Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Ketahuilah Wahai Mahasiswa, Kelas yang Sunyi Bikin Kami para Dosen Sakit Hati

Isnan Waluyo oleh Isnan Waluyo
11 November 2025
A A
Dosen Bukan Dewa, tapi Cuma di Indonesia Mereka Disembah

Dosen Bukan Dewa, tapi Cuma di Indonesia Mereka Disembah (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Struggle-nya dosen itu bukan hanya soal tri dharma, tapi juga memerangi mahasiswa malas yang kalau kuliah, otak dan hatinya tidak pernah di kelas.

Bayangkan saja, suatu ketika menjelang semester baru, saya mendapatkan surat tugas untuk mengajar mata kuliah Semiotika di semester 5. Tentu sudah menjadi kewajiban saya untuk kemudian belajar, membuat, dan mempersiapkan materi ajar sebelum perkuliahan dimulai. Saya menurunkan buku-buku babon dari Ferdinand de Saussure sampai Charles Sanders Peirce, sebagai bekal memahami konsep dasar semiotika.

Pun buku-buku sekunder dan artikel penelitian yang relevan, saya babat habis. Saya pilih dan pilah betul poin-poin yang selayaknya menarik untuk diketahui oleh mahasiswa.

Kalau sudah belajar model begitu, waktu dan pikiran saya benar-benar terkuras. Begadang bahkan sering menjadi jalan tengah bagi dosen seperti saya karena harus berbagi dengan pekerjaan administratif lain yang juga terpojok deadline. Belum lagi urusan peribadi dan keluarga yang tak mau kalah minta jatah. Tapi tak apa, niat saya tulus, supaya mahasiswa memahami sekaligus tertarik dengan materi kuliah yang saya sampaikan.

Tetapi apa yang terjadi justru mirip peribahasa “air susu dibalas dengan air tuba”. Sepanjang kelas perkuliahan berlangsung, dari materi pembuka sampai penutup, suasana kelas begitu anyep. Sesi diskusi dan tanya jawab yang saya buka berakhir dengan nestapa: tak ada yang bertanya, dan tak ada yang menimpali untuk diskusi. Kalaupun ada yang bertanya, kesannya lebih seperti ungkapan “daripada tidak”. Dengan kata lain, jelas bukan pertanyaan yang berasal dari ketidaktahuan atau keingintahuan.

Apakah saya yang salah?

Dalam hati, saya marah bercampur sedih. Rasanya sia-sia betul mengorbankan banyak waktu untuk sesuatu yang pada akhirnya tidak dihargai. Mereka seharusnya paham bahwa materi ajar yang saya sajikan di perkuliahan bukan barang semalam jadi! Melainkan dari proses intelektual yang panjang dan tak gampang. Lagi-lagi tak apalah, risiko menjadi dosen, batin saya.

Saking green flag-nya saya sebagai seorang pendidik, saya bertanya ke diri sendiri. Apakah mungkin cara mengajar saya yang salah sehingga mereka kurang interested? Atau bahasa yang saya gunakan terlalu menyundul langit, sehingga mereka takut berargumentasi? Demi menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, berbagai metode pembelajaran sudah saya coba praktikkan. Dari ketidakpuasan model ceramah berganti ke model pembelajaran berbasis kasus.

Merasa tak ada perubahan yang signifikan ihwal motivasi belajar mahasiswa, saya berpindah dari berbasis kasus ke project. Lagi-lagi hasilnya mengecewakan. Semakin menegaskan bahwa mahasiswa lebih sering tampil diam tak bersemangat daripada action menunjukkan ketertarikan. Dari situ saya menyimpulkan bahwa penyebab ketidaktertarikan mahasiswa pada ilmu bukan semata-mata berada pada cara saya, tapi memang ada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu kesadaran belajar yang mulai terkikis.

