Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Kerja Tanpa Tekanan dan Santai Itu Hanya Konten, Jangan Kegocek!

Indra Sanjaya oleh Indra Sanjaya
6 Mei 2023
A A
Kerja Tanpa Tekanan dan Santai Itu Hanya Konten, Jangan Kegocek!

Kerja Tanpa Tekanan dan Santai Itu Hanya Konten, Jangan Kegocek! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kerja tanpa tekanan itu mustahil ada, yang kalian lihat itu cuman sebatas konten

Kapan hari yang lalu, saya tak sengaja melihat unggahan Instagram salah satu perusahaan agency rintisan di lini masa saya. Unggahan tersebut menunjukkan bahwa kerja di situ menyenangkan dan terlihat santai. Tak kaget jika dalam tab komentar, penuh harapan orang yang ingin bekerja di situ.

ADVERTISEMENT

Tapi saya penasaran, dan saya coba stalking seluruh konten akun perusahaan tersebut. Tidak jauh berbeda dari konten sebelumnya yang tidak sengaja saya lihat ketika mengisi kegabutan dengan scrolling fitur reels instagram. Kontennya dominan menampilkan suasana menyenangkan saat bekerja, wajah-wajah karyawan yang good looking, dan CEO yang royal. Seolah ingin memberi tahu kepada kita bahwa bekerja di sana sangat nyaman dan tanpa tekanan.

Jujur, saya pun pernah seperti warganet tersebut, yang mengharapkan bekerja tanpa tekanan. Berangkat kerja, ngerjain kerjaan, senang-senang, pulang, dan dapat uang. Tapi, setelah melanglang buana di beberapa perusahaan dan organisasi, harapan itu hanyalah berakhir jadi angan-angan. Kewajiban memenuhi key performance indikator (KPI), target penjualan, klien yang komplain dan banyak maunya, koordinasi buruk sehingga berdampak pada capaian target kita, itulah beberapa tekanan yang saya rasakan selama berpetualang di beberapa tempat pemberi kerja.

Membedah kerja tanpa tekanan

Jika mereka memang benar-benar bekerja dengan santai seperti yang ditampilkan dalam kontennya, mari kita sedikit berandai-andai. Bayangkan ya. Jika dilihat dari frekuensi unggahan Instagram saja, mereka harus mengunggah satu konten per hari. Dengan frekuensi seperti itu, asumsinya, jika ingin tetap stabil, maka harus sudah menyiapkan content plan untuk satu minggu atau satu bulan ke depan. Itu baru content plan lho ya, belum kontennya!

Sedangkan untuk kontennya, setidaknya untuk satu minggu ke depan harus sudah aman dan tinggal upload. Terlihat dari kontennya, mereka selalu melibatkan karyawan lainnya, entah dari divisi mana pun, yang pastinya memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing. Bayangkan, bagaimana mereka harus mengatur waktu sedemikian rupa agar karyawan yang dibutuhkan untuk konten ikut dalam proses pembuatannya.

Belum lagi jika mereka diberi target minimal views, likes, dan comment untuk setiap konten yang diunggah. Saya yang membayangkannya saja sudah pusing dan mual. Bagaimana mereka yang betul-betul menjalankan tugas dan tanggung jawab itu. Kerja tanpa tekanan, anyone?

Itu baru bagian yang mengurusi konten, saya yakin masih ada bagian lainnya yang memiliki KPI dan target masing-masing, seperti marketing, finance dan lain sebagainya.

Baca Juga:

Konten Review Tanaman Bupati Lamongan Adalah Konten Pejabat Paling Membingungkan yang Pernah Saya Tonton, Nggak Paham Prioritas!

Konten “5 Ribu di Tangan Istri yang Tepat” Adalah Bentuk Pembodohan

Layar belakang yang ditutup rapat

Itulah layar belakang yang tidak mereka tampilkan. Barangkali, mereka sengaja memusatkan branding perusahaan dengan kultur kerja tanpa tekanan dan santai dengan tujuan agar para jobseeker tertarik untuk bergabung dengan mereka. Atau, barangkali itu memang strategi mereka untuk meningkatkan engagement karena mereka menyadari bahwa kultur kerja nyaman tanpa tekanan merupakan dambaan seluruh pekerja saat ini. Alias, kontennya adalah settingan.

