Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Kuliah di UIN Dipandang Sebelah Mata, Ditambah Ambil Jurusan Nggak Populer Jadi  Makin Menderita

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
16 April 2026
A A
Kuliah di UIN Dipandang Sebelah Mata, Ditambah Ambil Jurusan Nggak Populer Jadi  Makin Menderita Mojok.co

Kuliah di UIN Dipandang Sebelah Mata, Ditambah Ambil Jurusan Nggak Populer Jadi  Makin Menderita (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya punya kawan yang kuliah UIN. Waktu dia pertama kali cerita soal jurusan kuliahnya, saya hanya mengangguk-angguk paham. Tapi, sejujurnya saya nggak menangkap apapun yang dia katakan. Jangan menghakimi dahulu, saya yakin kalian juga akan bingung dengan jurusan kawan saya ini. Dia kuliah di UIN jurusan Perbandingan Mazhab. 

Bagi orang yang asing dengan kampus Islam seperti UIN, jurusan ini pasti terdengar asing. Kawan saya secara singkat menjelaskan, jurusannya mempelajari perbandingan hukum Islam dari berbagai mahzab, sejarah pemikiran fiqih, hingga dinamika hukum dan perspektif keislaman. 

Yang membuat saya makin heran, kawan saya ini menyandang gelar S.H. seperti sarjana hukum setelah lulus. Jadi dengan percaya diri saya langsung berkata, “Berarti nanti bisa jadi notaris dong?” Teman saya hanya tertawa kecil lalu menjelaskan gelarnya tidak sesederhana itu. 

Masalah muncul saat melamar kerja

Di banyak kampus umum, gelar S.H. identik dengan lulusan hukum yang bisa melanjutkan profesi seperti advokat, jaksa, hakim, atau notaris. Karena itulah saya mengira jalur karier kawan saya ini akan jelas. Namun, ternyata jurusan Perbandingan Mazhab UIN jauh berbeda dengan sarjana hukum pada umumnya.

Walaupun sama-sama mempelajari hukum, fokus jurusan Perbandingan Mahzab lebih kepada hukum Islam secara akademik dan keilmuan, bukan hukum positif negara yang menjadi syarat profesi hukum formal. Artinya, untuk menjadi notaris atau profesi hukum tertentu, ada jalur tambahan yang tidak otomatis terbuka.

Di situlah saya mulai memahami satu realita yang jarang dibicarakan: tidak semua gelar dengan nama sama memiliki peluang kerja yang sama.

Masalah terbesar justru datang setelah lulus. Ketika teman saya mulai mencari pekerjaan, dia menemukan kenyataan yang cukup menyakitkan. Banyak lowongan kerja meminta lulusan “S1 Hukum”, tetapi ketika ia melamar, HR sering bertanya ulang soal jurusannya.

Beberapa bahkan berkata jujur, “jurusan ini masuk kategori apa ya?” Ada pula sistem rekrutmen online yang tidak menyediakan pilihan jurusan Perbandingan Mazhab dalam daftar pendidikan. Akibatnya, dia harus memilih opsi lain yang paling mendekati, meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya sesuai.

Baca Juga:

Lulusan UIN Sulit Cari Kerja Itu Mitos, Kenyataan Membuktikan Sebaliknya!

Nekat Gap Year demi Jurusan Manajemen. Sempat Bingung, Kini Bersyukur karena Bisa Kuliah di Tempat Idaman, Lulus Tepat Waktu, dan Dapat Kerja Layak

Bayangkan rasanya. Sudah kuliah bertahun-tahun, skripsi selesai, wisuda berjalan lancar, tapi saat masuk dunia kerja justru merasa seperti jurusannya tidak dikenal.

Sebenarnya Perbandingan Mazhab bukanlah jurusan yang tidak penting. Secara akademik, bidang ini memiliki nilai besar dalam kajian hukum Islam, penelitian keagamaan, pendidikan, hingga pengembangan pemikiran fiqih kontemporer.

Masalahnya bukan pada ilmunya. Masalahnya ada pada kesenjangan antara dunia akademik dan kebutuhan industri kerja modern. Banyak perusahaan, lembaga swasta, bahkan instansi formal masih menggunakan klasifikasi jurusan yang sempit. Mereka lebih familiar dengan label umum seperti Hukum, Manajemen, Akuntansi, atau Teknik.

Ketika bertemu jurusan spesifik dari kampus berbasis keagamaan, sistem rekrutmen sering tidak siap mengakomodasi. Akhirnya, lulusan harus bekerja ekstra keras menjelaskan kompetensinya sendiri.

Dilema lulusan UIN

Fenomena ini sebenarnya cukup sering dialami mahasiswa UIN yang mengambil jurusan-jurusan spesifik. Saat masuk kuliah, banyak yang memilih jurusan karena minat, nilai idealisme, atau ketertarikan pada ilmu agama. Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun, realitas dunia kerja sering menuntut sesuatu yang berbeda: kesesuaian administrasi. Bukan soal pintar atau tidak. Bukan soal kemampuan akademik. Kadang hanya soal nama jurusan yang tidak tercantum di sistem. Dan hal kecil itu bisa menentukan apakah lamaran diproses atau langsung tersingkir.

