Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Ketika Tonari no Totoro Ambil Setting di Indonesia

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
27 April 2020
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Ghibli melalui Hayao Miyazaki sukses setidaknya mengubah konsep klenik dalam otak saya yang tidak melulu berkutat pada hal menyeramkan. Melalui Tonari no Totoro, terlihat betul bahwa roh-roh yang melindungi alam semesta tidaklah harus berbentuk menyeramkan sebagaimana terawangan para ahli di Indonesia. Genderuwo yang menghuni pohon besar, kuntilanak yang bergelantungan di pohon rimbun, dan pocong yang acapkali dihubungkan dengan pohon pisang.

Melalui film ini, Miyazaki seakan mempertontonkan perpaduan antara kebudayaan Jepang dan kepercayaan Shintoism yang menghargai alam semesta dan hanya orang-orang berhati baik yang bisa melihat roh-roh penunggu pohon besar. Melalui Satsuki dan Mei, mereka bisa merasakan kehadiran Totoro yang bukannya seram, malah lucu dan menggemaskan. Bagaimana nggak gemas, roh yang dimaksud di sini bentuknya seperti beruang yang gembul dan memiliki bulu lembut.

Namun, bagaimana jadinya jika Totoro itu adanya di Indonesia? Mungkin, bukannya menghuni pohon besar yang sebagaimana dilukiskan oleh Miyazaki dengan pemandangan indah, pasti Totoro dikira berasal dari Alas Purwo atau Tanjakan Emen. Pasti banyak hal yang akan disalahartikan dari Totoro dan nggak jadi lucu yang ada malah dibuat menyeramkan.

Pertama, jika di Indonesia, yang dilakukan oleh Satsuki ketika berjumpa dengan Totoro di halte bus yang ikonik itu tidak akan berakhir dengan menggemaskan. Tidak ada scene yang menunjukkan bahwa Satsuki memberikan payung kepada Totoro. Atau Totoro yang kaget tapi malah terlihat lucu ketika rintik hujan jatuh ke payungnya. Nggak, nggak bakal ada mbok yakin. Yang ada, Satsuki malah akan nulis cerita horor di Twitter biar viral.

Satsuki bikin thread, “Pengalaman Saya Digodai dengan Genderuwo Bernama Totoro -A Thread-“ yang bakal di rituit oleh circle seleb tweet. Viral ke mana-kemana kisahnya, dibikin buku dengan embel-embel “telah dibaca oleh ribuan orang di Twitter” padahal isinya bukan orang, tapi kebanyakan akun alter xixixi. Lalu komen-komennya berkutat pada rasa penasaran di mana tempatnya. Ah, klasik.

Kalau sudah viral, banyak yang penasaran dan dijadikan sebuah buku bisa ditebak muaranya akan ke mana. Ya, apa lagi jika bukan dijadikan sebuah film. Bakal ambil kesempatan ini mumpung sedang viral. Judulnya “Genderuwo Totoro”. Alurnya dari dulu gini aja, tapi anehnya tetap laku dan seusai nonton banyak yang kecewa dan bilang, “Ah, bagusan versi thread Twitter-nya.” Hilihhh.

Kedua, habis itu, bakal ada banyak paranormal dadakan yang datang mencari sosok Totoro. Lantas bawa beberapa orang yang disuruh kesurupan teriak-teriak “AING TOTORO!!!” kemudian sembuh dengan cara meminum segelas air putih lalu pasien disembur, bur.

Setelah disuruh masuk ke tubuh orang, lantas Totoro dimasukan ke dalam botol dan dibawa dan dijadikan sebagai media pesugihan. Lak kurang ajar, to! Totoro juga dikira pemberi wangsit dan bisa kasih nomer biar tembus togel. Tiba-tiba saja banyak orang yang patah arang untuk mengunjungi pohon dekat rumah Satsuki, mereka mau semedi agar diberi tuntunan oleh Mbah Totoro.

Baca Juga:

Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya

Mencoba Memahami Alasan Orang-orang Kabur dari Magang di Jepang

Ketiga, semakin viral tempat tersebut, maka banyak pula televisi yang rebutan untuk menayangkan aktivitas ghoib di sekitaran rumah Satsuki. Misalkan acara televisi Mr. Tukul Jalan-Jalan. Acara yang awalnya bahas tempat wisata, berangsur naiknya rating ketika bahas horor, ahirnya keblinger, deh. Tapi acara ini sudah nggak ada. Jika ada, mungkin Mas Tukul bakal buka dengan seperti ini, “Pemirsa, pe e pe  em i mi sa a sa… pemirsa!” sambil tangannya obah-obah gitu.

“Bersama saya Tukul dan ditemani oleh rekan saya, Master Limbad yang sudah nggak diragukan lagi kredibilitasnya dalam hal per-klenik-an duniawi. Kali ini kami mendatangi pohon yang viral, itu loooh!” congornya di maju-majuin. Penontonnya bakal nimpali, “Eaaa! Eaaa! Eeaa!”

