminkan pribadi seorang dosen yang seharusnya kritis dan bestari. Karena sudah terbukti, di Indonesia menjadi kontroversial adalah cara ampuh untuk mendapatkan perhatian dari para pembesar. Selain menjilat tentunya. Dihujat netijen satu dua minggu nggak apa-apa, lah kalau habis itu jadi komisaris, toh. Hehehe.”

“Wis tah la… pokoke jangan kagetan. Apalagi sampai mengganggu pikiranmu. Nggak bagus buat imun badan. Kita ini, di desa begini, sudahlah dipontang-panting kebijakan plin-plan di masa corona, masih juga disuguhi sirkus politik di Jakarta. Hambok tambah mumet kalau dimasukin hati. Udah nggak usah dipikir. Ini teh manis bukan abang-abang lambe lho, Kin…beneran ini,” ujar Cak Narto sembari menuangkan lagi segelas teh manis untuk Solikin.

***

Langit sangat cerah hari ini. Udara sejuk menggoyang ranting pohon kelor di halaman rumah Cak Narto. Dari dalam rumah Cak Narto lantang terdengar “Basa-Basi” dari Gugun Blues Shelter.

Apa jadinya negri ini

Jika harus berbasa-basi

Yang kumau kepastian

Dari dulu hingga sekarang, em

Setiap hari kulihat TV

Banyak orang berbasa-basi

Entah mengapa ini terjadi

Mungkin hidup harus begini, yeah….

BACA JUGA Ribetnya Punya Dosen Terkenal, tapi Suka Bikin Statement Aneh di Medsos dan tulisan Suwatno lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2021 oleh

Tags: BEM UIJokowiLips ServicePojok Tubir Terminal
Suwatno

Suwatno

Penulis adalah bapak (muda) dengan tiga orang anak. Tinggal di Palangka Raya.

ArtikelTerkait

Burgerkill

Bangga Menjadi Fan Burgerkill di Tengah Aksi Mahasiswa

3 Oktober 2019
jasa cetak kartu vaksin mojok

Jasa Cetak Kartu Vaksin Adalah Penegasan Indonesia Payah Soal Digitalisasi

14 Agustus 2021

Tolong, Jangan Suuzan sama Mahasiswa yang Ngerjain Skripsi di Coffee Shop

1 Juni 2021
Nas Daily Dikecam Adalah Kabar Baik, Saatnya Kita Menuntut Etika dari para Influencer! terminal mojok.co

Nas Daily Dikecam Adalah Kabar Baik, Saatnya Kita Menuntut Etika dari para Influencer!

9 Agustus 2021
Prabowo yang Lebih Sakti dari Ridwan Kamil, Ma'ruf Amin, TGB, dan Ustaz Yusuf Mansyur

Prabowo yang Lebih Sakti dari Ridwan Kamil, Ma’ruf Amin, TGB, dan Ustaz Yusuf Mansyur

5 November 2019
jokowi marahin menteri pandemi corona

Jokowi Marah Bersama Rakyat Indonesia: Sebuah Kolaborasi Mantap, Meskipun Terlambat

30 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.