Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kisah Gusti Ahmad: Ayahnya Dibunuh Selir, Takhtanya Direbut Sultan HB VI, Hidupnya Diburu Sultan HB VII

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
29 Januari 2024
A A
gusti ahmad pelarian HB V mojok kraton jogja

gusti ahmad pelarian HB V mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Kisah Gusti Ahmad adalah kisah tentang derita yang tak berujung. Bahkan sebelum lahir pun, dia sudah menderita. Ah, kisah tentang Kraton Jogja memang tak pernah tak menarik.

Serial Game of Thrones memang sudah tamat. Namun, masih banyak yang membahas film seri penuh darah ini. Banyak yang cocoklogi mencari kesamaan adaptasi novel George. R. R. Martin di sejarah dunia. Gampang sih, sebab tidak ada sejarah peradaban yang bersih dari pertumpahan darah dan perebutan takhta.

Tak perlu jauh-jauh mencari ke penjuru dunia. Kasultanan Yogyakarta juga punya babak berdarahnya sendiri. Salah satunya adalah kisah pilu Gusti Raden Mas (GRM) Timur Muhammad, atau lebih dikenal sebagai Gusti Ahmad.

Perjalanan hidup Gusti Ahmad bak drama. Bahkan sejak awal kelahirannya, beliau sudah hidup dalam konflik takhta Keraton Jogja. Akhir hidupnya juga bagai tokoh utama dalam drama kolosal: terbuang jauh dari takhta yang menjadi haknya.

Kisahnya tragis, bahkan sebelum lahir

Gusti Ahmad adalah putra satu-satunya dari Sri Sultan HB V. Sejak lahir, Gusti Ahmad tidak pernah bertemu sang ayah yang menjadi raja di Jogja. Maklum, 13 hari sebelum kelahiran Gusti Ahmad, sang ayah dibunuh secara keji oleh selirnya.

Sultan HB V ditikam oleh Kanjeng Mas Hemawati pada 5 Juni 1855. Alasan sang selir membunuh HB V sendiri tidak pernah jelas. Dan sebagaimana pembunuhan misterius pada umumnya, banyak teori konspirasi dalam tragedi pembunuhan HB V.

Ada yang bilang HB V dibunuh karena lemah dalam pemerintahan. Ada yang menganggap Kanjeng Mas Hemawati membunuh atas perintah orang dalam Keraton. Bahkan ada teori gila perihal kecenderungan seksual HB V. Sayang sekali, tidak ada pernyataan resmi perihal tragedi ini dari Kraton Jogja.

Dari website kratonjogja.id saja, kisah HB V hanya berakhir dengan wafat tanpa meninggalkan keturunan. Permaisuri pertama GKR Kencono tidak berputra. Sedangkan permaisuri kedua GKR Sekar Kedhaton sedang hamil saat HB V terbunuh. Tiga belas hari setelah mangkatnya HB V, barulah GKR Sekar Kedhaton melahirkan Gusti Ahmad pada 18 Juni 1855.

Baca Juga:

Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi

3 Sisi Gelap Jembatan Suramadu yang Bikin Wisatawan Enggan Balik Lagi ke Madura

Oleh karena tidak memiliki keturunan saat wafat, maka posisi sultan diserahkan pada adik HB V, Gusti Raden Mas (GRM) Mustojo. Dipilihnya GRM Mustojo ini melibatkan Belanda sebagai pendukung. GRM Mustojo naik takhta dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono VI, meneruskan gelar sang kakak.

Awalnya, Sri Sultan HB VI hanya menjabat sementara. Ketika Gusti Ahmad telah dewasa dan siap naik takhta, maka Sultan HB VI akan turun takhta. Dengan turun takhtanya HB VI, maka Gusti Ahmad naik takhta sebagai raja yang sah dari Kasultanan Yogyakarta.

Happy ending, folks? Harusnya sih seperti itu. Harusnya.

Gusti Ahmad malah terbuang

Jika suksesi kekuasaan ini berjalan seperti seharusnya, saya tidak akan membagikan kisah ini. Toh dari judul saja sudah tersirat bahwa kisah Gusti Ahmad ini kisah yang memilukan.

Yang terjadi (sudah bisa ditebak sih), Sultan HB VI tetap menjabat sampai wafat pada 20 Juli 1877. Setelah Sultan HB VI wafat, seharusnya Gusti Ahmad yang diangkat sebagai Sultan. Tapi, yang terjadi, beliau terbuang.

GRM Murtejo sebagai putra Sultan HB VI diangkat menggantikan sang ayah. Pengangkatan raja yang bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono VII ini menimbulkan polemik. Banyak yang merasa bahwa Gusti Ahmad lebih layak menjadi raja baru. Toh Sultan HB VI hanyalah adik Sultan HB V yang naik takhta karena kondisi serba sulit.

