Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Kenapa Kekerasan di Pondok Pesantren Tak Mudah Viral seperti Kekerasan di Sekolah?

Mohammad Maulana Iqbal oleh Mohammad Maulana Iqbal
15 Oktober 2023
A A
Kenapa Kekerasan di Pondok Pesantren Tak Mudah Viral seperti Kekerasan di Sekolah?

Kenapa Kekerasan di Pesantren Tak Mudah Viral seperti Kekerasan di Sekolah? (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kenapa kekerasan di pondok pesantren seakan-akan lenyap dari dunia, dan jarang sekali viral?

Kita sudah sangat menyadari, bahkan bersepakat dengan seksama tentang hukum rimba di negeri Wakanda, yakni “no viral no justice”. Tentang bagaimana hukum bisa ditegakkan, diusut, bahkan diproses kalau viral terlebih dahulu. Entah apa pun itu kasusnya, kalau dah viral duluan ya pasti kok dilirik aparat kita.

Salah satunya yakni kasus kekerasan di sekolah yang beberapa waktu lalu banyak diperbincangkan. Kasus pencolokan mata yang dialami siswa SD di Gresik nggak bakal diusut kalau nggak viral dulu. Kasus pembacokan guru di Demak yang baru diusut setelah videonya viral di sosial media. Bahkan kasus bullying di Cilacap juga baru diproses hukum ketika viral. Oke, benar berarti no viral no justice.

Namun, pertanyaannya adalah apakah aturan sosial ini juga berlaku di institusi pendidikan yang lain seperti pesantren?

Memang bahwa kasus kekerasan seksual di pesantren juga beberapa kali viral dan diproses tuntas. Namun, bagaimana dengan model-model kekerasan yang lain? Kekerasan fisik, verbal bahkan simbolik apakah pernah mencuat di publik? Kalau viral saja nggak bisa, bagaimana memprosesnya? Apalagi mendapat keadilan atas berbagai kekerasan yang terjadi di lingkungan pesantren.

Pondok pesantren adalah institusi semi militer

Mungkin sudah tak menjadi rahasia lagi bahwa pesantren itu adalah institusi pendidikan semi-semi militer. Khususnya pesantren tradisional yang masih menerapkan sistem pendidikan klasik, tempo jadul, atau pendidikan yang masih kolot banget, yang apa-apanya mengandalkan fisik.

Saya adalah alumni di salah satu pesantren di Gresik, dan sedikit banyak telah menjelajah di beberapa pesantren tradisional di Jawa Timur dan Jawa Tengah ketika bulan Ramadan. Ketika mendengar pengalaman santri-santri lain di luar pesantren saya, semuanya memiliki keserupaan dengan apa yang saya alami juga, bahwa kekerasan di pesantren adalah hal yang lumrah bahkan dinormalisasi sebagai tradisi.

Ada santri yang merokok, digunduli, dipotong nggak karuan rambutnya, bahkan ada yang badannya ditusuk pakek bara rokok. Ketika ada santri yang mencuri, kepalanya disiram air got oleh pengurus, bahkan sebelum itu digebukin oleh santri sampek babak belur. Telat berjamaah satu rakaat bakal kenak satu hempasan rotan. Nggak sekolah, disuruh lari muter lapangan pesantren. Santri senior yang bebas memerintah, mukul, bahkan membully santri yang lebih junior. Bahkan paling mengerikannya ada santri yang membunuh santri lainnya.

Baca Juga:

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Keluh Kesah Alumni Program Akselerasi 2 tahun di SMA, Kini Ngenes di Perkuliahan

Kalau saya boleh membandingkan, kekerasan di sekolah yang kerap viral itu nggak ada apa-apanya dengan kekerasan di lingkungan pesantren. Liat saja kekerasan seksual di pesantren lebih mengerikan bahkan sampai punya anak, merenggut banyak korban, bahkan seperti perbudakan, jika daripada kekerasan seksual di sekolah. Pesantren itu udah nggak hanya sekelas akademi polisi, tapi udah militer yang sangat mengerikan. Taruhannya udah seperti hidup dan mati.

Beberapa pesantren tidak diperbolehkan membawa HP

Pertanyaannya adalah mengapa berbagai kekerasan di pondok pesantren itu sulit untuk viral, bahkan rasanya sulit menjadi perbincangan publik?

Mohon maaf ya di pesantren saya itu pernah ada kasus pengeroyokan santri hingga babak belur. Bahkan pihak korban keluarga itu sempat melaporkan polisi, dan sampai aparat sudah datang di pesantren. Tapi, sayangnya kasus itu lagi-lagi tidak sampai viral, bahkan nggak sampai diproses hingga tuntas. Lagi-lagi diselesaikan secara kekeluargaan.

Ternyata pertanyaan tentang kenapa kok kekerasan di pesantren nggak sampai viral itu salah satunya jawabannya cukup sederhana. Sebab, di beberapa pesantren itu nggak memperbolehkan santrinya membawa HP. Boro-boro mau ngeposting dan ngeviralin, lah wong main medsos aja nggak pernah.

Mentok yang boleh membawa HP ya pengurusnya doang. Dan, nggak mungkin juga dong selaku pengurus ngevideoin kekerasan di pesantren. Lah wong dia pelakunya, apalagi pengurus memiliki beban yang lebih dari kiai untuk merawat pondok pesantren, termasuk menjaga nama baik.

