Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Mengenal Upacara Nganten Keris, Pernikahan Tanpa Mempelai Pria di Bali

Ni Komang Ayu Gita Astiti oleh Ni Komang Ayu Gita Astiti
4 September 2021
A A
Mengenal Upacara Nganten Keris, Pernikahan Tanpa Mempelai Pria di Bali terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Tak bisa dimungkiri kalau pernikahan adalah sesuatu hal yang amat sakral dan lazimnya hanya dilakukan sekali seumur hidup. Itulah mengapa orang-orang akan merencanakan pernikahannya dengan sangat matang, mulai dari memilih calon pasangan yang benar-benar dicintai, hingga mengikuti rangkaian tradisi sebelum akhirnya dinyatakan sah berumah tangga. Lantas, bagaimana jika rencana yang dibuat itu malah tidak berjalan sesuai dengan harapan? Amit-amit, loh ya! Semisal mempelai wanita sudah terlanjur hamil atau mempelai pria tidak hadir ke pernikahannya sendiri, maka nganten keris jadi solusi.

Nganten keris merupakan salah satu tradisi di Bali berupa upacara pernikahan yang dilakukan sendiri oleh mempelai wanita tanpa didampingi mempelai pria. Dalam upacara ini, sang wanita akan mengikuti serangkaian upacara pernikahan sesuai adat Bali, mulai dari memadik (meminang), mabyakala (penyucian diri), masakapan (upacara inti), sampai majauman (upacara lanjutan), dengan ditemani oleh sebilah keris sebagai perlambangan dari pasangannya. Secara kasar, nganten keris berarti menikah dengan keris. Terdengar aneh, bukan? Meski begitu, tradisi ini memang benar adanya.

ADVERTISEMENT

Upacara nganten keris memang sangat jarang terjadi, bahkan terbilang langka. Sepengalaman saya yang merupakan orang Bali asli dan tinggal di Bali sejak lahir, upacara pernikahan jenis ini baru pertama kali saya jumpai secara langsung, yakni saat tetangga saya melangsungkannya. Saya juga pernah menanyakan perihal nganten keris pada Mbah Google. Satu-satunya kasus yang muncul dan paling sering dipakai sebagai contoh adalah yang terjadi di Desa Bungaya, Kabupaten Karangasem, beberapa tahun silam.

Tradisi ini sendiri, konon, sudah ada di Bali sejak zaman kerajaan dulu. Saat itu, pernikahan antara raja atau bangsawan dengan gadis yang kastanya rendah (sudra) sangat dilarang. Maka dari itu, ketika raja hendak meminang gadis dari golongan sudra, digunakanlah sebilah keris sebagai simbol sang raja dalam pernikahan mereka. Dari sana, nganten keris akhirnya diadaptasi sebagai aturan adat atau “awig-awig” yang dapat digunakan pada saat tertentu. Sebut saja saat mempelai wanita mengalami kehamilan di luar nikah dan mempelai prianya absen dari upacara pernikahan mereka. Ketidakhadiran si mempelai pria bisa disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya karena si pria meninggal sebelum upacara pernikahan atau sedang bekerja di luar negeri dan tidak bisa pulang kampung seperti kasus tetangga saya. Kedua faktor itu yang saya ketahui dengan pasti merupakan syarat dilakukannya nganten keris. Kalau sibuk mabar sampai tidak datang ke pernikahan sendiri, sih, sepertinya nggak, ya.

Prosesi nganten keris hampir sama dengan pernikahan adat Bali pada umumnya. Hanya saja, si mempelai pria dilambangkan dalam bentuk keris. Berdasarkan kepercayaan masyarakat Bali, keris sering kali dianggap sebagai simbol dari kejantanan laki-laki atau disebut juga dengan purusa. Dalam serangkaian upacara pernikahan adat Bali, keris juga mengambil peran yang sangat penting. Misalnya saja dalam tahapan masakapan, keris dipakai untuk merobek tikeh dadakan, sebuah tikar kecil yang terbuat dari daun pandan muda sebagai lambang dari prakerti atau kesuburan perempuan. Dengan robeknya tikeh dadakan itu, maka pernikahan kedua mempelai baru bisa dianggap sah. Selain penggunaan keris, ada pula beberapa sarana yang diperlukan dalam pernikahan jenis ini. Salah satunya adalah rantasan yang berisikan busana adat Bali untuk pria seperti baju kemeja, kamben, saput, hingga udeng. Rantasan inilah yang dipakai sebagai perlambangan dari badan mempelai pria, sementara keris digunakan sebagai perlambangan dari purusa.

