Kenaikan Cukai Rokok Adalah Satu-satunya Hal yang Bisa Membuat Proletar dan Borjuis Bersatu – Terminal Mojok

Kenaikan Cukai Rokok Adalah Satu-satunya Hal yang Bisa Membuat Proletar dan Borjuis Bersatu

ArtikelFeatured

Avatar

Kita seringkali mendengar dan menyaksikan bagaimana rutinnya dua kaum—proletar dan borjuis—berseteru. Dalam banyak bahkan hampir setiap demonstrasi, orator selalu menyasar kaum kapitalis dan tak jarang menjadikannya sebagai objek makian.

Ya, terang saja. Ketika melihat bagaimana macam kebijakan industri, termasuk dalam hal outsourcing serta terkait dengan upah, pesangon, cuti, dan subordinitas gender dalam kawasan industri, maka menjadi hal yang wajar jika yang keluar dari mulut demonstran adalah sumpah serapah.

Eits, tapi tunggu dulu. Ada satu momen di mana dua kubu ini dapat menyatu dalam satu lengkingan, yaitu ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan terkait kenaikan cukai hasil tembakau. Semula yang selalu berseteru dan terkesan hampir nggak bisa dibikin akur itu, menjadi satu gerakan yang memiliki satu common enemy, yaitu pemerintah.

Indah memang, melihat bagaimana damai dirajut dari dua kubu ini. Ada semacam hari maaf-maafan, ya semacam Idul Fitri-nya orang Islam lah. Momen yang sangat jarang terlihat ini, niscaya akan kembali kita jumpai dalam beberapa waktu ke depan.

Sebab, pemerintah telah mengambil satu keputusan yang dapat memancing amarah kedua kubu tersebut. Dari pemilik PT, manajer, marketing, buruh pabrik, buruh tani, hingga toko klontong bersatu dalam satu tujuan, yaitu menggagalkan upaya pemerintah yang ingin mengeruk kantong mereka, terutama para perokok aktif.

Yang tidak masuk dan sepertinya nggak akan pernah mau ikut dalam harmoni yang indah ini tentu saja para pembenci rokok. Mereka membenci rokok sebagaimana umat Islam membenci Dajjal, sesuatu yang sebisa mungkin dihindari bahkan diharap nggak pernah ada di muka bumi.

Dari saking banyaknya golongan yang satu ini, bahkan jika memang rokok itu layaknya Dajjal atau pun Iblis, maka sepanjang jalan kita tidak akan pernah menemui tempat yang tidak ada lantunan ayat-ayat suci sebagai media pengusir.

Sayangnya, rokok tidak mempan dengan bacaan-bacaan baik seperti itu. Untuk mengusir perokok biar cepat-cepat minggat ya cuma satu; di pisui atau dicaci maki, bahkan ada yang paling ekstrem ada yang sambil ngeplak ndase. Dan saya adalah perokok yang terbilang sial itu. Ah keinget lagi, sialan.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas seputar bahaya merokok, kampanye anti rokok, atau bahkan pembelaan nggak mutu dari para perokok yang seringkali bilang “merokok itu membantu negara, pahlawan devisa negara”. Halaaahhh.

Meskipun saya adalah perokok, tapi saya juga cukup terganggu dan menjengkelkan kalau dengar pembelaan-pembelaan seperti itu. Apa nggak ada pembelaan lain yang lebih elegan?

Misalnya, merokok atau tidak, itu bukan soal moral, tapi soal selera, dan orang yang menghakimi selera orang lain adalah orang yang paling tidak menghargai selera dan bahkan mungkin tidak punya selera. Coba deh bilang kayak gitu ke temen-temen, ya paling ndasmu akan dikeplak lebih lanjut.

Maksud saya gini, Gaes, kenapa kebanyakan kita menghakimi perokok itu dengan hal-hal yang berbau amoral? Sejak kapan rokok menjadi tolak ukur moral seseorang? Hal paling dasar adalah memahami bahwa kebanyakan fuckboy adalah mereka yang ngevape, wkwkwk.

Jadi, hakimilah mereka-mereka itu, jangan kami. Ya ampun, udah kejang-kejang cukai mau naik, malah tambah dibilang nggak bermoral, nggak kasian apa? Prihatin sedikit dong, jangan kayak orang yang nggak bermoral gitu. Eh, maap-maap.

Oke, kembali ke inti masalah. Setidaknya kita paham bahwa pembagian dua golongan menjadi borjuis dan proletar itu berangkat dari analisis sosialnya Karl Marx dan kawan-kawan. Bahwa ada semacam jurang disparitas atau kesenjangan yang memisahkan keduanya. Yang satu menindas dan yang satu ditindas.

