Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kok Bisa ya Orang Percaya Konspirasi Microchip WHO, tapi Masih Pakai Smartphone?

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
9 Agustus 2020
A A
konspirasi microchip who vaksin virus corona mojok.co

konspirasi microchip who vaksin virus corona mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Ternyata, konspirasi seputar Covid-19 masih hangat diperbincangkan. Para penganut teori konspirasi ini mengajukan satu teori yang sebenarnya daur ulang. Saya sebut daur ulang karena teori ini sudah pernah digaungkan jauh sebelum Covid-19 menjadi momok. Teori tersebut adalah: vaksin corona adalah kedok WHO untuk menanamkan microchip ke tubuh manusia.

Jujur, membaca teori baru ini membuat saya bernostalgia. Saya pernah membaca (dan sempat percaya) teori ini sejak 10 tahun silam. Teori ini memandang microchip sebagai ancaman terhadap privasi kita. Kehidupan kita juga dikendalikan oleh microchip yang ditanam pada tubuh kita.

Padahal, tanpa ada microchip ini kita selalu “diawasi” dan “dikendalikan”. Terutama setiap menggunakan smartphone. Apa yang ditakutkan dari microchip itu telah kita alami tanpa harus melibatkan elit global keturunan reptil.

Mari kita mengenal konspirasi microchip ini. Teori ini membahas perihal penanaman microchip pada tubuh manusia. Microchip yang dimaksud adalah Verichip, terobosan teknologi dalam identifikasi personal serta mata uang digital. Chip seukuran beras ini dapat menjadi KTP dan kartu kredit yang selalu melekat pada tubuh Anda. Bagi pelupa akut seperti saya, teknologi ini sangat menjanjikan.

Namun, hadirnya teknologi ini dibarengi penolakan yang sama hebohnya. Microchip ini dipandang sebagai alat mata-mata yang menguntungkan otoritas negara serta korporasi. Selain masalah pengawasan, microchip ini juga dipandang akan menjadikan seluruh umat manusia menggunakan satu mata uang yang sama. Jika seluruh manusia menggunakan microchip ini, si pemegang server akan menguasai seluruh dunia. Dari identitas hingga harta, semua ada dalam genggaman pemegang server.

Salah satu penggagas teori ini adalah Mark Dice. Blio juga menghubungkan microchip dengan isi dari Kitab Wahyu. Dalam salah satu kitab penganut Kristen ini, dinubuatkan bahwa kelak setiap manusia akan ditandai oleh iblis dengan angka 666. Angka yang tidak asing, kan? Blio memandang microchip ini sebagai perwujudan ramalan dalam kitab tersebut. Wow!

Karena skala konspirasi microchip ini adalah dunia, maka tertuduh utama adalah PBB. Siapa lagi yang mampu memaksakan opini dalam skala global selain PBB serta anak organisasinya? Apalagi saat ini dunia sedang di bawah bayang-bayang Covid-19. Setiap keputusan WHO sebagai organisasi kesehatan dunia dipandang sebagai konspirasi elit global. Dari kepalsuan tentang Covid-19, sampai wacana pengimplanan microchip berkedok vaksin.

Saya pribadi tidak bisa menilai mana yang benar. Kehadiran microchip ini memang menjadi lompatan jauh bagi manusia. Namun, teori tentang kendali umat manusia oleh segelintir orang tetap terasa nyata. Jadi saya tidak akan memandang orang yang percaya teori ini sebagai pandir.

Baca Juga:

5 Teori Konspirasi yang Ada dalam Serial Upin Ipin

Kenapa Masih Ada yang Percaya Teori Konspirasi meski Zaman Sudah Begitu Maju?

Yang membuat saya garuk-garuk kepala adalah kepongahan para penganut teori konspirasi ini. Mereka ketakutan pada sesuatu yang belum pasti, tanpa menyadari realita. Realita bahwa seluruh teori yang disematkan dalam microchip ini telah terjadi. Bahkan, perkara pengawasan serta uang digital telah akrab dalam kehidupan kita.

Kok bisa? Coba Anda amati smartphone Anda. Pahamilah cara kerja serta fungsi di dalam gawai Anda. Dalam perkara privasi saja, kita sudah terbiasa “menanam” identitas kita dalam smartphone. Data diri kita telah tertanam dan dijualbelikan secara bebas bahkan dengan kesadaran kita. Dan jelas mengabaikan keamanan data dan privasi kita.

Salah satu skandal paling populer adalah pencurian data pengguna Facebook. Pada tahun 2018, jutaan data pengguna Facebook dipanen diam-diam oleh Cambridge Analytica. Data ini dimanfaatkan untuk membangun kampanye politik di Amerika Serikat. Mark Zuckerberg harus mempertanggung jawabkan pencurian data ini di depan Senat Amerika Serikat. Jelas, pencurian data ini telah mencederai hak atas privasi kita!

