Tidak semua orang bisa meromantisasi masa kuliah. Boro-boro meromantisasinya, banyak orang bahkan tidak memiliki kesempatan itu. Mereka tidak bisa merasakan asyiknya aktif UKM atau organisasi hingga diskusi yang menggebu.
Bagi sebagian orang lain, yang tidak sempat kuliah secara konvensional dan memilih kuliah online, mengejar gelar pun jadi suatu proses yang terasa “sunyi”. Tanggung jawab kuliah lebih individual karena pembelajaran dilakukan secara mandiri. Mereka juga harus pandai membagi waktu dan energi untuk kuliah dan tanggung jawab lain yang tidak kenal kompromi. Misal, deadline pekerjaan hingga mengurus keluarga.
Pengalaman kuliah online jelas akan berbeda jauh dengan kuliah konvensional. Apakah itu buruk? Tentu tidak, kuliah konvensional dan online sama baiknya, itu semua sekadar menyesuaikan kebutuhan hidup masing-masing. Hanya saja, kuliah online menyadarkan saya akan terus bertahan di tengah kehidupan yang serba tidak ideal.
Bagi mereka yang hidupnya tidak selalu mulus, kuliah online bak kesempatan kedua
Banyak orang yang tumbuh dalam kondisi ideal mengira bahwa hidup itu serba linear dan tertata. Setelah tamat wajib pendidikan 9 tahun (SD-SMA), seseorang bisa langsung lanjut kuliah. Saat kuliah pun jadi mahasiswa sepenuhnya yang tidak harus ambil kerja sambilan sehingga sehingga bisa aktif di kampus. Bisa ikut berbagai UKM, organisasi, hingga diskusi menggebu. Setelah lulus kuliah barulah bekerja, menikah, membangun karier, dan capaian-capaian lainnya.
Sayangnya, bagi banyak orang lain, hidup itu penuh kejutan. Penuh hal tidak terduga yang membuat hidup tidak berjalan mulus, apalagi linear dan tertata. Ada yang harus menunda kuliah karena kondisi ekonomi. Tidak sedikit juga yang berhenti kuliah karena alasan keluarga. Ada pula yang baru berani memulai kuliah ketika usia dan waktu tak lagi muda.
Baca halaman selanjutnya: Di tengah …



