Teman saya sempat berkata kepada saya bahwa dia tidak menyesal memilih jurusan itu di UIN. Dia tetap bangga dengan ilmu yang dipelajari. Ia memahami hukum Islam secara mendalam, sesuatu yang tidak semua orang miliki.

Akan tetapi, dia mengakui satu hal: andai dulu informasi prospek kerja dijelaskan lebih terbuka, mungkin dia akan menyiapkan strategi karier sejak awal. Karena kenyataannya, banyak mahasiswa baru memilih jurusan tanpa benar-benar memahami konsekuensi setelah lulus.

Saat SMA, fokusnya hanya “yang penting kuliah”. Padahal pertanyaan sebenarnya baru muncul setelah wisuda mau kerja di mana?

Pelajaran yang sering terlambat disadari

Kisah kawan saya ini membuat sadar bahwa memilih jurusan bukan sekadar soal masuk kampus favorit. Ada hal lain yang perlu dipikirkan sejak awal: relevansi dengan dunia kerja.

Bukan berarti jurusan langka itu salah. Dunia akademik tetap membutuhkan bidang-bidang spesifik. Tapi, mahasiswa juga perlu strategi tambahan, seperti mengambil sertifikasi, memperluas skill umum, atau membuka peluang karier alternatif. Karena di zaman sekarang, ijazah saja sering tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menerjemahkan ilmu menjadi kompetensi yang dipahami dunia kerja. 

Pada akhirnya, ini bukan tentang menyalahkan kampus atau jurusan tertentu. UIN tetap menjadi tempat lahirnya banyak intelektual hebat. Masalahnya lebih besar dari itu dunia kerja Indonesia belum sepenuhnya mengenali keberagaman disiplin ilmu. Selama sistem rekrutmen masih berfokus pada label jurusan, lulusan dari bidang unik akan terus menghadapi tantangan yang sama.

Dan, mungkin inilah derita yang jarang terlihat. Bukan karena salah memilih jalan. Bukan karena tidak kompeten. Tetapi karena jurusannya terlalu spesifik hingga dunia kerja belum siap mengenalnya. Sementara bagi teman saya, perjalanan masih panjang.

Ia tidak lagi berharap dunia langsung memahami jurusannya. Kini ia justru belajar menjelaskan dirinya sendiri bahwa di balik nama jurusan yang terdengar asing, ada ilmu, kemampuan, dan potensi yang sebenarnya tidak kalah penting.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Latihan Ujian CPNS Bikin Kena Mental karena Soal-soal TWK yang Absurd.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 April 2026 oleh

Tags: jurusan kuliahJurusan Perbandingan Mazhabjurusan UINperguruan tinggi negeriptnsekolah keislamanUIN
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

5 Kejadian Luar Biasa yang Bikin Ospek UIN Gempar dan Viral, Ada Apa dengan UIN (yang Sekarang)?

5 Kejadian Luar Biasa yang Bikin Ospek UIN Gempar dan Viral, Ada Apa dengan UIN (yang Sekarang)?

10 September 2023
Universitas Terbaik di Jambi, Bisa Jadi Pilihan bagi Warga Jambi yang Enggan Merantau ke Jawa Mojok.co

Universitas Terbaik di Jambi, Bisa Jadi Pilihan bagi Warga Jambi yang Enggan Merantau ke Jawa

30 Oktober 2023
UIN Bandung Nggak Mencetak Mahasiswa, tapi Survivor (Unsplash)

Kuliah di UIN Bandung: Ekspektasi Mau kayak Dilan 1990 Realitanya Malah Kaya Mad Max Fury Road

27 November 2025
Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas Terminal

Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas

8 Mei 2026
Mitos Mahasiswa UIN yang Telanjur Dipercaya Banyak Orang

Mitos Mahasiswa UIN yang Telanjur Dipercaya Banyak Orang

2 Februari 2024
pengumuman sbmptn

Buat yang Sedang Menunggu Pengumuman SBMPTN: Selamat Bergalau Ria

9 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Realitas Hidup Semarang yang Tidak Muncul di Brosur Wisata maupun Konten Perjalanan Mojok.co

5 Realitas Pahit Hidup di Semarang yang Tidak Muncul dalam Brosur

13 Juni 2026
40 Jam Disiksa Bus Putra Remaja dari Jogja Sampai Jambi (Unsplash)

Pengalaman Naik Bus Putra Remaja dari Jogja Menuju Jambi: Seni Bertahan Hidup Selama 40 Jam di Atas Kursi Rusak yang Menyiksa

16 Juni 2026
Pengendara Motor yang Menyalakan Lampu Hazard dan Kebut-kebutan di Jalan Raya Itu Punya Masalah Apa sih? Mojok.co

Menggugat para Pengendara yang Hobi Menyalakan Lampu Hazard Pas Hujan Deras: Anda Mau Aman atau Mau Bikin Pengendara Lain Masuk Jurang?

13 Juni 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar

Jogja Kota Pelajar Bukan Cuma Soal UGM, tapi Soal Standar Pendidikan dari SD yang Sudah Kompetitif

17 Juni 2026
Penderitaan Tinggal Dekat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet dan Berisik, Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan Terminal

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet, Berisik, dan Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan

12 Juni 2026
4 Alasan Rumah Madura Punya Teras Depan yang Luas (Wikimedia Commons)

4 Alasan Rumah di Madura Kebanyakan Punya Teras Depan yang Luas

17 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.