Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Kuli Jawa: Rapi Hasilnya, walau Kerap Berisik Ketika Bekerja

Iqbal AR oleh Iqbal AR
6 Oktober 2022
A A
Kuli Jawa: Rapi Hasilnya Rapi, walau Kerap Berisik Ketika Bekerja rumah orang jawa

Kuli Jawa: Rapi Hasilnya Rapi, walau Kerap Berisik Ketika Bekerja (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jawa dan kuli. Dua hal ini adalah satu keterkaitan yang bisa dikatakan melegenda. Kalau kita bicara kuli, maka serahkan urusannya kepada orang Jawa. Ini sama halnya seperti keterkaitan antara tukang cukur dengan orang Garut, tukang tambal ban dan pengacara dengan orang Batak, atau Presiden dengan orang Jawa. Terlepas dari stereotip negatif yang kerap melekat, tapi inilah konstruksinya, inilah kenyataannya.

Bahkan, katanya Indonesia dibangun oleh kuli Jawa. Guyon ini, jangan spaneng gitu.

Terkait hubungan antara kuli dengan orang Jawa, kemunculannya tentu tidak ujug-ujug ada begitu saja. Ada sejarah yang cukup panjang tentang keterkaitan antara kuli dengan orang Jawa. Salah satu yang paling mudah kita telisik adalah soal pembangunan Jalan Raya Pos Daendels atau yang akrab kita sebut dengan Jalan Anyer-Panarukan. Nah, para pekerja yang membangun Jalan Raya Pos Daendels ini kebanyakan adalah orang Jawa.

Tentu saja tidak hanya membangun jalan raya, orang Jawa juga mempunyai keterampilan membangun bangunan. Ini didukung dengan beberapa daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang mempunyai keterampilan konstruksi lain. Sebut saja Jepara untuk urusan kayu-kayuan, Wonosobo dan Wonogiri untuk urusan batu-batuan, hingga Priangan untuk urusan keramik. Tak heran jika sebagian orang Jawa memutuskan untuk terjun di dunia perkulian ini, dan meyebar ke daerah-daerah lain.

Maka adalah sebuah hal yang wajar jika ke mana pun kita pergi dan tinggal, kuli-kuli yang ada di sekitar kita atau bahkan kuli yang ikut membangun/merenovasi rumah kita adalah orang Jawa. Namun, mengapa harus orang Jawa? Mengapa kita tidak hire kuli yang bukan orang Jawa? Jawabannya adalah kerjanya kuli Jawa itu bagus, dan hasilnya rapi. Sesederhana itu.

Kerja bagus, hasil rapi

Kalau kalian pernah meng-hire kuli Jawa untuk mengerjakan rumah/bangunan, pasti kalian akan mengamini hal ini. Iya, kuli Jawa itu mayoritas kerjanya bagus, dan hasilnya rapi. Meskipun orang Jawa itu terkesan lemah-lembut, kalem, tapi kalau urusan kerja, ya Insyaallah satset. Inilah yang saya alami ketika saya sedang merenovasi lantai dua rumah saya setahun lalu.

Saya ingin menambah ruangan di lantai dua rumah saya. Rencananya, ruangan tersebut salah satunya untuk saya jadikan kamar baru saya. Untuk itu, saya meminta bantuan kepada dua orang saudara saya sendiri yang memang sudah biasa membangun/merenovasi rumah. Sebelum mulai bekerja, dua saudara saya ini melihat-lihat dulu tempat yang akan mereka kerjakan, menghitung apa-apa saja yang dibutuhkan. Seperti survei, lah.

Sejak hari pertama kerja, sudah terlihat bagaimana kerapian cara kerja mereka. Mulai dari penempatan material dan perkakas, yang walau terdengar sepele, tapi sangat krusial. “Cangkul sama sekop taruh di dekat pasir sama semen, jangan dipindah-pindah! Terus palu, paku, tang, kawat, linggis, gergaji, taruh di satu tempat.” Begitu instruksi awal yang masih saya ingat.

Baca Juga:

Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang

Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto”

Soal apa yang harus dikerjakan pun juga sangat terencana. Dua orang saudara saya sudah menyusun apa saja yang harus dilakukan hari demi hari. Misalnya, hari pertama dan hari kedua khusus untuk membuka sisa pondasi, yang dilanjut dengan membuat rangka besi untuk sambungan pondasi. Kalau sudah selesai, hari selanjutnya baru melakukan hal yang lain. Memasang bata, ngaduk semen dan pasir, daln lain-lain. Saya yang kebetulan ikut membantu, jadi enak kerjanya, nggak bingung.

