Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Media Sosial

Anggapan LinkedIn Sosmed Toxic Hanyalah Kedok bagi Mereka yang Nggak Siap Menghadapi Dunia Profesional

Muhammad Iqbal Habiburrohim oleh Muhammad Iqbal Habiburrohim
8 Agustus 2024
A A
Anggapan LinkedIn Sosmed Toxic Hanyalah Kedok bagi Mereka yang Nggak Siap Menghadapi Dunia Profesional Mojok.co

Anggapan LinkedIn Sosmed Toxic Hanyalah Kedok bagi Mereka yang Nggak Siap Menghadapi Dunia Profesional (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Setelah membaca tulisan milik Mas Rully Novrianto di Terminal Mojok berjudul Bukan TikTok Atau X, Platform Media Sosial Paling Toxic Adalah LinkedIn, saya langsung mengernyitkan dahi. Kebingungan  mencuat setelah membaca keseluruhan tulisan, dimana saya nggak bisa menemukan satupun poin yang membuat LinkedIn menjadi sosial media yang toxic. Oiya, saya sama sekali nggak ada masalah personal dengan Mas Rully Novrianto ya, hanya saja menurut saya ada beberapa hal yang ingin saya komentari saja dari tulisan beliau.

Sebelumnya membahasnya lebih lanjut, saya ingin memberi konteks, memang banyak guyonan yang berseliweran di sosial media tentang LinkedIn. Guyonan yang paling populer ya “Jangan lupa siapkan mental ketika membuka LinkedIn”. Media sosial ini memang kerap diasosiasikan dengan banyaknya pencapaian wow dari orang lain. Namun, saya baru tahu ada orang yang menganggap serius hal itu. Hadehhh, sepertinya bukan sosial medianya yang salah, kalian saja yang lemah dan nggak siap menghadapi dunia kerja. 

Kenapa sampai tersinggung dengan pencapaian orang lain?

Sebelumnya saya hanya cuma ingin mengingatkan bahwa LinkedIn memang sosial media yang dibuat untuk “branding diri” dalam dunia profesional. Nah, berdasarkan peruntukannya saja, seharusnya kita sudah aware bahwa memang isi postingan dan timeline yang akan muncul berkaitan dengan portofolio, kisah inspiratif, sampai pencapaian-pencapaian orang lain.

Jadi, ketika ada orang yang merasa terganggu saat melihat orang lain tak dikenal membagikan pencapaiannya ya menjadi aneh. Entah teman atau bukan, orang lain tentunya berhak membagikan pencapaian apapun dan sekecil apapun untuk branding dirinya sendiri. Justru aneh rasanya jika ada orang yang tersinggung dengan pencapaian orang lain yang tak dikenal hanya karena merasa ceritanya remeh, terasa nggak real, dan seolah-olah mengandung trik marketing. Ya, memang LinkedIn diciptakan untuk postingan seperti itu, bukan? Marketing juga termasuk ilmu penting lho~

Belum lagi, Mas Rully Novrianto menyampaikan kekesalannya karena merasa terdapat banyak postingan yang “too good to be true”. Kalau memang ada postingan semacam itu, saya rasa hal tersebut sama sekali nggak membuat sosial media ini menjadi toxic. Nah, kalau memang ceritanya real bagaimana? Sudah rugi karena marah-marah saat scroll timeline ditambah muncul prasangka tidak baik kepada orang yang nggak dikenal.

Mainnya kurang jauh

Argumen lain yang disampaikan pada tulisan tersebut menyatakan,  Mas Rully nggak menemukan nilai dari konten yang muncul di LinkedIn. Lagi-lagi saya dibuat bingung dengan argumen tersebut karena selama ini saya justru sangat terbantu dengan banyak konten di sini. Beberapa konten yang saya rutin baca antara lain mengenai tutorial aplikasi penunjang pekerjaan saya sampai perkembangan industri yang saya tekuni.

