Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Tidak Semua Lidah Orang Surabaya Doyan Makan Rawon, Beberapa Ada yang Trauma dengan Alasan yang Masuk Akal

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
26 Mei 2026
A A
Teman Saya Orang Surabaya Nggak Suka Makan Rawon, dan Alasannya Masuk Akal Mojok.co

Teman Saya Orang Surabaya Nggak Suka Makan Rawon, dan Alasannya Masuk Akal (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya sempat terkejut ketika mendengar teman saya, warga asli Surabaya, mengaku nggak doyan makan rawon. Menurut saya, itu aneh. Rasanya seperti bertemu arek Surabaya yang nggak bisa ngomong “Jancok, Koen!” dengan fasih dan intonasi yang tepat. Aneh kan?

Sebab, sebagaimana kata jancok dan Surabaya begitu melekat satu sama lain, rawon dan Surabaya pun juga saling membersamai. Maka, ketika mendengar teman asli Surabaya nggak suka rawon, rasanya begitu janggal.

Kok bisa ya makanan yang punya kondimen yang kompleks dengan cita rasa unik dan khas ini nggak disukai oleh warganya. Ada apa ini sebenarnya?

Baca juga 6 Dosa Penjual Rawon yang Sebaiknya Dihindari.

Alasan warlok Surabaya nggak suka rawon

Saya yang penasaran, kemudian menanyakan alasan mengapa teman saya ini tidak doyan dengan makanan ikonik berbahan dasar kluwek ini. Dan, ternyata apa yang diutarakannya cukup masuk akal.

Alasan pertama justru datang dari satu bahan baku yang jadi identitas dari rawon, yaitu kluwek. Padahal kita semua sepakat, tanpa kluwek, maka makanan itu tidak bisa disebut rawon.

Secara garis besar, kluwek memang memberi sesuatu yang khas, mulai dari warna yang gelap dan rasa yang gurih. Tapi, masalahnya, kluwek juga butuh proses pengolahan yang nggak sembarangan.

Sebab, ketika diolah dengan ala kadarnya, maka muncul rasa sedikit earthy, dan kadang menyisakan kesan pahit atau langu. Nah, teman saya dulu waktu kecil, beberapa kali dibelikan rawon, selalu apes mendapatkan rasa yang seperti itu. Rasa yang seperti itu meninggalkan aftertaste yang sudah dijelaskan. Bikin kapok.

Baca Juga:

Makam Kembang Kuning, Solusi Healing di Tengah Keterbatasan Lahan Surabaya yang Bikin Pening

Hunian di Gresik dan Sidoarjo Memang Murah, Tapi Sulit Wira-wiri: Jauh ke Mana-Mana, Bikin Bosan dan Stres

Pengalaman itu lama kelamaan menciptakan rasa traumatik yang membuatnya enggan menjadikan rawon sebagai pilihan makanan. Bahkan, berangkat dari itu, teman saya pun alergi dengan aroma kluwek. Menurutnya, ketika tercium, bikin mual.

Baca juga Rawon Duta, Alasan Kuat Mengapa Harus Naik PO Eka.

Tampilan kurang menggoda

Alasan kedua adalah soal tampilan hitam pekatnya yang menurut teman saya tidak menggoda dan menggugah selera. Maksudnya, apa yang menarik dari makanan yang warnanya gelap? 

Jadi semacam simbol makanan yang monoton, tak punya daya tarik, dan terkesan tak ingin dimakan. Menurut teman saya, kalau ibarat orang nih, rawon ini seperti seorang sales yang pakaiannya nggak rapi. Orang ngeliatnya udah nggak tertarik duluan.

Ditambah lagi, kuah yang berwarna hitam itu hadir bersamaan dengan trauma yang dialami teman saya. Maka, rawon ini jadi makanan yang sudahlah tidak ramah secara pengalaman, tidak ramah juga secara visual.

Kompisisi rawon dianggap tanggup

Alasan ketiga, komposisi rawon terasa tanggung sebagai  makanan berat. Jadi rawon ini selain karena kluweknya, dia juga identik dengan daging sapi. Masalahnya, menurut teman saya, banyak warung rawon di Surabaya, tidak selalu memberikan irisan daging sapi yang setimpal dalam seporsi rawonnya. Sudah begitu harganya pun menurut teman saya mahal. Ya setidaknya Rp25.000 per porsi.