Baca Juga:

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya

Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Kerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak

Jelas saya sebagai dosen bertanggung jawab atas tuduhan itu karena fenomena itu nyata saya hadapi. Tubuh mereka memang hadir di kelas, tapi pikiran mereka boleh jadi melayang entah ke mana. Mungkin di notifikasi ponsel, feed Tik-Tok, atau objek lain yang saya juga tak perlu tahu. Mereka lupa bahwa ilmu tidak akan pernah didapatkan dari ruang kelas yang hening tanpa perdebatan.

Ilmu adalah keputusan akan pengetahuan

Saya jadi teringat ketika dulu sekolah di Tamansiswa, pamong-sebutan untuk guru-kami marah betul jika anak didiknya diam ketika sesi diskusi tiba. Satu kalimat menukik yang mendasari kemarahan itu adalah, “Ilmu adalah keputusan akan pengetahuan. Kalau kalian tidak memutuskan apa-apa, kalian tidak akan memiliki ilmu. Jadi bicaralah!”

Dulu, saya anggap pernyataan itu layaknya petuah bijak belaka. Tapi ketika semakin lama saya terjun di dunia pendidikan sebagai dosen, semakin paham bahwa pernyataan itu adalah jantung dari proses belajar. Yang membuat pengetahuan itu menjadi ilmu adalah keputusan, yakni keberanian untuk menguji, meyakini, bahkan mempertanggungjawabkan apa yang kita putuskan sebagai kebenaran.

Nah, proses menguji, meyakini, dan bertanggung jawab atas kebenaran itulah esensi dari ilmu. Tidak sekonyong-konyong hanya modal duduk di bangku perkuliahan, mencatat apa yang penting, presensi, lalu pulang. Jika tidak memberi keputusan apa-apa pada apa yang kita dapatkan, muskil untuk berilmu.

Celakanya, mayoritas mahasiswa yang saya (dan mungkin dosen lain) hadapi di kelas ini boro-boro berani memutuskan, niat untuk mau menerima pengetahuan pun terasa enggan. Mereka lebih suka menunda keputusan itu. Apa yang mereka lakukan pada kenyataanya membiarkan pengetahuan lewat begitu saja di pikiran mereka, tanpa pernah berupaya untuk mempertanyakan, memperdebatkan, dan mengolahnya.

Mentok beberapa mahasiswa yang mendapatkan predikat “rajin”, menganggap mencatat adalah sebaik-baiknya belajar. Itu tidak sepenuhnya salah, tapi apa gunanya mencatat jika otak tak berupaya untuk merebut makna dari apa yang dicatat.

Mendebat dosen itu justru menunjukkan rasa hormat

Bahaya juga jika perkuliahan minim feedback ini menjadi sesuatu yang normal di kelas-kelas universitas. Proses belajar yang harusnya dua arah menjadi satu arah. Dosen akan menjadi pusat, sedangkan mahasiswa seperti gelas kosong yang ngikut saja mau diisi apa. Tidak ada perdebatan pengetahuan yang dilalui sebelum mendapatkan ilmu. Padahal pengetahuan yang kita dapatkan bisa saja salah, tergantung bagaimana cara kita memutuskan itu tadi.

Nah, kalau proses memutuskan saja tidak pernah diuji dalam kelas, bagaimana kalian bisa tahu bahwa apa yang diputuskan benar secara logic? Bagaimana jika apa yang kita putuskan sebagai pengetahuan itu salah? Pada proses belajar yang demikianlah menuntut critical thinking, level berpikir yang seharusnya menghinggapi sanubari mahasiswa.

Berdebatlah di kelas dengan siapa pun dengan argumen, niscaya semua terlibat di dalamnya akan mendapatkan pendewasaan dalam belajar. Jangan pernah berpikir bahwa bertanya atau mendebat dosen dan teman kalian saat presentasi adalah tindakan yang kurang ajar juncto tidak sopan. Justru diamnya kalianlah yang berpotensi nirempati.

