Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai, padahal tinggal deket pantai?

Ni Putu Roshinta Dewi oleh Ni Putu Roshinta Dewi
18 Juli 2026
A A
Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai? (Unsplash)

Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai? (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Apa destinasi impian banyak orang di Indonesia? Saya yakin Bali masih selalu menjadi yang favorit. Alasannya ya nggak jauh-jauh dari liburan ke pantai. 

Ada yang terbayang pasir putih, ombak, melihat matahari terbenam di Kuta, berjemur santai di Sanur atau sekedar foto-foto estetik di Melasti. Pokoknya, Pulau Dewata itu identik dengan pantai. 

Tapi, lucunya, banyak orang Bali sendiri jarang liburan ke pantai. Termasuk saya, setiap pulang kampung jarang sekali merencanakan untuk liburan ke pantai.

Warlok Bali malah nggak kepikiran untuk liburan ke pantai

Saya pernah ngobrol dengan teman yang baru pertama kali liburan ke Bali. Schedule-nya padat banget. 

Hari pertama pergi ke Melasti, hari kedua pergi ke Pandawa, hari ketiga mengejar sunset di Jimbaran. Sementara saya malah bingung kapan terakhir kali sengaja liburan ke pantai. Rasanya sudah lama sekali. Kenapa bisa gitu ya?

Setiap pulang ke Bali, saya hampir nggak pernah berfikir untuk jalan-jalan, apalagi ke pantai. Waktu saya habis untuk keluarga, bantu-bantu di rumah, atau sekedar rebahan menikmati suasana kampung.

Lucunya, teman-teman pasti mengira kalau saya hapal semua pantai. Seolah-olah begitu lahir di Bali, otomatis saya punya pengetahuan lengkap tentang pantai-pantai tersembunyi, tempat melihat matahari terbenam terbaik, sampai warung seafood paling enak. Padahal kenyataannya, saya justru lebih sering jadi pendengar ketika mereka bercerita habis liburan ke Bali.

Kenapa liburan ke pantai tetap jadi favorit?

Mungkin jawabannya sederhana. Karena sesuatu yang kita lihat setiap hari lama-lama terasa biasa. 

Baca Juga:

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

Coba bayangkan kamu tinggal dekat pantai. Mau pergi ke mana saja, pasti melewati pantai. Mau beli makan, lihat laut lagi. Pulang sore, ketemu matahari terbenam. Jadi lama-lama terasa pantai bukan lagi tempat wisata, tapi cuma pemandangan di pinggir jalan.

Yah, mirip-miriplah dengan orang Jakarta yang jarang ke Monas, orang Jogja yang malas ke Malioboro, atau orang Bandung yang ogah ke Lembang saat akhir pekan karena macet. 

Bukan karena bosan atau tempatnya jelek, tapi karena rasanya, “Nanti kita bisa bisa ke sana kapan saja kita mau.” Nah, kata-kata itulah yang sering berujung nggak pernah. Hehe

Alasan lainnya, bagi sebagian orang Bali, pantai bukan tempat healing, tapi tempat kerja. Banyak masyarakat kami yang mencari nafkah dari kawasan pantai. 

Ada yang bekerja di hotel dengan view pantai, restoran di pinggir pantai, beach club, penyewaan papan selancar, hingga menjadi fotografer wisata pantai. Bayangkan kalau setiap hari bekerja di sekitar pantai, masak ya liburan ke pantai? Kan bosan, ya.

Rasanya sama seperti pegawai mall yang ketika libur malah main ke mall. Yang lebih menarik lagi, ketika hari libur datang, banyak masyarakat bali justru memilih pergi ke daerah dengan udara yang sejuk seperti Bedugul, Kintamani, atau Munduk. 

Bukannya liburan ke pantai, tapi mencari suasana baru dengan pergi ke pegunungan, danau, atau air terjun. Yah, namanya juga manusia, cenderung mencari sesuatu yang berbeda dari rutinitasnya. 

Kalau setiap hari sudah hidup di daerah yang panas dan dekat laut, saat liburan warga Bali tentu pengen mencari suasana baru.

Makna pantai buat warga Bali

Di sisi lain, pantai bagi masyarakat Bali juga punya makna yang berbeda dengan para wisatawan. Banyak pantai di Bali menjadi lokasi upacara adat dan keagamaan, seperti Melasti yang dilaksanakan menjelang Hari Raya Nyepi. 

Jadi, hubungan warga Bali dengan pantai nggak melulu soal berenang atau berjemur. Bagi kami, pantai menjadi bagian dari kehidupan budaya dan spiritual.

Belum lagi kalau musim liburan tiba. Jalan menuju pantai mulai macet, parkiran penuh, tempat makan antre, situasi menjadi sangat padat dan ramai, lautan wisatawan membuat sebagian masyarakat Bali merasa liburan ke pantai itu nggak nyaman.

