Saya sempat terkejut ketika mendengar teman saya, warga asli Surabaya, mengaku nggak doyan makan rawon. Menurut saya, itu aneh. Rasanya seperti bertemu arek Surabaya yang nggak bisa ngomong “Jancok, Koen!” dengan fasih dan intonasi yang tepat. Aneh kan?
Sebab, sebagaimana kata jancok dan Surabaya begitu melekat satu sama lain, rawon dan Surabaya pun juga saling membersamai. Maka, ketika mendengar teman asli Surabaya nggak suka rawon, rasanya begitu janggal.
Kok bisa ya makanan yang punya kondimen yang kompleks dengan cita rasa unik dan khas ini nggak disukai oleh warganya. Ada apa ini sebenarnya?
Baca juga 6 Dosa Penjual Rawon yang Sebaiknya Dihindari.
Alasan warlok Surabaya nggak suka rawon
Saya yang penasaran, kemudian menanyakan alasan mengapa teman saya ini tidak doyan dengan makanan ikonik berbahan dasar kluwek ini. Dan, ternyata apa yang diutarakannya cukup masuk akal.
Alasan pertama justru datang dari satu bahan baku yang jadi identitas dari rawon, yaitu kluwek. Padahal kita semua sepakat, tanpa kluwek, maka makanan itu tidak bisa disebut rawon.
Secara garis besar, kluwek memang memberi sesuatu yang khas, mulai dari warna yang gelap dan rasa yang gurih. Tapi, masalahnya, kluwek juga butuh proses pengolahan yang nggak sembarangan.
Sebab, ketika diolah dengan ala kadarnya, maka muncul rasa sedikit earthy, dan kadang menyisakan kesan pahit atau langu. Nah, teman saya dulu waktu kecil, beberapa kali dibelikan rawon, selalu apes mendapatkan rasa yang seperti itu. Rasa yang seperti itu meninggalkan aftertaste yang sudah dijelaskan. Bikin kapok.
Pengalaman itu lama kelamaan menciptakan rasa traumatik yang membuatnya enggan menjadikan rawon sebagai pilihan makanan. Bahkan, berangkat dari itu, teman saya pun alergi dengan aroma kluwek. Menurutnya, ketika tercium, bikin mual.
Baca juga Rawon Duta, Alasan Kuat Mengapa Harus Naik PO Eka.
Tampilan kurang menggoda
Alasan kedua adalah soal tampilan hitam pekatnya yang menurut teman saya tidak menggoda dan menggugah selera. Maksudnya, apa yang menarik dari makanan yang warnanya gelap?
Jadi semacam simbol makanan yang monoton, tak punya daya tarik, dan terkesan tak ingin dimakan. Menurut teman saya, kalau ibarat orang nih, rawon ini seperti seorang sales yang pakaiannya nggak rapi. Orang ngeliatnya udah nggak tertarik duluan.
Ditambah lagi, kuah yang berwarna hitam itu hadir bersamaan dengan trauma yang dialami teman saya. Maka, rawon ini jadi makanan yang sudahlah tidak ramah secara pengalaman, tidak ramah juga secara visual.
Kompisisi rawon dianggap tanggup
Alasan ketiga, komposisi rawon terasa tanggung sebagai makanan berat. Jadi rawon ini selain karena kluweknya, dia juga identik dengan daging sapi. Masalahnya, menurut teman saya, banyak warung rawon di Surabaya, tidak selalu memberikan irisan daging sapi yang setimpal dalam seporsi rawonnya. Sudah begitu harganya pun menurut teman saya mahal. Ya setidaknya Rp25.000 per porsi.
Dengan harga segitu, menurut teman saya, setidaknya daging yang dikasih jangan cuma secuil yang kesannya sekadar formalitas. Ada kalanya dia juga menjumpai rawon yang isinya bukan daging sapi, tapi gajih sapi. Benar-benar nggak masuk. Itu mengapa, kalau tidak kepepet banget, mending beli makanan lain yang lebih jelas komposisinya.
Banyak makanan lain yang lebih murah dan enak
Alasan terakhir soal mengapa teman saya nggak suka rawon adalah karena banyak makanan berkuah lain yang lebih murah, enak, segar, dan nggak nanggung. Contoh paling nyata adalah soto ayam, terutama soto Lamongan.
Di Surabaya, makanan ini lebih mudah ditemukan. Komposisi bahannya berangkat dari kondimen yang jelas dan familiar, rasanya ringan dan bersahabat, warnanya lebih cerah dan menggoda, aromanya yang menggugah selera, porsi dan dagingnya yang melimpah, dan cocok dimakan kapanpun karena harganya yang bersahabat. Yah hanya kisaran Rp15.000-Rp20.000 per porsi.
Soto tidak membuat teman saya harus memaksa diri berdamai dengan kluwek. Tidak perlu khawatir dengan aftertaste yang bikin trauma. Soto menawarkan keramahan yang lebih paten.Tentu dengan semua pertimbangan di atas, memilih rawon adalah kesian-sian.
Pada akhirnya, makanan adalah soal preferensi dan nggak ada yang salah dengan seseorang yang tidak doyan dengan rawon. Sebab harus diakui, rawon memang makanan yang segmented. Rasanya memang khas, karakternya kuat, tapi gak selalu cocok di semua lidah orang. Bahkan untuk warga asli Surabaya sekalipun.
Penulis: Muhaman Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 4 Kuliner Surabaya yang Ringan dan Manis, Bukti kalau Lidah Orang Surabaya Juga Suka Manis.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