Saya sebagai dosen tidak sedang mencari penghormatan dalam bentuk diam, tapi perdebatan. Saya secara pribadi sangat senang jika apa yang saya sampaikan tak dianggap sebagai kebenaran tunggal. Prinsip saya “semua orang bisa menjadi guru”. Kalian para mahasiswa bisa menjadi guru saya dalam hal apa pun, pun sebaliknya. Syaratnya, kelas harus hidup sebagai ruang menguji pengetahuan.

Tetapi, jika normalisasi kelas-kelas perkuliahan yang sepi ini terus menjangkit, saran saya lupakanlah kalimat heroik kalian bahwa mahasiswa sebagai agent of change.

Penulis: Isnan Waluyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Berambisi Jadi Dosen biar Terpandang dan Gaji Sejahtera, Pas Keturutan Malah Hidup Nelangsa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 November 2025 oleh

Tags: Dosenkegiatan belajar mengajarMahasiswa
Isnan Waluyo

Isnan Waluyo

Dosen part-time, bapak-bapak full-time.

ArtikelTerkait

Drakor 'Law School' dan Realita Mahasiswa Korea yang Ambis Pol terminal mojok

Drakor ‘Law School’ dan Realita Mahasiswa Korea yang Ambis Pol

5 Mei 2021
Jember “Gagap” Jadi Kota Pelajar di Daerah Tapal Kuda, Fasilitas Publik Alakadarnya Bikin Repot Mahasiswa Mojok.co

Jember “Gagap” Jadi Kota Tujuan Belajar. Fasilitas Publik Alakadarnya dan Mengecewakan Mahasiswa

6 Februari 2024
Derita Jadi Dosen Muda, Disepelekan Mahasiswa dan Dosen Tua Mojok.co

Derita Jadi Dosen Muda, Disepelekan Mahasiswa dan Dosen Tua 

15 November 2023
Mahasiswa KKN Diusir Warga Itu Adalah Teguran Keras untuk Kampus yang Nggak Melek Digital

Mahasiswa KKN Diusir Warga Itu Adalah Teguran Keras untuk Kampus yang Nggak Melek Digital

2 Agustus 2023
anak stm

Dear Anak STM, Kalian Sudah Baca RUU-nya Belum Sih?

1 Oktober 2019
Terus Terang Aja, Satu Kelompok KKN Sama Pacar Itu Nggak Seindah yang Dibayangkan

Terus Terang Aja, Satu Kelompok KKN Sama Pacar Itu Nggak Seindah yang Dibayangkan

20 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

Terima Kasih Indomaret, Berkatmu yang Semakin Peduli dengan Lingkungan, Belanjaan Jadi Sering Nyeprol di Jalan Gara-gara Plastik yang Makin Tipis

20 April 2026
Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan (Unsplash)

Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan dari Cerita Rakyat Minahasa dan Membebaskan Kita dari Kebosanan Horor Jawa

23 April 2026
Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku Mojok.co

Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku

20 April 2026
Bantul Nggak Punya Bioskop, tapi Warlok Nggak Kekurangan Tontonan Menghibur karena Ada Jathilan hingga Lomba Voli Mojok.co

Hidup di Bantul Tanpa Bioskop akan Baik-baik Saja Selama Ada Jathilan hingga Tanding Voli

23 April 2026
4 Menu Janji Jiwa yang Perlu Dihindari biar Nggak Rugi, Saya Aja Kapok Pesan Lagi

Kopi Janji Jiwa Mungkin Sudah Bukan di Posisi Teratas Kopi Kekinian, tapi Menyebutnya Air Comberan Jelas Adalah Penghinaan

24 April 2026
Cepu, Kecamatan di Blora yang Paling Pantas Dikasihani Mojok.co

Satu Dekade Merantau, Transportasi Umum di Blora Masih Gaib dan Jalanannya Bikin Cepat Menghadap Tuhan

24 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang
  • Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah
  • Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY
  • Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius
  • Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda
  • Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja: Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.