Di sisi lain, kita sendiri juga perlu memperlakukan sosial media sebagaimana ia diperuntukkan. Saya pikir, LinkedIn ini bukan tipe sosial media yang perlu dipantau setiap hari dengan cara kita melakukan scroll timeline seperti kita membuka Instagram atau Twitter. Saya saja membukanya paling dua hari sekali saat ingin mencari informasi. Penggunaan paling benar dari LinkedIn ya dengan tidak melakukan scroll timeline, melainkan mencari konten yang kita butuhkan. Kalau kita memposisikan LinkedIn seperti medsos lain yang isinya berantem online ya tentu salah besar. Bukan konten LinkedIn yang tidak bernilai, tapi mainnya saja yang kurang jauh. 

LinkedIn sosmed yang paling mending

Satu poin yang saya setujui dari tulisan Mas Rully hanya pada bagian akhir yaitu mengikuti konten berkualitas, mengurangi waktu scroll timeline, dan jangan baper dengan pencapaian orang lain. Hal yang paling saya garis bawahi ya mengurangi waktu konsumsi media sosial. Kalau mau dicari-cari, semua medsos nanti juga  berdampak buruk ketika kita terlalu lama menggunakannya

Baca Juga:

LinkedIn Bukan Aplikasi Toksik, Justru Kamu yang Harusnya Sadar Diri!

LinkedIn Adalah Aplikasi Paling Toksik yang Pernah Saya Gunakan, Ini 4 Alasannya!

Menurut saya, LinkedIn malah sosial media yang paling mending jika dibandingkan dengan yang lain. Di mana lagi saya bisa mendapatkan ilmu untuk peruntukkan dunia profesional dari para ahlinya dan dibagikan secara gratis? Belum lagi, di sini saya bisa mendapatkan informasi rekrutmen atau perkembangan suatu perusahaan yang dibahas dengan cukup formal dan runut.

Saya justru bingung bagaimana semua hal di atas bisa dikategorikan toxic? Menurut saya, membagikan pencapaian sekecil apapun di sini sah-sah saja toh  semua orang perlu membangun citra untuk dirinya sendiri. Cerita inspirasi yang dibumbui kebohongan juga nggak sampai menimbulkan kerugian apapun. Kalau dibandingkan dengan sosial media yang lain tentu LinkedIn masih jauh lebih mending dalam hal konten karena isinya lebih substansial dan sumbernya dari orang profesional. Lalu, toxic dari mananya, ya?

Penulis: Muhammad Iqbal Habiburrohim
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA LinkedIn, Mengubur Pencari Kerja dengan Rasa Insecure

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Agustus 2024 oleh

Tags: dunia kerjaLinkedInSosial Mediatoxic
Muhammad Iqbal Habiburrohim

Muhammad Iqbal Habiburrohim

Seorang lokal Yogyakarta yang menjalani hidup dengan rute yang dinamis. Berpindah dari satu koordinat ke koordinat lain demi tuntutan profesi, sembari merawat kewarasan dengan menumpahkan segala keluh kesah ke dalam barisan kata.

ArtikelTerkait

5 Dosa Jurusan Ekonomi yang Bikin Lulusannya Kagok di Dunia Kerja

5 Dosa Jurusan Ekonomi yang Bikin Lulusannya Kagok di Dunia Kerja

18 November 2025
Bukan TikTok Atau X, Platform Media Sosial Paling Toxic Adalah LinkedIn

Bukan TikTok Atau X, Platform Media Sosial Paling Toxic Adalah LinkedIn

7 Agustus 2024
Tips Menggunakan Linkedin Biar Keliatan Profesional dan Dihire Orang

Tips Menggunakan Linkedin Biar Keliatan Profesional dan Dihire Orang

31 Oktober 2019
Alasan Kantor Pemerintahan Adalah Tempat Magang Terbaik bagi Mahasiswa yang Ingin Coba Dunia Kerja Mojok.co

Alasan Kantor Pemerintahan Adalah Tempat Magang Terbaik bagi Mahasiswa yang Ingin Coba Dunia Kerja

14 Agustus 2025
tanda pagar twitter dengan latar merah muda

Sebelum Bikin Tagar, Hal Ini Penting Diketahui

3 Mei 2019
15 Rumus Excel yang Wajib Dikuasai dalam Dunia Kerja

15 Rumus Excel yang Wajib Dikuasai dalam Dunia Kerja

7 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

31 Januari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.