Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Labuan Bajo Wisata Super Prioritas: Pada Akhirnya, Kita Memang Tidak Bisa Makan Uang

Taufik oleh Taufik
13 Desember 2022
A A
Labuan Bajo Wisata Super Prioritas: Pada Akhirnya, Kita Memang Tidak Bisa Makan Uang

Labuan Bajo Wisata Super Prioritas: Pada Akhirnya, Kita Memang Tidak Bisa Makan Uang (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pada 21 Juli 2022 lalu, situs website Sekretariat Kabinet Republik Indonesia memposting sebuah artikel tentang keseriusan pemerintahan dalam mengembangkan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super prioritas (DWSP). Melalui pernyataan Presiden Jokowi, setidaknya ada 3 poin penting yang ingin dijadikan target untuk segera terealisasi di Labuan Bajo.

Yang pertama adalah pembangunan dan perbaikan infrastruktur yang tujuan realistisnya adalah kunjungan 1 juta wisatawan ke Labuan Bajo. Lalu, yang kedua adalah hal-hal yang mendukung terealisasinya poin pertama, terutama terkait pemeliharaan kawasan Labuan Bajo, yang dalam hal ini menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintahan pusat, kementerian pariwisata dan pemerintahan daerah, dari mulai gubernur sampai bupati.

Lalu poin ketiga, terkait dengan alternatif tempat wisata untuk wisatawan yang tidak mampu atau tidak bisa mengunjungi Pulau Komodo, tapi ingin melihat komodo. Intinya, karena komodo sebagai salah satu warisan dunia yang sekaligus tujuan wisata itu terdapat di dua tempat (Pulau Komodo dan Pulau Rinca) yang dalam hal ini punya dua alternatif biaya masuk, maka wisatawan boleh memilih salah satu di antaranya, yang tentu saja disesuaikan dengan budget mereka masing-masing.

Sebagai manusia yang (bisa dibilang) pernah sangat jauh dari Jakarta dan peradaban Pulau Jawa yang (katanya) maju itu, membaca rilis resmi dari sekretariat kabinet dengan kualitas seperti itu sungguh membuat saya miris. Apalagi tiga poin penting itu menjadi instruksi presiden secara langsung.

Saya sendiri tidak masalah dengan pembangunan infrastruktur yang memadai di Labuan Bajo. Itu adalah cita-cita banyak daerah dan wilayah di Indonesia yang sekiranya jauh jangkauan pembangunan. Akan lebih baik jika hal yang sama menjadi prioritas di semua daerah di Indonesia timur, walau secara “pasar” tidak memiliki value besar layaknya Labuan Bajo dan terutama Pulau Komodo.

Saya juga tidak mempermasalahkan pernyataan mengenai tanggung jawab bersama pemerintah (dari pusat sampai daerah) terkait pemeliharaan kawasan wisata di Labuan Bajo. Lebih-lebih lagi, saya tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan tiket untuk tempat tertentu di kawasan wisata prioritas. Semua yang dianggap punya nilai penting, boleh banget diberi nilai plus, termasuk harga tiket.

Yang menjadi concern saya dari ketiga hal yang disampaikan Pak Jokowi tersebut adalah keberadaan masyarakat Labuan Bajo ditempatkan. Secara kasat mata kita bisa melihat tiga kebijakan tersebut berorientasi pada wisatawan, kepada pengunjung. Masyarakat Labuan Bajo sendiri seperti menjadi unsur yang tidak dipikirkan. Padahal, ketika kebijakan tersebut nantinya diberlakukan, masyarakat Labuan Bajo lah yang akan langsung menerima dampaknya. Terutama dampak ekologis. Turis dan wisatawan mah, datang ke Labuan Bajo untuk liburan, mentok-mentok juga seminggu doang di sana.

Kebijakan berdasarkan kacamata pembangunan yang Jawa Sentris dan Jakarta Sentris semacam ini seperti sudah menjadi kebiasaan yang (harus) dilakukan pemerintahan pusat, yang sayangnya, sudah terjadi sekian waktu. Padahal, jika kita berkaca secara serius, jenis pembangunan dan rencana pemeliharaan infrastruktur yang selalu berorientasi pedagang (penjual-pembeli) inilah sebenarnya ancaman nyata ketidakmerataan pembangunan.

Baca Juga:

7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup

Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi

Kembali ke pokok masalah, pembangunan dan rencana pemeliharaan wisata di Labuan Bajo, terutama di kawasan wisata Pulau Komodo sebenarnya sudah mendapat penolakan dari banyak sekali pihak. Aktivis lingkungan terlebih dahulu sudah menyatakan sikap. Lalu masyarakat sekitar juga ikut bersuara. Bahkan sekelas UNESCO, badan dunia untuk urusan ilmu pengetahuan dan kebudayaan turun tangan. Toh, pemerintah masih tidak bergeming.