Unsur kepatuhan berlebih demi barokah

Nah, di titik yang paling substantif dari kenapa kekerasan di pesantren nggak seviral di sekolah adalah karena ada relasi kuasa yang sangat tinggi, antara kiai, pengurus dan santri. Dan, dari relasi ini menciptakan kepatuhan yang sangat berlebih dari hierarki tertinggi hingga ke bawah dengan dalih barokah.

Percaya nggak percaya, sepatuh-patuhnya seorang siswa, itu masih patuhan santri. Siswa kalo disuruh aneh-aneh pasti ada berontaknya, meskipun dikit-dikit. Lah, kalo santri, diperintah A ya A, B ya B, masuk jurang ya masuk jurang. Dalihnya adalah barokah. Seolah-olah fungsi otak seorang santri itu dinonaktifkan dan diganti dengan kebarokahan. Dikit-dikit berkah, dikit-dikit berkah.

Satu sabetan rotan dianggap barokah, dua kali berarti dua barokah. Disiram air got dianggap mandi barokah. Dibuanting dianggap dibanting keberkahan. Digunduli dianggap merontokkan kesialan dan diganti dengan keberkahan.

Diskursus wacana

Inilah yang kemudian oleh filsuf kondang Michel Foucault disebutkan bahwa kekuasaan dan penundukan itu berlangsung melalui diskursus wacana. Jadi, para santri diberi pengetahuan bahwa apa pun yang dilakukan padanya oleh pesantren adalah kebaikan, keberkahan, apa pun itu, jadi harus nurut dan nerima begitu saja, tanpa mempertanyakan bahkan menentangnya.

Ya, gimana ya, patuh sih boleh, tapi goblok jangan. Santri itu boleh dan sah-sah saja patuh, nurut, tapi tolong otaknya difungsikan, jangan seperti otak udang. Karena manusia dilahirkan untuk berpikir, bukan menjadi robot.

Kepada para pengurus maupun pelaku pesantren, plis, jadikan pesantren lebih ramah pada santri. Apa pun itu bentuk pesantrennya, kekerasan sudah nggak relevan lagi bagi santri. Pesantren bukan akademi militer, ia adalah akademi ilahiah yang tidak membenarkan kekerasan.

Kalau sekolah nggak boleh ada kekerasan, pesantren pun juga nggak boleh ada kekerasan.

Penulis: Mohammad Maulana Iqbal
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Pondok Pesantren, dari Maling Kutang hingga Menyukai Sesama Jenis

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2023 oleh

Tags: KekerasanPondok PesantrenSekolahviral
Mohammad Maulana Iqbal

Mohammad Maulana Iqbal

Lulusan Magister Sosiologi yang doyan ngulik isu konflik, identitas dan dinamika sosial. Selain menjadi kapitalis toko fotocopy, sehari-hari juga disibukkan dengan kegiatan membaca, menulis dan riset. Sedang berkeringat melahirkan komunitas riset.

ArtikelTerkait

Petugas TU, Tugasnya Begitu Penting, tapi Kadang Bertingkah seperti Orang (Sok) Penting

Petugas TU, Tugasnya Begitu Penting, tapi Kadang Bertingkah seperti Orang (Sok) Penting

18 Agustus 2024
5 Pengalaman Unik Saya sebagai Gen Z yang Bekerja sebagai Guru Mojok.co

5 Pengalaman Unik Saya sebagai Gen Z yang Bekerja sebagai Guru

28 Agustus 2024
Fenomena Sekolah Kekurangan Murid, Apa yang Salah dari Sistem Pendidikan Kita Terminal Mojok

Fenomena Sekolah Kekurangan Murid, Apa yang Salah dari Sistem Pendidikan Kita?

30 Juli 2022
7 Rekomendasi Toko Alat Tulis Murah dan Terpercaya di Shopee

7 Rekomendasi Toko Alat Tulis Murah dan Terpercaya di Shopee

26 Juni 2023
bullying perundungan sekolah mojok

Bullying Masih Subur karena Sekolah Lebih Fokus Ngurusin Rambut dan Kaos Kaki

8 Oktober 2022
#PolisiSesuaiProsedur smackdown

Ironi #PolisiSesuaiProsedur: Kemarin (Berusaha) Romantis, Sekarang? Nilai Sendiri

14 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bukber Berkedok Reuni Itu Scam- Arena Bunuh Teman (Unsplash)

Bukber Berkedok Reuni Itu Seperti “Scam”: Adu Outfit, Adu Gaji, Adu Kerjaan, Ujung-ujungnya Adu Nasib

1 Maret 2026
7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup Mojok.co

7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup

24 Februari 2026
Alun-Alun Pekalongan: Tempat Terbaik untuk Belanja Baju Lebaran, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku

Pekalongan Masuk Jawa Tengah, tapi Secara Budaya Lebih Dekat dengan Atlantis

28 Februari 2026
Yamaha NMAX, Motor yang Tidak Ditakdirkan untuk Dimodifikasi Mojok.co

Yamaha NMAX, Motor Gagah tapi Perawatannya Tak Sama seperti Matic Biasa Lainnya

25 Februari 2026
6 Dosa Penjual Jus Buah- Ancam Kesehatan Pembeli demi Cuan (Unsplash)

6 Dosa Penjual Jus Buah yang Sebetulnya Menipu dan Merugikan Kesehatan para Pembeli Semata demi Cuan

26 Februari 2026
Pulang ke Lembata NTT Setelah Lama Merantau di Jawa, Kaget karena Kampung Halaman Banyak Berubah Mojok.co

Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.