Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Kenapa Becandaan di Twitter Nggak Laku di Facebook?

Dini N. Rizeki oleh Dini N. Rizeki
10 Maret 2020
A A
Netizen Twitter Adalah Antagonis Paling Kejam dan Fakta-fakta Lainnya Kenapa Becandaan di Twitter Nggak Laku Dibawa ke Facebook?

Netizen Twitter Adalah Antagonis Paling Kejam dan Fakta-fakta Lainnya Kenapa Becandaan di Twitter Nggak Laku Dibawa ke Facebook?

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah berapa lama kalian aktif menggunakan media sosial sebagai tempat gaul? Saya sih sudah lama, karena dulunya juga pernah kerja di warnet otomatis saya adalah pengikut setia perkembangan media sosial. Dimulai dari chat ala room di mIRC, Yahoo! Messenger, munculnya Friendster yang sempat sangat hype sampai lahirnya Facebook yang diikuti oleh berbagai platform lain yang bukan hanya bisa diakses dari personal computer melainkan bisa juga dari gawai masing-masing.

Setiap platform tentu punya kekurangan dan kelebihan, dan juga pastinya punya penggemar tersendiri. Ada beberapa orang yang hanya nyaman main di Facebook tanpa mau mengikuti perkembangan platform lainnya, ada juga yang jadi penyembah setia Twitter dan menganggap platform lain itu kurang bagus. Ada, banyak.

Saya memakai semua platform itu, karena semakin lama saya menyadari ada beberapa hal yang misalnya saya sampaikan di Twitter akan ditanggapi dengan baik oleh netizen tapi belum tentu akan baik juga tanggapannya bila saya unggah di laman Facebook.

Saya aktif menggunakan Facebook sejak tahun 2009, lalu off di tahun 2016. Bikin akun baru khusus untuk tulisan tahun 2017 lalu saya non-aktifkan lagi karena mendadak saya merasa isi Facebook sudah tidak asyik lagi. Banyak yang alay, banyak emak-emak menggunakan Facebook hanya untuk ghibah bahkan juga sudah dimanfaatkan oleh beberapa golongan untuk mengumbar hoax dan hate speech. Saya tidak nyaman.

Tahun 2019 karena butuh akun dan fanpage untuk komunitas menulis, saya bikin akun baru lagi di Facebook. Hasilnya? Alamakjan, semakin menjadi-jadi. Beberapa grup menulis dan akun yang saya ikuti juga ternyata isinya hanya orang-orang yang bahkan sampai punya dua atau tiga akun alter entah dengan tujuan apa, mereka saling sikut saling tikung, juga rebutan cinta semu dan jadi ajang selingkuh. Saya patah hati.

Di Twitter kemudian saya menemukan beberapa cuitan yang bilang bahwa memang ada hal-hal juga candaan yang memang tidak bisa kita bawa ke Facebook. Jadinya malah aneh katanya. Apakah ini karena pengaruh pemikiran para penggunanya? Ya, saya rasa begitu.

Twitter yang sebagian besar penggunanya adalah kaum muda kadang merasa tidak ingin disetarakan dengan pengguna Facebook yang kebanyakan adalah anak baru gede, anak SD, bahkan orang tua yang baru mulai gaul dan mengenal media sosial.

Begitu juga dengan pengguna Facebook yang merasa anak Twitter itu sok eksklusif, sok iye, sok pinter. Jadi apa pun bahasan dan candaan yang berasal dari Twitter mereka nggak mau terima. Katanya terlalu bar-bar, terlalu vulgar. Entah di sebelah mananya saya juga bingung.

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Akun Affiliate yang Jualan Numpang Tragedi Itu Biadab, dan Semoga Nggak Laku!

Saya coba membuktikan hal ini, beberapa kali saya membahas hal yang agak serius misalnya tentang kepenulisan di Twitter, cuitan saya ditanggapi oleh beberapa teman dan akhirnya menjadi bahan diskusi kami. Saya giring bahasan ini di Facebook, nggak ada yang menanggapi. Paling banter cuma satu dua orang yang kasih jempol. Itu pun kalau diseriusi diajak membahas nggak bakalan mau respon. Padahal circle saya ya sama baik di Twitter maupun Facebook, para orang-orang yang ngakunya penulis juga.

