Kemunculan (Kembali) Mas-mas Rambut Emo: Uraian dalam Kacamata Teori Konspirasi – Terminal Mojok

Kemunculan (Kembali) Mas-mas Rambut Emo: Uraian dalam Kacamata Teori Konspirasi

Artikel

Gusti Aditya

Satu dekade lalu, siapa sih yang nggak ingin punya rambut seperti Onadio Leonardo atau Oliver Sykes? Rambut licin berponi—biasanya ke arah kanan karena kanan arah yang baik—lalu menutupi dahi, setengah hidung, dan pipi kanan. Tapi, sisi kirinya juga panjang, ke arah bawah sampai dagu. Nah, kenapa sih ada modelan rambut seperti ini? Sebenarnya hal ini ngalir saja, menyesuaikan dengan skema permusikan di Amerika sana. Jika rambut mohawk lahir dalam kandung badan band punk, maka model rambut seperti ini lahir dalam skema band-band emo sehingga dinamakan “rambut emo”.

Saya nggak akan membahas sejarah musik emo yang lahir ketika meredupnya hardcore di awal ’90-an atau kebanyakan lagu-lagu emo adalah berjenis musik keras dengan lirik yang puitis yang penuh akan pengakuan diri sendiri. Hingga muncul sub-genre seperti screamo yang di Indonesia terkenal di awal 2000-an. Nggak, nggak akan ke sana, karena penganut “emo yang terlahir kembali” ini tidak memedulikan bahasan tentang musik. Titik fokus mereka adalah gaya rambut dan sedikit modofikasi. Titik.

Saya juga nggak akan memakai terminologi jamet, kuproy, atau pembantu jawa lantaran panggilan tersebut melecehkan. Tidak semua mas-mas emo ini berprofesi sebagai kuli proyek. Bahkan ada yang seleb Smule dan top global Tiktok. Juga, tidak hanya berasal dari Jawa, melainkan gerakan ini masif muncul di kota-kota di seluruh Indonesia. Dan lagi, kalau emang kuli proyek juga kenapa lho. (Masak Mas JRX nggak tertarik membedah konspirasi ini?)

Kenapa belakangan ini muncul lagi mas-mas emo? Yang muncul pun lebih ekstrem karena panjang rambutnya sudah di luar ambang batas. Ada pula yang menjulang tinggi bagai piramid seperti di Jalan Parangtritis. Hmm, saya melihat ada bentuk segitiga di sana. Apakah ini sebuah kebetulan? Tentu tidak.

Kebanyakan dari mereka ini muncul dalam platform Tiktok dengan musik latarnya “Dindin Badindin”. Entah yang dimaksud oleh mereka itu apa, namun ketika mereka mulai jejogetan, sedikitnya kita paham bahwa mas-mas emo ini tidak mau melupakan budayanya sendiri. Dengan goyangan ke kanan dan ke kiri, lompat dari satu ubin ke ubin yang lain dan tangannya ia gerak-gerakan seperti hendak pencak silat.

Entah karena bosan dengan headbang ala MCR atau Alesana, mas-mas emo banting setir menuju jejogedan dengan enaknya. Tapi tidak sampai situ. Ada yang bahkan ngapurancang, kemudian jejogetan seperti memadukan tarian daerah dengan kejang-kejang. Ada yang hanya diam, tangannya masuk kantong dan rambutnya berkibar-kibar. Ada pula yang wajahnya di kasih putih-putih entah dari odol atau dari dempul. Maksudnya sih niruin wajah Joker, diserem-seremin. Tuh kan, saya malah merinding sendiri jika ngomongin konspirasi ini. Takutnya, ada elit global di depan rumah saya yang menyamar jadi tukang bakso.

Kelakukan mas-mas emo yang sering dikasih julukan eboys atau emo boys ini juga terkadang bikin heran. Tingkahnya bener-bener out of the box bin random. Tidak ada yang bisa diprediksi seperti pacar ngechat “oke” ini juntrugnya bakal ke mana. Seperti dalam video yang satu ini:

Ya, nggak papa, emang nggak masalah. Ekspresi diri kok dikomentarin. Ya, tho? Tapi pernah kepikiran nggak sih fenomena ajaib ini bisa datang lagi. Sesuatu yang pernah keren di dekade lalu, bisa terulang kembali di masa kini. Ada banyak tanda tanya besar, dan memang fashion atau gegayaan ini ujung-ujungnya selalu berputar bak samsara. Tapi, datangnya mas-mas emo ini patut dicurigai. Di saat mas-mas gondrong senja kopi menghegemoni, kok ya bisa-bisanya mas-mas emo ini bangkit dan menemukan eksistensinya lagi?

Baca Juga:  Divisi Acara Pantas Dinobatkan sebagai Kasta Tertinggi dalam Kepanitiaan

Teori Konspirasi di balik pengulangan tren rambut emo #1 Gara-gara reuni My Chemical Romance

Ketika Gerard Way menurunkan egonya untuk kembali ngeband bersama My Chemical Romance, saya yakin di bawah tanah sana kaum mas-mas emo bersorak sukacita. “Akhirnya kita bisa keluar dan menunjukan eksistensi kita,” barangkali begitu kurang lebih percakapan mereka. MCR memang bukan perintis emo, namun masa-masa terang emo ada ketika mereka bangkit dengan lagu-lagunya yang tidak mungkin terlupakan walau mereka sempat cerai dan menimbulkan patah hati berkepanjangan bagi diri saya pribadi.

Reuninya mereka, ternyata menimbulkan satu percik bahwa model rambut poni lempar ini emang bener-bener ngangenin. Ketika mendengar wawancara julid Jonas Brothers bersama Radio KISS FM yang menyebut mereka mendengar MCR sedang latihan, sontak rasanya ingin panjangin rambut dan hitamkan mata dengan cara tidak tidur tiga hari biar kayak Gerard Way. Rasa itu muncul tanpa disadari, dan ketika saya sudah sadar, saya yakin ini ulah konspirasi antek-antek mas-mas emo.