Dengan harga segitu, menurut teman saya, setidaknya daging yang dikasih jangan  cuma secuil yang kesannya sekadar formalitas. Ada kalanya dia juga menjumpai rawon yang isinya bukan daging sapi, tapi gajih sapi. Benar-benar nggak masuk. Itu mengapa, kalau tidak kepepet banget, mending beli makanan lain yang lebih jelas komposisinya. 

Banyak makanan lain yang lebih murah dan enak

Alasan terakhir soal mengapa teman saya nggak suka rawon adalah karena banyak makanan berkuah lain yang lebih murah, enak, segar, dan nggak nanggung. Contoh paling nyata adalah soto ayam, terutama soto Lamongan.

Di Surabaya, makanan ini lebih mudah ditemukan. Komposisi bahannya berangkat dari kondimen yang jelas dan familiar, rasanya ringan dan bersahabat, warnanya lebih cerah dan menggoda, aromanya yang menggugah selera, porsi dan dagingnya yang melimpah, dan cocok dimakan kapanpun karena harganya yang bersahabat. Yah hanya kisaran Rp15.000-Rp20.000 per porsi.

Soto tidak membuat teman saya harus memaksa diri berdamai dengan kluwek. Tidak perlu khawatir dengan aftertaste yang bikin trauma. Soto menawarkan keramahan yang lebih paten.Tentu dengan semua pertimbangan di atas, memilih rawon adalah kesian-sian.

Pada akhirnya, makanan adalah soal preferensi dan nggak ada yang salah dengan  seseorang yang tidak doyan dengan rawon. Sebab harus diakui, rawon memang makanan yang segmented. Rasanya memang khas, karakternya kuat, tapi gak selalu cocok di semua lidah orang. Bahkan untuk warga asli Surabaya sekalipun.

Penulis: Muhaman Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 4 Kuliner Surabaya yang Ringan dan Manis, Bukti kalau Lidah Orang Surabaya Juga Suka Manis.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Mei 2026 oleh

Tags: kuliner rawonkuliner surabayamakanan surabayaRawonSurabaya
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

4 Alasan Pakuwon Mall Surabaya Lebih Baik daripada Tunjungan Plaza

4 Alasan Pakuwon Mall Surabaya Lebih Baik daripada Tunjungan Plaza

3 November 2023
Review Wizzmie Surabaya, Saingan Mie Gacoan di Jagat Kuliner Mie Pedas

Review Wizzmie Surabaya, Saingan Mie Gacoan di Jagat Kuliner Mie Pedas

31 Oktober 2023
Jalan Ketintang Surabaya, Jalan Paling Problematik yang Pantas Dibenci Mojok.co

Jalan Ketintang Surabaya, Jalan Paling Problematik yang Pantas Dibenci

5 November 2023
Surat Terbuka untuk Pak Eri Cahyadi: Anak Muda Surabaya Butuh Perpustakaan 24 Jam, Pak!

Surat Terbuka untuk Pak Eri Cahyadi: Anak Muda Surabaya Butuh Perpustakaan 24 Jam, Pak!

16 Mei 2024
Bosan dengan Oleh-oleh Surabaya yang Itu-itu Aja Maison Feerie Adalah Jawabannya

Bosan dengan Oleh-oleh Surabaya yang Itu-itu Aja? Maison Feerie Adalah Jawabannya

19 Juli 2022
3 Jenis Kuliner Surabaya yang Selalu Berpasangan, Jomblo Auto Baper! terminal mojok

3 Jenis Kuliner Surabaya yang Selalu Berpasangan, Jomblo Dilarang Baper!

17 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

19 Mei 2026
Bukan Cuma Sambal yang Manis, Chinese Food di Jogja Juga Ikutan Jadi Manis

Bukan Cuma Sambal yang Manis, Chinese Food di Jogja Juga Ikutan Jadi Manis

20 Mei 2026
Dosa Tukang Servis Komputer yang Tak Banyak Diketahui Orang, Merasa Aman karena Masih Banyak yang Awam

Dosa Tukang Servis Komputer yang Tak Banyak Diketahui Orang, Merasa Aman karena Masih Banyak yang Awam

24 Mei 2026
Arsenal (Memang) Berhati Nyaman

Arsenal (Memang) Berhati Nyaman

20 Mei 2026
Sekolah Bukan Cuma Formalitas. Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah  

Sekolah Bukan Cuma Formalitas, Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah  

25 Mei 2026
Saya Pernah Kesal karena Dosen Slow Respon WA, Sampai Akhirnya Jadi Dosen Mojok.co

Pernah Benci Dosen yang Slow Respon Balas WhatsApp, Kini Saya Mengerti

22 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.