Begini, okelah jika sikap aktivis tidak diindahkan oleh pemerintah terkait Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Saya sendiri sudah sangat maklum. Bukan apa-apa, suara aktivis ini menjadi semacam suara sumbang bagi pemerintahan, yang kadang tidak sekedar tidak didengar, tapi seringnya malah dibungkam. Juga gregetannya UNESCO yang berharap Pemerintah Indonesia tidak mengubah lanskap ekosistem yang sudah bertahan sejak dulu itu juga boleh saja tidak digubris.

Namun, bicara masyarakat setempat yang menolak tentu harus disikapi dengan bijaksana. Bagaimanapun juga, masyarakat setempat adalah tuan rumah. Dan apa-apa yang dikeluhkan tuan rumah, sebaiknya menjadi konsern pemerintah.

Masyarakat setempat adalah yang paham proses panjang komodo berevolusi menjadi warisan dunia seperti sekarang ini. Hal itu bahkan diturunkan menjadi legenda masyarakat sekitar yang menyebut komodo sebagai buah hati sepasang suami istri (manusia). Pasangan tersebut memiliki anak kembar, satu berwujud manusia, yang lainnya berwujud komodo. Sedikit legenda ini saja. jelas sekali bahwa komodo adalah bagian penting peradaban turun-temurun Pulau Komodo, atau Labuan Bajo secara umum.

Pada akhirnya, saya sendiri menganggap, langkah pemerintah pusat mendikte Labuan Bajo dan Pulau Komodo secara sepihak tanpa memberikan hak suara masyarakat setempat untuk sekadar bertanya tentang nasib mereka ke depan adalah kesalahan fatal.

***

Saya pernah melihat kata-kata ini, yang saya coba lacak sumbernya, dan mengarah pada Alanis Obomsawin, bunyinya seperti ini:

“When the last tree is cut, the last river poisoned, and the last fish dead, we will discover that we can’t eat money.”

Kata-kata ini, sepertinya terlihat amat tak masuk akal. Kita memang tak bisa makan uang, tapi kita bisa beli makan dengan uang. Tapi, beberapa tahun ke depan, coba tanya ke warga Labuan Bajo yang tersingkir karena pembangunan. Raut wajah mereka pasti akan berubah mendengar kata ini.

Penulis: Taufik
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Nggak Bisa Memilih yang Terbaik tapi Komodo Bisa Cegah yang Terburuk Berkuasa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 Desember 2022 oleh

Tags: infrastrukturlabuan bajopembangunantubir-mjkwargawisata
Taufik

Taufik

Ide adalah ledakan!

ArtikelTerkait

Kenapa Turis Indonesia Lebih Sibuk Berbelanja dan Berfoto Ria daripada Turis Eropa Terminal Mojok

Kenapa Turis Indonesia Lebih Sibuk Berbelanja dan Berfoto Ria daripada Turis Eropa?

2 Desember 2022
Historical Walking Tour, Upaya Membumikan Sejarah Kota lewat Trip Kekinian

Historical Walking Tour, Upaya Membumikan Sejarah Kota lewat Trip Kekinian

7 Juli 2022
4 Destinasi Wisata di Sukabumi yang Patut Kamu Kunjungi terminal mojok

4 Destinasi Wisata di Sukabumi yang Patut Kamu Kunjungi

19 Desember 2021
5 Kesalahan yang Saya Lakukan Saat Liburan ke Labuan Bajo, Saya Tulis agar Kalian Nggak Melakukan Hal Sama

5 Kesalahan yang Saya Lakukan Saat Liburan ke Labuan Bajo, Saya Tulis agar Kalian Nggak Melakukan Hal Sama

19 Mei 2025
Kabupaten Sidoarjo Nggak Lagi Jadi Kabupaten Autopilot, Sekarang Progresif, Bos!

Kabupaten Sidoarjo Nggak Lagi Jadi Kabupaten Autopilot, Sekarang Progresif, Bos!

30 Januari 2024
Bumiaji Kota Batu Memang Nyaman Dijadikan Tempat Tinggal, Asal Bisa Berdamai dengan Sisi Gelapnya Mojok.co

Bumiaji Kota Batu Memang Nyaman Dijadikan Tempat Tinggal, Asal Bisa Berdamai dengan Sisi Gelapnya

21 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

20 Februari 2026
Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang Mojok.co

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

23 Februari 2026
Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

26 Februari 2026
Al Waqiah, Surah Favorit Bikin Tenang Meski Kehilangan Uang (Unsplash)

Al Waqiah, Surah Favorit yang Membuat Saya Lebih Tenang Meski Kehilangan Uang

20 Februari 2026
Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

25 Februari 2026
9 Kasta Tertinggi Takjil yang Paling Sering Diperebutkan Pembeli Mojok.co

9 Kasta Tertinggi Takjil yang Paling Sering Diperebutkan Pembeli

22 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”
  • Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya
  • Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.