Mungkin kembalinya imam besar umat emo ini menjadi pemacu mas-mas emo ini berani untuk bangkit dan menunjukan eksistensi diri. Sisi lain saya geli, sisi lain saya respect karena selama ini masih ada yang mengusung tradisi suci—memanjangkan poni—bagi para pemeluknya.

Teori Konspirasi di balik pengulangan tren rambut emo #2 Gara-gara reuni Killing Me Inside

Kabar ini santer terdengar di pertengahan tahun lalu kala masing-masing personel, Onad, San San dan Raka, memberi kode-kode di media sosialnya. Benar saja, menyusul MCR, Killing Me Inside yang pernah menjadi duta poni lempar di Indonesia ini mengadakan reuni pada acara Synchronize Festival 2019. Membawakan lagu-lagu lawas mereka, jiwa emo saya memberontak.

Ini bisa saja menjadi faktor pendorong mas-mas emo kembali muncul ke permukaan. Saya ingat betul ketika mereka manggung di daerah Sleman. Saya yang masih SD, melihat mereka dari jauh seperti pentol korek yang dikasih rambut panjang. Dan anehnya, mereka ini adalah tonggak sejarah naik daunnya model rambut poni lempar yang bertahan cukup lama di Indonesia. Apakah kebetulan? Saya rasa perlu seorang Henry Makow menulis perihal korelasi antara keduanya.

Teori Konspirasi di balik pengulangan tren rambut emo #3 Gambar keren di medsos

Nah, dari mana munculnya selera tersebut, menengok dalam Top Collection di tempat potong rambut nggak pernah ada gambarnya Sonny Moore atau Shawn Milke. Saya mencurigai bahwa trend rambut ini muncul melalui foto-foto keren di warnet atau yang berseliweran di Facebook. Biasanya, ada seorang pria berambut panjang dan kemudian di sampingnya ada tulisan “Aku tak perlu seorang teman, yang aku perlu adalah sosok sahabat yang menemaniku” terus ada watermark tulisannya “Komunitas Editor Photo Sejatie”. Hm….

Baca Juga:  Memaknai Pulang dalam Lagu 'Mercusuar' Milik Kunto Aji

Iya, bener, percampuran antara gambar keren dan quotes khas warnet. Kalau kalian ke warnet, cari saja dibagian picture pasti ada foto-foto seperti ini untuk koleksi dan dibagikan via Bluetooth dan dipasang untuk wallpaper ponsel. Nah, yang download gambar tersebut (maaf suudzon) adalah mas-mas emo ini. Coba aja search kata kunci “gambar emo keren” di mesin pencarian, maka wisata masa lalu yang akan kamu dapatkan. Kok saya hapal, ya? Sudah, nggak usah diperpanjang.

Teori Konspirasi di balik pengulangan tren rambut emo #4 Mereka bukan muncul, tapi dari dulu sudah ada

Setelah saya kulik-kulik lagi, mondar-mandir membuka YouTube dan paltform lainnya. Saya menemukan sebuah pengejawantahan bahwasannya mereka ini dari dulu sudah ada. Tapi namanya bukan Tiktok, melainkan Musicaly yang bisa membuat pusing si penonton videonya. Mereka bahkan juga membentuk komunitas tertentu.

Jauh sebelum twibon-twibon khas Maba atau anak-anak BEM buat event, mas-mas emo ini juga punya twibon tersendiri. Tapi, mereka pergunakan untuk salah satu platform karaoke bernama Smule. Beneran, ada, saya nggak mau menyebut nama komunitas karena nggak enak. Tapi, saya apresiasi, mereka-mereka ini selalu melahirkan “karya” sejak dalam masa-masa Musically, Smule, dan kini Tiktok. Tapi menjadi pertanyaan, mengapa mereka ini bergerak sekarang? Berbarengan dengan bangkitnya MCR dan KMI.

Teori Konspirasi di balik pengulangan tren rambut emo #5 Mereka sebenarnya Klan Uchiha

Iya, jangan-jangan mereka adalah Klan Uchiha sebagai intel dan pengamat negara tetangga, Konoha. Saya mulai curiga ketika mereka sukanya pakai baju hitam. Ini maksudnya apa coba? Kenapa mereka Sasuke-kun banget. Aw. Kemudian celananya belel yang belelnya bukan main-main lagi lebarnya. Masukin kepala orang ke dalam belel di celananya mungkin bisa. Mungkin saja mereka baru saja duel antar ninja, jadi celana belel itu bukan style, tapi bekas luka akibat dicabik Kurama. Rambutnya yang belah pinggir ke kanan itu seperti Sasuke Uchiha, yang agak cepak tapi nggak kalah badai seperti Shishui Uchiha dan yang belah tengah itu the one and only Itachi Uchiha.

Saya yakin tujuan mas-mas emo ini bukan daya tarik untuk lingkungan karena secara tidak langsung, Sasuke effect yang mereka hadirkan secara naluriah telah memberikan mereka kekuatan untuk menjadi perhatian lingkungan. Tujuan mereka juga bukan uang, karena sesungguhnya Klan Uchiha sudah diberkahi semuanya. Apa lagi fame, karena mereka sudah mencakup seluruh kategori di dalamnya. Tujuan mereka adalah satu, menyelamatkan Konoha dan mas-mas emo ini adalah anak buah Itachi dan kemudian mereka akan masuk anggota bayangan Akatsuki.

BACA JUGA Ketika Pogung Jadi Lokasi Syuting Film Maze Runner dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.