Lho, baru tau kalau ini ada yang settingan?

Beberapa waktu lalu, ada konten tentang bos yang itu tuh, si paling menghargai dan sangat memberdayakan karyawan. Konten tersebut sempat bikin heboh banyak orang sampai bilang kalau bos seharusnya seperti si bos itu.

Di tengah-tengah gelombang kekaguman atas konten pemberian motivasi kepada karyawan, konten kenaikan gaji, dan pemberian kejutan untuk karyawan yang berulang tahun. Tiba-tiba, mantan karyawan si bos membongkar fakta di belakang layar. Kerjanya penuh dengan tekanan, pemotongan gaji yang serampangan, dan hal tak masuk akal lainnya.

Meminjam kata-kata pengamat politik, “Panggung depan yang ditampilkan oleh politisi, bisa berbeda dengan panggung belakang”. Begitulah kira-kira pesan yang bisa saya sampaikan kepada warganet yang terbuai dengan konten kultur kerja tanpa tekanan dari akun-akun perusahaan. Setiap pekerjaan, baik yang bekerja di depan laptop atau di lapangan, pasti memiliki tekanan yang harus ditanggung oleh pekerja. Setidaknya tekanan itu berupa kewajiban kita untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik sehingga menghasilkan keuntungan untuk perusahaan.

Toh juga kalau membaca requirement lowongan pekerjaan, tidak jarang kita melihat persyaratan harus “mampu bekerja di bawah tekanan”. Jadi, hilangkan itu bayangan kerja nyantai tanpa tekanan. Biar nggak kecewa dan selalu berandai-andai serta berhasrat untuk bergabung dengan perusahaan yang hanya menampilkan kultur kerja nyantai tanpa tekanan untuk konten semata.

Penulis: Indra Sanjaya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bukan Cuma Merugikan Mahasiswa, Unpaid Internship Juga Merugikan Perusahaan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2023 oleh

Tags: instagramkerja tanpa tekanankontensettingan
Indra Sanjaya

Indra Sanjaya

Lahir di Jakarta, besar di Bandung, tinggal di Jogja.

ArtikelTerkait

Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab dalam Silaturahmi

7 Mei 2020
Konten Review Tanaman Bupati Lamongan Adalah Konten Pejabat Paling Membingungkan yang Pernah Saya Tonton, Nggak Paham Prioritas!

Konten Review Tanaman Bupati Lamongan Adalah Konten Pejabat Paling Membingungkan yang Pernah Saya Tonton, Nggak Paham Prioritas!

22 Januari 2026
penangguhan penahanan gugatan hukum RCTI mojok.co

Di Balik Tirai Penolakan Pengabulan Penangguhan Penahanan JRX

11 Oktober 2020
Menerka Alasan Pekerja Cikarang Jarang Flexing Pekerjaan di Media Sosial

Menerka Alasan Pekerja Cikarang Jarang Flexing Pekerjaan di Media Sosial

17 April 2022
Hal yang Menguntungkan Ketika Menggunakan Fitur Instagram Private terminal mojok.co

Hal yang Menguntungkan Ketika Menggunakan Fitur Instagram Private

15 Desember 2020
twitter

Kenapa Kita Sering Beramai-ramai Membenci Orang Lain di Twitter?

10 Juni 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Jabatan korlas SD kini jadi momok bagi orang tua murid karena ada saja dramanya Mojok.co

Jabatan korlas SD kini jadi momok bagi orang tua murid karena ada saja dramanya

19 Agustus 2026
7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan Mojok.co

7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan

21 Agustus 2026
Menulis sastra itu menyenangkan, tetapi menjadikannya sumber penghidupan adalah cerita yang berbeda Mojok.co

Menulis sastra itu menyenangkan, tetapi menjadikannya sumber penghidupan adalah cerita yang berbeda

18 Agustus 2026
Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima Mojok.co

Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima

18 Agustus 2026
Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru Mojok.co

Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru

22 Agustus 2026
Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah Mojok.co lamongan

Sudah tahu jalan di Lamongan jelek, kok malah beli Honda Scoopy, aneh!

21 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.