Kisah Cinta yang 'Wholesome' dan Progresif dalam Lagu 'Rondo Kempling' – Terminal Mojok

Kisah Cinta yang ‘Wholesome’ dan Progresif dalam Lagu ‘Rondo Kempling’

Artikel

Avatar

Salah seorang tetangga saya senang sekali dengan lagu-lagu campursari. Tapi, bukan Didi Kempot artis favoritnya. Ia menyukai The Lord of Broken Heart itu, namun lebih menyukai legenda campursari yang lain, Manthous. Dan di antara berbagai lagu yang sering ia putar keras-keras sembari menjahit (sebab pekerjaannya adalah menjahit), “Rondo Kempling” menjadi yang paling sering diputar.

Saya kadang sampai bingung. Sebab, di tempat saya, “Rondo Kempling”-nya Manthous ini sudah khatam diputar di hampir semua hajat pernikahan putra-putri Jawa.

Eh, masa iya tidak juga bosan sama lagu ini? Tapi, setelah saya pikir-pikir saya merasa lebih aneh. Sebab, meski saya sudah sering mendengar lagu ini, baru kemarin saya menyimak liriknya. Dan saya menemukan bahwa lirik dalam lagu ini ternyata sangat “wholesome”!

Dalam lagu ini, Manthous mengisahkan seorang lelaki yang bertemu dengan seorang wanita yang sedang kerepotan. Si wanita bingung karena barang bawaannya yang banyak sehingga si lelaki menawarkan bantuan.

Bukan cuma baik hati, si lelaki juga bersikap sopan lho. Ia menggunakan bahasa Jawa yang hitungannya lumayan halus untuk bicara dengan si wanita. Bukan itu saja, ia menyebut si wanita dengan sebutan “Mbak” yang merupakan tanda penghormatan.

Ndak pundi Mbak Ayu badhe tindak pundi? (Kemana Mbak Ayu, mau pergi ke mana?)
Kadingaren tindak wae ora numpak taksi? (Tumben pergi nggak naik taksi?)
Dewekan opo ora wedi? (Sendirian apa nggak takut?)
Timbang nganggur kulo gelem ngancani? (Daripada nganggur, mending saya temani)

Tak hanya si lelaki yang sopan dan masuk akal. Si perempuan pun tidak memanfaatkan situasi. Ia bilang ke si lelaki bahwa ia mau sekali dibantu. Nanti, ia menjanjikan akan memberikan upah kepadanya.

Setelah itu, keduanya asyik berinteraksi. Namun, si lelaki menyadari bahwa belanjaan si wanita sangat banyak seperti hendak pindahan. Ketika ia menanyakan itu, si wanita seolah menegaskan kondisinya bahwa ia memang sedang pindahan. Sebab, ia adalah janda yang baru ditinggal pergi.

Yak, janda kawan-kawan. Namun, si lelaki mengatakan dengan lugas bahwa “perawan atau janda buatku nggak terlalu penting”

Si perempuan yang masih insecure kemudian menegaskan bahwa meski ia janda, namun ia tetaplah kempling (“mantap”). Dan si lelaki kemudian membalasnya dengan bercanda saja.

Kenapa Wholesome?

#1 Sebab kisah cintanya yang sangat realistis

Di sinetron, kita sering mendapati dua insan jatuh cinta dengan kisah pertemuan yang ekstrem dan sulit dijelaskan. Yah, emang sih ceritanya jadi seru. Tapi, dalam kehidupan nyata, lebih sering saya mendengar kisah cinta yang permulanya hanyalah sebuah pertemuan sederhana.

Ada yang ketemu waktu beli pulsa, ketemu dikenalin temen, sampai ketemu di pinggir jalan. Sederhana sekali dan tidak dramatis.

Nah lagunya Manthous ini pun menggunakan premis sederhana dan tidak dramatis itu. Dalam lagu ini, tidak diceritakan si perempuan cantik bak malaikat atau si lelaki yang penikmat senja. Pokoknya cuma dua orang yang ketemu lalu saling sapa.

#2 Sebab tidak membandingkan perawan vs janda

Di Indonesia, janda masih sering dianggap “barang second.” Seorang perjaka yang menikahi janda selalu disayangkan oleh banyak oknum.

Padahal, mau janda atau perawan ya sama saja. Sama-sama perempuan yang punya rasa dan daya tarik tersendiri. Lah wong kebanyakan istri Nabi saja janda kok. Apa pantes kita nyebut diri religius kalau merendahkan janda?

Untungnya, di lagu ini, Manthous menegaskan bahwa perawan atau janda itu tak begitu penting. Memang belum seprogresif tokoh-tokoh feminis. Tapi, ya sudah cukup baik untuk membantu melunturkan stereotipe bahwa janda itu lebih rendah dari perawan.

#3 Sebab menyapa dengan bahasa yang sopan

Semua lirik dalam lagu “Rondo Kempling” ini tak ada yang tak sopan. Semuanya santun sekali dan juga menghormati.

Seperti sudah saya singgung di atas, Manthous menggunakan bahasa yang lumayan halus (bukan ngoko kasar). Dia juga menyapa si perempuan dengan sebutan “Mbak Ayu” yang merupakan penghormatan akan kedewasaannya. Selain itu, ia juga tidak kebanyakan menggombal. Ia fokus saja membantu si wanita sambil bercanda di sana-sini.

Yah pokoknya wholesome-lah. Tak heran lagu “Rondo Kempling” menjadi lagu wajib di sebagian pernikahan di tanah Jawa. Sebab, meski sederhana tapi sebetulnya memberikan ajaran yang baik.

BACA JUGA Iklim Intimidatif Media Sosial Bikin Saya Takut Dicap Feminis dan tulisan Nar Dewi lainnya.

Baca Juga:  The Next Didi Kempot Adalah Acara yang Punya Beban Berat bagi yang Terlibat
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
5


Komentar

Comments are closed.