Begitu juga kalau bahas becandaan. Hal lucu yang bisa kita tertawakan dengan puas di Twitter, cobalah bawa ke Facebook. Yang ada malah dihujat, dikata-katain. Saya pernah mengunggah sebuah gambar/meme yang ramai dibahas di Twitter dan jadi bahan hiburan tentang perbedaan agama sepasang kekasih ke Facebook. Hasilnya? Habis saya dihujat.

Dari yang dibilang guyonan nggak lucu, sampai yang bawa-bawa hadist bahwa memang sejatinya kalau cari pasangan ya kudu yang seagama. Saya malah berasa dapat ekstra kultum subuh.

Haelah, Jenab! Nggak bisa banget diajak becanda ya?

Herannya, kalau yang saya unggah adalah becandaan yang cenderung seksis atau bawa-bawa urusan pelakor dan sebagainya pasti banyak yang menanggapi dengan ikutan tertawa atau kasih komen yang nyeleneh-nyeleneh. Dijamin ramai deh kalau udah mengunggah urusan yang kayak begini, pada demen mereka tuh di Facebook.

Kalau bisa diambil beberapa kesimpulan, mungkin begini: perbedaan pendidikan mempengaruhi cara mereka menanggapi suatu masalah, begitu juga perbedaan usia dan golongan. Perbedaan prioritas bahan diskusi dan becandaan juga ikut andil. Yang bagi kita penting, bagi mereka tidak. Begitupun sebaliknya.

Ya intinya beda lah ya. Jadi jangan coba-coba bawa becandaan ala Twitter ke Facebook kalau nggak ingin kena damprat kayak saya.

BACA JUGA Twitter itu (Sedikit) Menyebalkan atau tulisan Dini N. Rizeki lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Maret 2020 oleh

Tags: anak twitterbercandaan anak twitterFacebookTwitter
Dini N. Rizeki

Dini N. Rizeki

Penulis, editor, copywriter, sekaligus seorang ibu. Sering menulis tentang bisnis, keuangan, wirausaha, hingga kuliner. Saat ini sedang asyik menulis ulasan film.

ArtikelTerkait

Kenapa Selalu Ada Orang yang Posting Foto Selfie pada Hashtag yang Sedang Trending di Twitter?

Kenapa Ada Orang yang Posting Foto Selfie pada Hashtag yang Sedang Trending di Twitter?

23 Januari 2020
Drama Safa Space di Twitter Ketika Bela Idola Sudah Melampaui Level Bela Negara Terminal Mojok

Drama Safa Space di Twitter: Ketika Bela Idola Sudah Melampaui Level Bela Negara

20 Mei 2022
4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang Mojok.co

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

9 Desember 2025
konsensus nomor ponsel

Konsensus Juga Tentang Nomor Ponsel, Sayang

18 Mei 2019
facebook ngawi ngawinan mojok

Dear Facebook, Plis Banget Taruh Ngawi pada Provinsi yang Sebenarnya. Masak Ngawi di Jawa Tengah?

12 September 2021
facebook

Menjadi Orang yang Berbeda di Facebook, Twitter, dan Instagram

21 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Rekomendasi Kue Kering Holland Bakery yang Cocok Jadi Suguhan saat Lebaran Mojok.co

4 Rekomendasi Kue Kering Holland Bakery yang Nggak Mengecewakan dan Cocok Jadi Suguhan Lebaran

26 Februari 2026
Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar Mojok.co

Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar

21 Februari 2026
Tiga Jalan Menuju Revolusi: Tan Malaka, Soekarno, dan D.N. Aidit

Tiga Jalan Menuju Revolusi: Tan Malaka, Soekarno, dan D.N. Aidit

27 Februari 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

UNNES Semarang Rajin Menambah Mahasiswa, tapi Lupa Menyediakan Parkiran yang Cukup

24 Februari 2026
Rapat Pejabat Indonesia, Mahal di Konsumsi, tapi Minim Substansi. Lebih Fokus ke Gedung Rapat dan Konsumsi ketimbang Isi Rapat!

Orang Indonesia Suka Banget Rapat, tapi Nggak Suka Ambil Keputusan, Akhirnya ya, Rapat Lagi!

22 Februari 2026
5 Barang Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek-merek yang Sudah Besar Mojok.co

5 Produk Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek yang Sudah Besar

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO
  • Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah
  • Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya
  • Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali
  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya
  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.