Saya sedang menikmati hari Minggu terakhir di bulan Ramadan ini, ketika saya menemukan tulisan di Terminal Mojok yang berjudul Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Lebih Pahit dari Obat Puyer. Awalnya, saya setuju saja dengan opini Bung Rizal, penulis artikel itu. Namun sayangnya, ia menutup tulisan tersebut dengan kesimpulan yang enggan saya amini.
“Fase pendewasaan menuntun kita untuk sadar bahwa banyak hal di dunia ini minim dengan makna.” Begitu tulisnya. Menurutnya, salah satu hal yang minim makna itu adalah Lebaran.
Disclaimer sedikit, cara pandang orang berbeda-beda itu wajar. Dan saya pun meyakini tidak ada cara pandang yang paling benar maupun paling salah.
Namun saya mau menawarkan sudut pandang lain dalam melihat Lebaran ketika sudah beranjak dewasa. Agar kita tidak begitu saja mengecap bahwa Lebaran itu membosankan gara-gara kita sudah outgrew dari hal tersebut.
Ketiadaan makna Lebaran bukan efek dari menjadi dewasa
Terkadang kita lupa bahwa makna itu tidak muncul begitu saja. Makna itu harus kita ciptakan sendiri dan kita sematkan pada hal-hal yang awalnya tidak bermakna.
Bagi saya, semakin dewasa, semakin penting untuk punya awareness akan hal ini. Kalau dalam perjalanan beranjak dewasa kita mengabaikan kemampuan untuk memberikan makna, kita akan kehilangan kendali atas rasa dalam hidup kita.
Terutama dalam konteks Lebaran yang kesannya repetitif dan hanya menggugurkan kewajiban tradisi. Tanpa kita secara aktif memberikan makna, wajar sekali lama-lama Lebaran jadi terasa membosankan.
Jadi, Lebaran membosankan itu bukan karena kita sudah dewasa. Tapi karena kita saja yang “malas” memperbarui makna Lebaran ketika makna yang sebelumnya sudah nggak relatable lagi.
Makna Lebaran jadi lebih variatif ketika kita dewasa
Ketika masih kecil, tanpa perlu berpikir panjang, hampir semua orang pasti sepakat Lebaran artinya seru-seruan. Entah seru-seruan main sama sepupu, atau seru karena dapet banyak THR dari om tante.
Ketika beranjak dewasa, memang hanya segelintir orang yang beruntung saja yang masih tetap akrab dengan sepupu. Jatah angpau THR pun berkurang drastis, malah sudah jadi giliran kita untuk memberikan THR.
Namun terlepas dari itu, kita bisa memaknai Lebaran dengan cara yang berbeda. Cara-cara yang lebih variatif lagi. Ketika kita sadar bahwa kita sebagai orang dewasa tuh punya free will, apa makna dari Lebaran itu bisa jadi luas sekali. Batasannya hanyalah pemikiran kita dan level ketidak-mageran kita untuk mewujudkannya.
Belakangan ini, makna Lebaran bagi saya adalah sibuk dalam keseruan marandang, alias membuat rendang. Selama tiga tahun terakhir, saya tidak lagi hanya menjadi penikmat rendang. Namun saya menjadi pembuatnya juga. Kenapa makna Lebaran berubah bagi saya baru dalam tiga tahun terakhir ini?
Jawabannya adalah, tiga tahun lalu nenek saya telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Dan membuat rendang sesuai resep beliau yang asli berdarah Minang adalah satu cara bagi saya untuk tetap terkoneksi dengan sosok yang saya rindukan.
Gapapa kalau Lebaran begitu-gitu saja, tapi jangan salahkan efek dari menjadi dewasa
Percayalah, saya bukannya nggak napak tanah. Saya tahu realitasnya memikirkan makna itu sulit ketika kita sudah begitu lelah sama tuntutan pekerjaan dan kewajiban pada keluarga.
Apalagi dalam dunia yang begitu cepat dan terlalu banyak disrupsi. Dalam kondisi seperti ini, siapa sih yang masih punya waktu dan kapasitas pikiran untuk mempertanyakan makna?
Namun kita harus selalu mengusahakan hari-hari yang bermakna itu. Terutama ketika Lebaran, hari yang pasti hadir paling tidak sekali setahun.
Soalnya tanpa makna, Lebaran dan hidup kita akan jadi hampa. Akan berlalu begitu saja dengan kita sebagai penonton, bukan pelaku.
Padahal, hidup itu harus lebih dari sekadarnya. Dan itu hanya bisa terjadi kalau kita mengambil peran sebagai pelaku. Kan katanya, kita “orang dewasa”. Artinya sudah harus bisa jadi pelaku dalam hidup sendiri dong.
Hidup itu cuma sekali. Lebaran pun hanya sekali-dua kali dalam setahun. Lebih baik diisi dengan gairah daripada menyerah dan mati rasa begitu saja, bukan?
Penulis: Karina Londy
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