Di Indonesia sendiri juga terjadi hal serupa. Terjadi pencurian data para pengguna Tokopedia pada bulan Maret 2020. Data yang tercuri mencakup berbagai identitas pribadi, detil lokasi, hingga password. Jumlahnya juga tidak main-main. Diperkirakan ada 91 juta data pengguna yang dicuri. Tanpa harus pakai microchip, saat ini data pribadi kita sudah tidak terlindungi kok.

Anda juga bisa mencari lebih banyak kasus serupa di berbagai kanal berita. Dari Zoom, FaceApp, sampai WhatsApp pernah berurusan dengan kasus pemanenan dan pencurian data. Namun banyak yang memandang kasus ini sebagai kasus sepele. Perkara keamanan data dan privasi tetap diabaikan atas dasar kepraktisan dalam berkomunikasi. Kan nggapleki.

Dan bicara perkara konspirasi uang digital, kita tidak perlu menunggu kehadiran microchip dalam tubuh kita. Hari ini kita telah akrab dengan berbagai dompet digital yang disediakan banyak korporasi. Hari ini kita telah terbiasa untuk bertransaksi tanpa uang tunai. Jika kita percaya bahwa uang digital adalah alat kontrol sosial, maka kita sudah tidak perlu bermimpi. Hari ini uang digital dipandang sebagai hal yang lumrah.

Semua teori yang diajukan para penganut teori konspirasi microchip ini telah terjadi. Bahkan tanpa perlu proyek skala dunia. Hari ini, orang beramai-ramai membuka privasi serta menggunakan uang digital bahkan dengan kesadaran penuh. Bahkan, kita merasa semua itu sebagai kebutuhan masyarakat modern.

Saya tetap tidak memandang para penganut teori ini sebagai orang bodoh dan penuh mimpi pepesan kosong. Saya pribadi selalu berusaha meminimalkan kemungkinan kebocoran privasi saya kok. Tetapi jika Anda percaya teori microchip ini dan masih membiarkan data privasi Anda dikuras melalui gawai Anda, saya ingin bertanya: situ sehat?

BACA JUGA Harus Gimana Lagi sama Orang yang Percaya Konspirasi Wahyudi Covid-19?! dan tulisan Dimas Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 9 Agustus 2020 oleh

Tags: microchipteori konspirasivaksin coronawho
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Membongkar Pesan di Balik Wejangan Misterius Mermaid Man terminal mojok.co

Membongkar Pesan di Balik Wejangan Misterius Mermaid Man

31 Januari 2021
Mereka yang Bikin Teori Konspirasi tentang Kartun Adalah Orang Paling Goblok! 4 Bakat SpongeBob Lain yang Masih Terpendam Selain Jadi Koki terminal mojok.co

Mereka yang Bikin Teori Konspirasi tentang Kartun Adalah Orang Paling Goblok!

1 Juli 2021
Dari Mbak Nora Kita Belajar, Kebebasan Ekspresi Bukan Tanggung Jawab Pasangan 5 Hal Yang Bisa Diteladani Kaum Muda dari Sosok Jerinx ilmu pengetahuan dan teori konspirasi

Kesamaan Ilmu Pengetahuan dan Teori Konspirasi yang Tidak Pernah Kamu Pikirkan Sebelumnya

1 Mei 2020
anak pancingan new normal mojok

Tidak Ada yang New dan Tidak Ada yang Normal dari New Normal

16 Juli 2020
ngabuburit

Mengkaji Asal Muasal Istilah Ngabuburit Berdasarkan 3 Pendekatan

11 Mei 2020
Siapa Harun Yahya dan Popularitasnya di Kalangan Anak Rohis 2000-an terminal mojok.co

Siapa Harun Yahya dan Bagaimana Popularitasnya di Kalangan Anak Rohis?

15 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

15 Maret 2026
Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar Mojok.co

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

13 Maret 2026
Kontrakan di Jogja itu Ribet, Mending Sewa Kos biar Nggak Ruwet, Beneran   pemilik kos

4 Kelakuan Pemilik Kos yang Bikin Jengkel Penyewanya dan Berakhir Angkat Kaki, Tak Lagi Sudi Tinggal di Situ

13 Maret 2026
Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons)

Nasib Orang Surabaya di Gresik: Bertahan Hidup di Tengah Matinya PDAM dan Ganasnya Sistem Inden SD

19 Maret 2026
Toyota Etios Valco, Mobil Incaran Orang Paham Otomotif yang Nggak Gampang Termakan Isu Produk Gagal Mojok.co

Toyota Etios Valco, Mobil Incaran Orang Paham Otomotif yang Nggak Gampang Termakan Isu Produk Gagal

14 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah
  • Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku
  • Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik
  • Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya
  • Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.