Seperti pernikahan pada umumnya, nganten keris juga tidak bisa dilakukan sembarangan. Diperlukan diskusi panjang antara pihak keluarga, mempelai wanita, pemuka agama seperti sulinggih, dan pejabat desa setempat untuk menemukan solusi dari kondisi sang wanita yang tengah hamil. Si wanita bisa saja memilih untuk menikahi pria lain atau melakukan prosesi nganten keris sebagai bentuk kesetiaannya. Jika memilih prosesi nganten keris, maka ia dan bayinya yang lahir nanti akan menjadi tanggung jawab keluarga purusa atau pihak pria. Mempelai wanita akan menerima hak dan kewajibannya sebagai menantu yang sah di keluarga si pria secara hukum, adat, dan agama, begitu pula dengan anaknya yang akan lahir. Singkatnya, nganten keris digunakan sebagai bentuk pertanggungjawaban keluarga purusa atas status sosial mempelai wanita dan anaknya, sekaligus menjalin hubungan yang harmonis antara dua keluarga.

Meskipun merupakan tradisi, nganten keris tergolong upacara pernikahan yang bisa dibilang cukup menyedihkan menurut saya. Secara logika, wanita mana yang mau memilih keris sebagai mempelai prianya? Tentu sedikit, atau mungkin tidak ada. Saya sendiri pun lebih memilih bersanding dengan pasangan yang memang saya cintai daripada dengan sebilah keris. Namun kembali lagi, kondisi yang menyebabkan hal itu terjadi. Kalau kata pepatah, kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Tuhanlah yang menentukan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Baca Juga:

Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai, padahal tinggal deket pantai?

3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok

Terakhir diperbarui pada 7 September 2021 oleh

Tags: balinganten kerisPernikahantradisi
Ni Komang Ayu Gita Astiti

Ni Komang Ayu Gita Astiti

Seorang gadis introvert penggemar komik yang malah terjun ke pariwisata.

ArtikelTerkait

Driver Ojol dan Taksol di Bali Amat Pantas Diberi Bintang 5, Pelayanannya Top Banget, Wajib Ditiru Driver Kota Lain

Driver Ojol dan Taksol di Bali Amat Pantas Diberi Bintang 5, Pelayanannya Top Banget, Wajib Ditiru Driver Kota Lain

10 September 2024
Park Shin Hye Nggak Lupa Vendor Pernikahan di Caption Instagram Mendobrak Dunia Pernikahan Artis Korea Terminal Mojok

Park Shin Hye Nggak Lupa Vendor Nikah di Caption Instagram Mendobrak Dunia Pernikahan Artis Korea

28 Januari 2022
hajatan

Kita Selalu Menjadi Juri di Hajatan Orang Lain

16 Mei 2019
Rujak Kuah Pindang, Kuliner Khas Bali yang Jarang dilirik Pelancong Terminal Mojok

Rujak Kuah Pindang, Kuliner Khas Bali yang Jarang dilirik Wisatawan

23 Januari 2022
Sisi Gelap Pernikahan di Desa, Sudah Menggadaikan Sawah Demi Biaya Hajatan, Masih Aja Jadi Omongan Tetangga Mojok.co

Sisi Gelap Pernikahan di Desa, Sudah Gadaikan Sawah Demi Biaya Hajatan, Masih Aja Jadi Omongan Tetangga

24 Juli 2025
daftar tamu undangan pernikahan ra srawung rabimu suwung seserahan adik nikah duluan gagal nikah dekorator pernikahan playlist resepsi pernikahan mojok

Jenis-jenis Pertanyaan Menyebalkan yang Sering Ditujukan ke Dekorator Pernikahan

5 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi Puncak Pulek Cilacap: Ramai Dikunjungi karena Viral, padahal Area Privat

Ironi Puncak Pulek Cilacap: ramai dikunjungi karena viral, padahal area privat

15 Juli 2026
Liburan idaman orang dewasa itu sederhana, bisa rebahan tanpa diganggu notifikasi kerja Mojok.co

Liburan idaman orang dewasa itu sederhana, bisa rebahan tanpa diganggu notifikasi kerja

21 Juli 2026
Sendang Senjoyo dulu jadi primadona, kini banyak orang nggak sudi buat ke sana!

Sendang Senjoyo dulu jadi primadona, kini banyak orang nggak sudi buat ke sana!

19 Juli 2026
Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela Mojok.co

Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela

15 Juli 2026
Di Mata Kurir, Metode Pembayaran COD Lebih Baik Dihapuskan Mojok.co kurir paket

Lika-liku kurir saat mengantar paket COD ke desa, kadang jadi pahlawan, seringnya jadi pesakitan

16 Juli 2026
Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang  Mojok.co

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang 

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.