Awal Juni lalu, Gramedia Pandanaran Semarang resmi berubah menjadi Gramedia Jalma Semarang. Toko buku legendaris ini punya wajah baru dengan konsep creative space. Tempatnya nyaman untuk bekerja, mengerjakan tugas, atau sekadar membaca buku sambil ngopi.
Selang beberapa hari setelah grand opening, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke sana. Di pintu masuk, ada satpam yang menyambut dengan penuh senyuman.
Begitu masuk ke dalam, saya disuguhi pemandangan berupa rak-rak buku yang menjulang tinggi. Sangat estetik dan memanjakan mata, buktinya banyak yang berfoto di spot ini.
Konsep brilian untuk menggaet pengunjung ke toko buku
Mengutip dari situs resmi Gramedia, “Jalma” berarti manusia dalam bahasa Sunda. Konsep ini diusung untuk mengingatkan kita bahwa Gramedia Jalma hadir sebagai ruang bagi manusia untuk berinteraksi, belajar, berdiskusi, dan menggagas ide-ide.
Tidak hanya berisi rak buku dengan konsep monoton, Gramedia Jalma menyediakan creative space, coworking space, coffee shop, hingga reading pod bagi pengunjung yang ingin suasana baru untuk membaca buku. Bahkan, bagi yang membawa anak, Gramedia Jalma juga memiliki kids area yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk bermain sekaligus belajar.
Secara konsep dan tujuan, saya akui Gramedia memang selangkah lebih maju dibanding toko buku lain. Mereka menawarkan pengalaman yang bikin pengunjung betah berlama-lama.
Saya paham interior Gramedia Jalma dibuat sangat estetik untuk menyasar pengunjung yang sebelumnya tidak terlalu akrab dengan toko buku. Foto-foto yang diambil di dalam bangunan benar-benar sangat cocok untuk mempercantik feed Instagram.
Terbukti, banyak orang penasaran ingin melihat langsung konsep baru toko buku yang belum pernah ada sebelumnya di Semarang. Tidak sedikit pula yang datang hanya untuk berfoto atau membuat konten.
Saat Gramedia Jalma Semarang jadi destinasi wisata baru
Di satu sisi, saya senang melihat toko buku bisa seramai itu. Sudah terlalu lama kita mendengar kabar tentang menurunnya minat baca, lesunya industri buku, dan berkurangnya jumlah toko buku fisik. Oleh karena itu, melihat Gramedia dipenuhi pengunjung tentu menjadi pemandangan yang menyenangkan.
Di sisi lain, saya ingin menyampaikan keluhan sebagai pengunjung yang memang datang dengan niat membaca atau mencari buku. Beberapa kali saya melihat kursi penuh oleh orang-orang yang lebih sibuk mengobrol daripada membaca.
Ada yang datang berkelompok lalu bercengkerama cukup keras. Ada pula yang menghabiskan waktu untuk berfoto atau main HP tanpa benar-benar berinteraksi dengan buku yang ada di sekitarnya.
Niat saya untuk mengungkapkan keresahan hati ini mungkin akan dicap sebagai polisi moral. Nanti pasti ada yang bilang, “Lho, Gramedia Jalma kan memang bukan perpustakaan.”
Ada juga yang beranggapan kalau tempat seperti ini memang dibuat untuk berinteraksi, jadi wajar kalau ada orang yang mengobrol atau sekadar nongkrong.
Tidak dapat dimungkiri, saya setuju dengan semua itu. Tidak masalah kalau ada yang datang karena sekadar FOMO atau penasaran. Toh sejak awal Gramedia memang tidak pernah mengklaim Jalma sebagai ruang baca yang harus hening seperti perpustakaan.
Ah, mungkin saja saya hanya rindu dengan konsep Gramedia yang lama. Jujur saja, saya agak sedih karena saya merasa kehilangan sesuatu yang selama ini saya anggap akrab.
Hilangnya sensasi berburu buku yang seru
Sebagai orang yang cukup sering mengunjungi Gramedia, saya tidak bisa bohong kalau masih sering membandingkan Gramedia Jalma dengan versi sebelumnya.
Contoh kecilnya, bau khas buku saat saya berjalan di antara rak yang disusun berhimpit-himpitan, lengkap dengan musik Kenny G yang mengalun dari pengeras suara. Sepertinya, hal itu tidak saya rasakan saat mengunjungi Gramedia Jalma tempo hari.
Salah satu hal yang paling saya rindukan adalah rak-rak buku yang dulu terasa lebih rapat dan padat. Mungkin bagi sebagian orang, tata ruang baru Gramedia Jalma jauh lebih nyaman karena terasa lega dan tidak sesak.
Akan tetapi, bagi saya, ada kesenangan tersendiri ketika berjalan di antara rak-rak buku sambil sesekali menemukan buku-buku di luar wishlist. Dulu saya sering datang dengan niat membeli satu buku, lalu pulang membawa dua atau tiga buku lain karena tidak sengaja menemukannya saat berkeliling.
Di Gramedia Jalma, pengalaman itu terasa sedikit berbeda. Tata ruang yang lebih terbuka memang membuat pengunjung lebih leluasa bergerak dan membuat keseluruhan tempat terlihat jauh lebih estetik.
Akan tetapi, saya merasa sensasi “tersesat” di antara rak buku yang dulu sering saya rasakan kini sudah berkurang. Padahal justru momen-momen seperti itulah yang sering membuat kunjungan ke toko buku menjadi menyenangkan.
Area alat tulis yang bikin kangen
Hal lain yang diam-diam saya rindukan adalah area alat tulisnya. Saya yakin banyak pelanggan Gramedia yang memahami perasaan ini. Dulu area alat tulis di Gramedia Pandanaran terasa banyak dan lengkap pilihannya.
Ketika berkunjung ke Gramedia Jalma, saya merasa pilihan alat tulis tidak lagi menjadi daya tarik utama seperti dulu. Wajar sebenarnya, karena Gramedia kini sedang menonjolkan konsep baru, di mana area alat tulis hanya berfungsi sebagai pemanis saja.
Akan tetepi, tetap saja, saya rasa tidak salah kalau saya tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sebagian kecil identitas Gramedia Pandanaran yang ikut berubah.
Semoga Gramedia Jalma Semarang tidak berhenti sebagai tempat foto-foto
Kalau sedang ingin merasakan suasana Gramedia yang lebih klasik, mungkin saya masih bisa menemukannya di beberapa cabang lain di Semarang. Saya harus berdamai bahwa Gramedia Jalma hadir sebagai versi baru toko buku yang memang ditujukan untuk kebutuhan zaman yang berbeda.
Terlepas dari kesedihan kecil saya, senang rasanya melihat Semarang memiliki destinasi baru selain mal yang sudah menjamur. Kalau perubahan itu bisa membuat lebih banyak orang masuk ke toko buku, mengenal buku, lalu akhirnya membeli dan membacanya, mungkin kesedihan kecil saya sebagai pelanggan lama adalah harga yang cukup layak untuk dibayar.
Satu hal yang saya harapkan adalah semoga rasa penasaran dan FOMO itu tidak berhenti di sana. Akan sangat disayangkan jika Gramedia Jalma hanya menjadi background foto untuk Instagram atau TikTok, lalu dilupakan begitu saja.
Penulis: Dini Sukmaningtyas
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