Bukannya santai, yang ada justru makin pusing. Dan akhirnya masyarakat lokal memilih rebahan di rumah atau memilih pergi ke tempat yang lebih sepi dan jauh dari keramaian.

Lucunya lagi, kadang teman-teman saya mengingatkan saya bahwa kampung halaman saya adalah tempat yang indah. Melihat teman-teman saya rela nabung berbulan-bulan demi bisa menikmati pantai di Bali membuat saya berfikir: “Oh iya ya, ternyata selama ini yang saya anggap biasa adalah tempat impian banyak orang.”

Yang dekat terasa biasa

Ya begitulah sifat manusia. Yang jauh selalu tampak lebih menarik daripada yang dekat. Terkadang kita rela mengejar sesuatu yang belum kita miliki, sementara yang sudah ada di depan mata sering dianggap biasa.

Oh iya, ada satu faktor lagi yang sering terlupakan oleh wisatawan, waktu luang orang Bali nggak selalu benar-benar luang. Di balik citra Bali sebagai pulau wisata, kehidupan sosial masyarakat bali sangat aktif. 

Ada banyak kegiatan atau upacara agama, hingga berbagai kewajiban adat yang sangat membutuhkan waktu dan tenaga. Jadi, ketika akhir pekan, nggak semua orang bebas menentukan jadwal liburan ke pantai misalnya. 

Terkadang, waktu yang ada justru kami pakai untuk menjalankan kewajiban sosial dan budaya. Ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Karena itulah, anggapan bahwa orang Bali pasti sering liburan ke pantai nggak selalu tepat.  Jadi, kalau suatu hari kamu berkunjung terus bertanya kepada teman orang Bali “Pantai favoritmu apa?” Tolong jangan kaget kalau jawabannya malah “Wah nggak ada pantai favorit, udah lama juga nggak ke pantai.” 

Bukan karena nggak mencintai pantai, tapi mereka hanya terlalu akrab dengan pantai. Dan mungkin, keakraban memang sering membuat kita lupa untuk kembali mengagumi sesuatu yang dulu begitu Istimewa.

Penulis: Ni Putu Roshinta Dewi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Bali Bukan Cuma Ubud, Canggu, dan Kuta, 5 Tempat Ini Bisa Jadi Rekomendasi Saat Berkunjung ke Pulau Dewata

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2026 oleh

Tags: baliliburan ke baliliburan ke pantaipantai cangupantai di balipantau kutapulau balipulau dewata
Ni Putu Roshinta Dewi

Ni Putu Roshinta Dewi

Lahir di Jakarta. Scorpio sejati. Lulusan Administrasi. Suka musik dan nulis. Akun instagram: @niputuroshinta

ArtikelTerkait

Mengenal Upacara Nganten Keris, Pernikahan Tanpa Mempelai Pria di Bali terminal mojok

Mengenal Upacara Nganten Keris, Pernikahan Tanpa Mempelai Pria di Bali

4 September 2021
Lalu Lintas Bali Ngawur, Bikin Saya Bersyukur Tinggal di Surabaya

Lalu Lintas Bali Ngawur, Bikin Saya Bersyukur Tinggal di Surabaya

21 September 2024
Driver Ojol dan Taksol di Bali Amat Pantas Diberi Bintang 5, Pelayanannya Top Banget, Wajib Ditiru Driver Kota Lain

Driver Ojol dan Taksol di Bali Amat Pantas Diberi Bintang 5, Pelayanannya Top Banget, Wajib Ditiru Driver Kota Lain

10 September 2024
4 Hal yang Wajar di Bali, tapi Nggak Lumrah di Jogja Mojok.co

4 Hal yang Wajar di Bali, tapi Nggak Lumrah di Jogja

21 September 2024
Tari Kecak, Tarian Tradisional yang Kaya akan Filosofi Pulau Dewata terminal mojok

Tari Kecak: Tarian Tradisional yang Kaya akan Filosofi Pulau Dewata

20 Desember 2021
Rujak Kuah Pindang, Kuliner Khas Bali yang Jarang dilirik Pelancong Terminal Mojok

Rujak Kuah Pindang, Kuliner Khas Bali yang Jarang dilirik Wisatawan

23 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela Mojok.co

Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela

15 Juli 2026
Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

16 Juli 2026
Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua (Mojok.co/Aly Reza)

Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua

17 Juli 2026
4 jajanan tradisional Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya jauh berbeda Mojok.co

4 kuliner Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya berbeda

16 Juli 2026
Advan 360 Stylus: Laptop Lokal yang Bisa Jadi Tablet tapi Kurang Laris di Pasaran

Saya menyesal membeli laptop Advan, sebetulnya niat nggak sih bikin produk lokal yang bagus?

16 Juli 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar madura

3 hal langka di Madura, tapi umum di Jogja, sudah seharusnya Madura belajar pada Jogja!

16 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.