Tapi, sepertinya Karl Marx lupa kalau penindas itu tidak hanya datang dari pabrik dan industri-industri besar, sangat mungkin dia merayap dari kekuasaan dan gedung-gedung pemerintahan.

Meskipun, pernah juga membahas soal relasi kuasa dan kapitalis, tapi setidaknya dari situ, Karl Marx dan para penganutnya mestinya paham kalau kapitalis bukanlah musuh yang absolut bagi kaum-kaum tertindas, atau sebaliknya.

Kenaikan cukai rokok ini juga mengajarkan kita, bahwa tidak ada musuh abadi. Semua bisa berseteru, bisa kembali berkawan, dan hingga saling membunuh. Semua bergantung pada ada atau tidaknya kepentingan yang diganggu.

Dari soal ini, kita melihat bahwa baik proletar maupun borjuis adalah dua golongan yang sama-sama merasa diganggu kepentingannya. Maka jalan terbaik adalah memang dengan cara berkawan untuk menghimpun kekuatan.

Sebab, soal kenaikan cukai rokok ini berimbas pada banyak sektor. Mulai dari pemilik modal, pelaksana kebijakan industri, karyawan, penjual, hingga konsumen semua kena imbas. Tak jarang industri hasil tembakau (IHT) yang gulung tikar karena nggak mampu lagi mengimbangi harga cukai. Ibarat kata pepatah, lebih besar pasak daripada tiang.

Pemerintah juga terkesan sak karepe dewe dalam hal kebijakan. Banyak kebijakan hanya terlihat seperti tes ombak saja. Di terapkan dulu, terus kalau ramai penolakan dan hampir chaos, kebijakannya direvisi, bahkan dicabut.

Kenapa sulit sekali menyadarkan pemerintah kalau bikin kebijakan nggak seugal-ugalan itu juga. Dari berbagai literatur, makna kebijakan itu kan keputusan yang terukur dan terarah serta tepat sasaran yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang.

Tapi, kalau kebijakannya seperti banyak belakangan ini, ya memang tepat sasaran sih, saking tepat sasarannya sampa-sampai langsung bikin sasaran lumpuh.

Emang apa ruginya sih kalau cukai rokok nggak dibikin ombang-ambing dan membuat angka terjal dari periode ke periode? Apa menaikkan cukai rokok bisa bikin utang negara tertolong? Tertolong nol koma sekian persen saja, dan bukankah itu mengusik hal yang kurang efektif dan justru menimbulkan persoalan baru?

Seperti misalnya soal angka pengangguran yang bertambah, toko kelontong yang semakin terlihat syar’i dengan nggak jualan rokok lagi, padahal ya karena nggak nutup aja kalau tetap dipaksain jualan. Bahkan, tak jarang pabrik yang motong harga rokok produksinya hanya demi industri tetap dapat berjalan, meskipun kadang nggak nutup juga. Tapi, ya tetap dipaksain. Cara pemaksaannya gimana? Potong jumlah karyawan, ya masalah baru lagi yang muncul, Bosss. Banyak korban PHK, karyawan, atau buruh pabrik hingga petani dan buruh tani melakukan protes besar-besaran, ya stabilitas politik lagi yang akan terganggu.

Apa pemerintah sudah benar-benar buntu? Udah kehabisan cara buat menekan investor-investor asing agar pajaknya bisa lebih gede? Trus imbasnya malah ke pekerja-pekerja pabrik? Oh iya lupa, investor kan lagi dimanja dengan munculnya omnibus law. Semua pelayanan dan keamanan investasi dijamin, itu Presiden sendiri loh yang bilang.

Bahkan, masterpiece berupa produk hukum ngawur itu akan mulai dikampanyekan ke mancanegara dalam waktu dekat. Oleh siapa? Pasti tahu dong, siapa lagi kalau bukan Opung kita tercinta, Opung Luhut yang katanya sebagai wujud mimpi tertinggi seorang Batak.

Pokoknya, kenaikan cukai rokok menunjukkan bahwa pemerintah antara panik atau memang malas dalam mengelola negara. Keuangan negara susah? Naikin cukai rokok! Kalau ada masalah yang muncul gara-gara itu, gimana dong?

Ah, kayak nggak paham aja.

BACA JUGA 5 Cara Jadi Pendengar Curhat yang Baik seperti Master pada Serial Midnight Diner

Baca Juga:  Ribut Soal Tanaman Tembakau itu Perjuangan Orang Madura Untuk Hidup Mewah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
17


Komentar

Comments are closed.