Namun, Sultan HB VII tetap bertakhta. Dan demi mempertahankan kekuasaan, beliau menangkap Gusti Ahmad dan ibunya GKR Sekar Kedhaton. Tuduhan yang diberikan pada ibu dan anak ini adalah pembangkangan kepada kesultanan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Gusti Ahmad benar-benar memberontak dan angkat senjata bersama simpatisannya.

Dua versi kisah Gusti Ahmad

Ada dua versi dari kisah ini. Beberapa sumber menyatakan bahwa beliau dan GKR Sekar Kedhaton ditangkap di dalam Kraton, lalu dibuang ke Manado di Sulawesi Utara. Versi ini paling banyak disebut dalam berbagai buku sejarah. Yang jelas tidak pernah disebut dalam sejarah resmi Kraton Jogja.

Ketika saya mengonsultasikan kisah ini pada bapak saya (yang lagi-lagi jadi tempat berguru saya), beliau menjelaskan versi lain. Sebuah versi yang tidak banyak dibahas, namun berakhir sebagai buah bibir di antara pengamat sejarah Keraton.

Versi ini menyatakan bahwa Gusti Ahmad dan GKR Sekar Kedhaton melarikan diri pada saat HB VI berkuasa. Alasan ibu dan anak ini lari sudah bisa ditebak: kabur dari ancaman HB VI yang berniat menghilangkan garis keturunan sah HB V.

Pada pemerintahan HB VII, ibu dan anak ini diburu. Tentu demi amannya takhta HB VII dari penggulingan oleh simpatisan beliau. Perburuan yang konon pernah mencapai Singapura ini berakhir di Manado. Di sanalah Gusti Ahmad dan GKR Sekar Kedhaton terbuang hingga akhir hayatnya.

Di Manado, Gusti Ahmad menikah dan memiliki keturunan. Hingga hari ini, keturunan beliau masih memandang bahwa beliau adalah putra mahkota HB V dan pantas meneruskan pemerintahan sang ayah. Sayang sekali, satu-satunya garis keturunan HB V ini terputus dari takhta Kesultanan Yogyakarta.

Yang tersisa dari sebuah nestapa

Pemerintahan Sultan HB VII dilanjutkan oleh Sultan HB VII, HB IX, hingga HB X. Kesemuanya bukanlah keturunan dari Sultan HB V. Tragedi berdarah ini mengubah jalannya tampuk pemerintahan Keraton Jogja hingga sekarang.

Yang tersisa dari Gusti Ahmad hanyalah makam di Manado. Beliau meninggal pada 12 Januari 1901. Beliau meninggal lebih dulu dari sang ibunda yang meninggal pada 25 Mei 1919.

Makam sederhana di timur jauh Kesultanan Yogyakarta ini menjadi pertanda dari kejamnya politik kekuasaan. Sekaligus menjadi pengingat dari tragedi berdarah yang pernah terjadi di Kraton Jogja. Sebuah tragedi yang mengubah garis keturunan Keraton Jogja hingga hari ini.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Misteri Sri Sultan HB VII: Putra Mahkota yang Mati Misterius dan Kutukan kepada Seluruh Raja Jogja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2024 oleh

Tags: keraton yogyakartakonflikpilihan redaksitakhtaTerminal Jogja
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Gapura Lar Badak: Ikon Yogyakarta yang  Kian Terpinggirkan Terminal Mojok.co

Gapura Lar Badak: Ikon Yogyakarta yang  Kian Terpinggirkan

14 Maret 2022
ipo goto gojek tokopedia goto ipo IPO GoTo Menarik Dipantau, Muncul Akun Hantu hingga Ramai Pro-Kontra mojok.co

IPO GoTo Menarik Dipantau, Muncul Akun Hantu hingga Ramai Pro-Kontra

25 Maret 2022
Nas Daily Dikecam Adalah Kabar Baik, Saatnya Kita Menuntut Etika dari para Influencer! terminal mojok.co

Nas Daily Dikecam Adalah Kabar Baik, Saatnya Kita Menuntut Etika dari para Influencer!

9 Agustus 2021
5 Mi Ayam Paling Enak di Wonogiri Bagian Barat terminal mojok

5 Mi Ayam Paling Enak di Wonogiri Bagian Barat

27 Oktober 2021
7 Dosa Coffee Shop yang Sebaiknya Dihentikan Terminal Mojok

7 Dosa Coffee Shop yang Sebaiknya Dihentikan

17 Juli 2022
11 Istilah Bahasa Jawa yang Susah Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia Mojok.co

11 Istilah Bahasa Jawa yang Susah Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

31 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan Mojok.co

5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan

31 Januari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.