Mereka para kuli Jawa ini juga nggak banyak menuntut. Soal upah, makan, atau rokok misalnya. Asalkan disediakan satu atau dua rokok per orang dalam sehari, mereka pasti akan fokus kerjanya. Soal makan apalagi. Asalkan ada nasi, sayur, lauk, sambal, dan kerupuk selama dua kali sehari, itu sudah cukup bagi mereka. Nah kalau soal upah, berhubung saya minta bantuannya dari saudara sendiri, jadi bisa lebih enak sistemnya. Soal upah juga urusan menteri keuangan rumah (maksudnya ibu saya), jadi saya manut saja. Asal dibayar dengan pantas dan tidak lama turunnya, semuanya pasti aman.

Hasilnya? Puas banget. Nyaris tidak ada cacat di bangunan. Semuanya rapi, semuanya sesuai permintaan saya. Bahkan saudara saya bilang kalau ada apa-apa, atau kalau butuh ditambah ini itu, tinggal bilang saja. Dulur dewe, katanya.

Kuli Jawa dan musik yang kadang berisik

Meskipun kerjanya bagus dan hasilnya rapi, tapi ada satu celah di kuli Jawa yang agak mengganggu bagi sebagian orang. Iya, musik. “Memangnya apa hubungannya kuli Jawa dengan musik?” Lho, kuli Jawa (dan mungkin kuli-kuli dari daerah lain selain Jawa) itu kalau bekerja, sudah pasti harus dengan menyetel musik, dan biasanya yang disetel adalah musik dangdut, dengan volume yang keras.

Untungnya ini tidak terjadi ketika dua saudara saya merenovasi rumah saya. Namun, ini terjadi ketika tetangga saya (rumahnya berada tepat di timur rumah saya, hanya berjarak empat meter) sedang merenovasi rumah dan meng-hire kuli lain. Iya, sedari pagi sampai sore, kuli yang kerja di rumah tetangga saya memutar musik dangdut dengan volume keras yang suaranya sampai di rumah saya.

Saya tidak ada masalah dengan musik dangdut, bahkan saya suka banget dengan musik dangdut. Namun, kalau diputar kencang-kencang, ya tetap saja mengganggu. Masalahnya, di jam-jam pagi itu, biasanya saya sedang mengerjakan sesuatu yang butuh fokus. Sudah saya siasati dengan memakai earphone, tapi kadang juga masih tembus saking kerasnya. Ibu saya juga protes, karena kadang terganggu saat salat. Akhirnya, setelah kami protes secara langsung ke yang bersangkutan secara halus dan baik-baik, musik yang diputar sudah tidak terlalu kencang lagi. Bukan ingin memukul rata, tapi inilah yang saya alami.

Namun, terlepas dari itu semua, kita mungkin sepakat bahwa kuli Jawa ini memang ahlinya dalam urusan bangunan. Kerjanya bagus dan hasilnya rapi, itu sudah menjadi jaminan, asalkan hak mereka terpenuhi. Tidak masalah juga kalau mereka misalnya mau memutar musik yang agak kencang, asal kerjanya beres, bagus, hasilnya juga rapi. Saya sudah membuktikannya sendiri, kok. Pokoknya, urusan bangun-membangun, renov-merenov, serahkan pada ahlinya, yaitu kuli Jawa.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pengalaman Saya Menjadi Kuli Bangunan Selama Satu Hari

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2022 oleh

Tags: Jawakuli
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

bahasa jawa krama inggil syekh subakir jawa tumbal ki semar mojok

Sabda Palon, Sebuah Perjanjian Antara Syekh Subakir dengan Mbah Semar

24 Oktober 2020
Mengenal Simbolisasi Waktu yang Digunakan Masyarakat Jawa Tempo Dulu

Mengenal Simbolisasi Waktu yang Digunakan Masyarakat Jawa Tempo Dulu

24 April 2020
mengurangi nafsu belanja online shop ongkir paket jawa ke luar jawa mahal orang luar jawa tak dapat gratis ongkir mojok.co

Gratis Ongkir Belanja Online? Orang Luar Jawa Can’t Relate

18 Juli 2020
Orang Jawa Kaget, Masuk Tempat Wisata di Sulawesi Bisa Murah Meriah karena Minim Pungli Mojok.co

Orang Jawa Kaget, Masuk Tempat Wisata di Sulawesi Bisa Murah Meriah karena Minim Pungli

23 April 2025
anak muda jawa nasihat jawa ora ilok duduk di pintu mojok

Jangan Buat Anak Penasaran dengan Kata ‘Ora Ilok’

13 Mei 2020
Jangan Ajak Orang Sulawesi Makan Ini ketika di Jawa, Mereka Nggak Doyan Mojok.co

Jangan Ajak Orang Sulawesi Makan Ini ketika Kulineran di Jawa, Mereka Nggak Doyan

26 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.