“Pohon itu diyakini menyimpan kekuatan ghoib bernama genderuwo Totoro. Hiiiiii~ Benar begitu Master Limbad?” tanya Mas Tukul sambil mulutnya mencucu kepada lawan bicaranya.

“HMMMMMM,” jawab Limbad sambil sedakep.

Bukan hanya acara televisi, tapi juga channel YouTube seperti Kisah Tanah Jawa yang menyantroni napak tilas Mbah Totoro ini. Om Hao dengan halus bicara begini, “Ya, di samping Mas ada sosok besar, berbulu ya, Mas. Melalui kemampuan retrokognisi saya menangkap getaran dari makluk itu lagi angop ya, Mas, ya. Di sana juga ada yang kecil, Mas, bentuknya sama tapi lebih kecil.”

Mas Genta yang dari tadi ngelus-ngelus tengkuknya nimpali begini, “Tiba-tiba kok rasanya mak wusss ya, Om, kayak ada yang liwat gitu.”

Om Hao kembali menjawab dengan yakin, “Iya, Mas, jadi di sini itu ada semacam Totoro yang pakai motor matic, Mas. Tadi dia barusan lewat katanya mau beli Samsu dulu di warung terdekat. Nanti saya akan melakukan komunikasi dengan blio tapi saya harus pakai baju yang menyerupai dirinya, Mas,” Om Hao pun pakai kostum Totoro.

Setelah Kisah Tanah Jawa meliput, pasti bakal ada saja kanal-kanal YouTube kroco yang juga membahas perdemitan. Biasanya, kanal-kanal ini akan mendramatisasi dengan menghadirkan penampakan apus-apusan. Lalu si pemilik kanal akan bilang, “Gaesss, ada ibu-ibu, Gaesss!” Thumbnail-nya pun menohok dan dibuat sensasional seperti, “LETAK GENDERUWO TOTORO ADA DI SINI!!!! NGGAK CLICK RUGI!!! ADA GIVE AWAY!!!”

Setelah kanal-kanal YouTube yang mampir, kini giliran anak Bigo Live yang melakukan eksplorasi. Banyak yang nggak mutu memang, tapi tak menutup kemungkinan menghadirkan tawa. “Gaes, gaes, saya akan ke sana tapi gift satu king dulu, ya? Oke? Kita kan kompak solid. Satu star, saya akan tantang Totoro untuk by one.”

Kalau sudah begini, mungkin saatnya menasbihkan diri bahwa manusia di Indonesia kini lebih menyeramkan ketimbang setan. Barangkali sekarang setan tiap melihat manusia bakalan merinding dan takut kemanusiaan (kemasukan manusia). Syukur bahwa Totoro mengambil latar negara Jepang. Kalau di Indonesia, ujung-ujungnya bakal masuk acaranya Roy Kiyoshi atau sinetron azab di Indosiar.

BACA JUGA Menebak Kepribadian Roy Kiyoshi dari Acara Karma ANTV atau tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 27 April 2020 oleh

Tags: hantuIndonesiajepangTotoro
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

pelet ilmu hitam indonesia santet mojok

Indonesia Bukannya Nggak Mau, Tapi Memang Nggak Bisa Pakai Santet untuk Melawan Belanda

29 Juli 2020
7 Nama Daerah Unik di Indonesia yang Bikin Melongo terminal mojok

7 Nama Daerah Unik di Indonesia yang Bikin Melongo

30 November 2021
7 Kota dan Provinsi di Indonesia yang Selalu Apes Dapat Pemimpin Korup Terjerat KPK

7 Kota dan Provinsi di Indonesia yang Selalu Apes Dapat Pemimpin Korup Terjerat KPK

28 November 2023
pura-pura merdeka

Bukan Belum Merdeka, Jangan-Jangan Kita Hanya Pura-Pura Merdeka

20 Agustus 2019
Mengenang Band Indonesia One Hit Wonder di Era 2000-an

Mengenang Band Indonesia One Hit Wonder di Era 2000-an

9 Mei 2022
Lika-liku Sopir Jenazah: Sengaja "Mengantar" Hantu karena Gabut dan Sering Ditolak Jadi Talent Uji Nyali

Lika-liku Sopir Jenazah: Sengaja “Mengantar” Hantu karena Gabut dan Sering Ditolak Jadi Talent Uji Nyali

17 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik Mojok.co

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

7 Februari 2026
Piyungan Isinya CEO Pakai Sandal Jepit Bawa Karung Rongsokan (Unsplash)

Saya Belajar Tentang Kebahagiaan di Piyungan, Tempat Para CEO Pakai Sandal Jepit dan Pegang Karung Rongsokan

7 Februari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Kuliner Jepara Nggak Cuma Pindang Serani, Ada Juga Horok-Horok yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

Kuliner Jepara Nggak Cuma Pindang Serani, Ada Juga Horok-Horok yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

9 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”
  • “Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia
  • Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran
  • Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana
  • Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak
  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.