Larangan Bercadar dan Celana Cingkrang: Takut Tuh Sama Tuhan Bukan Sama Pakaian

Artikel

Avatar

Baru-baru ini, Menteri Agama Indonesia yang baru, bapak Fachrul Razi tengah mengkaji larangan bagi para ASN untuk mengenakan niqab atau cadar dan celana cingkrang . Kalau kata bapak menteri yang terhormat sih, “demi keamanan”gitu, makanya beliau mengeluarkan wacana tersebut. Apalagi beberapa waktu yang lalu, orang tercinta di Republik Indonesia, bapak Wiranto, baru saja mengalami penusukan oleh orang yang ber dresscode seperti itu.

Seperti biasa, pro kontra pun bermunculan dari masyarakat Indonesia hingga membuat gaduh media sosial—namanya juga orang Indonesia, suka buat gaduh medsos. Namun menurut saya pribadi wacana ini terlalu berlebihan dan semakin menegaskan bahwa masyarakat kita masih menyimpan ketakutan yang berlebihan akan simbol tertentu, khususnya simbol pakaian.

Memilih jenis pakaian yang dipakai sejatinya adalah hak dari tiap individu, mau berpakaian apa pun selama ia nyaman dan sesuai dengan tempat serta kondisi, nggak ada yang salah. Bukan cuma dari yang bercadar saja, kebebasan berpakaian juga berhak dimiliki bagi mereka yang muslim tapi tidak berhijab. Kalau memang tujuannya untuk mengingatkan, seharusnya tahu tempat dan bagaimana cara menyampaikannya. Tidak seenaknya saja.

Saya bersyukur hidup di lingkungan yang heterogen. Saya berteman baik dengan orang yang bercadar maupun dengan orang muslim yang tidak berhijab dan diantara mereka pun saling berteman baik tanpa saling memandang aneh satu sama lain.

Saya punya teman kuliah yang bercadar, tapi orangnya mah asik asik aja, tidak seberbahaya yang dibayangkan banyak orang kok. Dia termasuk orang yang mudah bersosialisasi meskipun bercadar. Dia mengatakan bahwa alasan nya bercadar murni menjalankan apa yang menurutnya benar dan bukan berarti cadar menghalanginya untuk bersosialisasi dengan orang lain.

Baca Juga:  Gus Dur dan Radikalisme dalam Kacamata Kemanusiaan

Saya pernah iseng bertanya kepadanya, apakah ia sering dianggap aneh di tempat umum, dengan santainya ia menjawab “entahlah, saya tidak pakai cadar pun pasti akan ada orang yang menganggap saya aneh, jadi bukan salah cadar saya, mungkin saya nya yang aneh”.  Jawaban yang menurut saya menggelitik namun ada makna dalam yang tersembunyi.

Saya juga punya teman muslim yang tidak behijab, ia beralasan untuk saat ini ia belum siap untuk berhijab karena satu dan lain hal. Walaupun ia tidak berhijab, menurut saya untuk urusan ibadah, ia tidak kalah dengan wanita yang berhijab. Saat saya tanyakan hal yang sama, ia juga mengungkapkan hal yang sama, masih ada saja orang yang menganggap ia aneh karena ia muslim tapi tidak berhijab, bahkan pernah suatu saat ingin shalat, ia sempat dihentikan beberapa warga lokal karena dianggap non muslim yang hanya mampir kencing disana.

Pertanyaan terbesarnya adalah, kalau yang nggak berhijab dan yang bercadar aja dianggap aneh? Terus yang bener itu gimana? Berhenti meng-kotak-kan manusia berdasarkan apa yang mereka kenakan. Iya memang beberapa dari mereka seperti itu, tapi hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menyamaratakan mereka semua. Dua kasus diatas menunjukkan bahwa mau berpenampilan seperti apapun kita, akan ada orang lain yang menganggap itu aneh, jadi bukan salah pakaiannya, tapi salah orang lain yang melihat kita aneh. Memangnya apa bedanya kita dengan mereka? Sama-sama manusia kan?

Entah mengapa, masyarakat Indonesia masih gemar menilai orang hanya dari jenis pakaiannya saja. Mereka yang bercadar dianggap teroris, mereka yang pakai celana cingkrang dianggap HTI, mereka yang pakai Jeans dianggap sebagai penjahat, dan mereka yang pakai rok pendek dianggap liberal.

Baca Juga:  Sudahi Ramai Menag RI, Ini Upaya Pak Jokowi Biar Nggak Monoton

Padahal itu kan cuma Fashion dari seseorang. Apakah mereka yang pakai celana cingkrang sudah pasti HTI? Bisa saja kan mereka waktu beli celana di Olshop salah ukuran makanya cingkrang. Dan apakah yang pakai Jeans itu penjahat? Dilan yang pakai jeans aja tetap diidolakan wanita seluruh Indonesia kok.

Berhentilah menyalahkan pakaian seseorang, baik itu bercadar ataupun yang tidak berhijab sekalipun. Itu hak masing-masing individu mau berpenampilan seperti apa, toh selama apa yang mereka kenakan tidak mengganggu hidup orang lain, kenapa harus dilarang? Jangan sok jadi Ivan Gunawan deh, dikit-dikit komen penampilan orang.

Daripada sibuk membuat peraturan-peraturan soal bagaimana rakyat harus berpenampilan, lebih baik pemerintah lebih menaruh fokus kepada upaya sosialisasi serta pencegahan terkait liberalisme, komunisme, khilafah atau apapun itu. Daripada mengatur cara berpakaian orang-orang, saya punya saran nih pak menteri, apa nggak sekalian dibuat dresscode aja? Biar kelihatan kompak gitu.

BACA JUGA Lah Kocak, Menumpas Radikalisme Kok Pakai Aturan Jangan Bercadar Dan Bercelana Cingkrang atau tulisan Nurul Arrijal Fahmi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
19


Komentar

Comments are closed.