Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Kelas Unggulan: Proyek Ambisius Dunia Pendidikan yang Nggak Baik-baik Amat

Erma Kumala Dewi oleh Erma Kumala Dewi
12 Oktober 2022
A A
Kelas Unggulan: Proyek Ambisius Dunia Pendidikan yang Nggak Baik-baik Amat

Kelas Unggulan: Proyek Ambisius Dunia Pendidikan yang Nggak Baik-baik Amat (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kelas unggulan. Mendengar hal tersebut saja, rasanya sudah merinding kita. Yang ada di pikiran kita, kelas ini dihuni siswa dengan kemampuan di atas rata-rata. Calon pemimpin bangsa. Orang-orang yang akan membawa negara ini ke arah yang lebih baik.

Maksud adanya kelas unggulan ini jelas: mengumpulkan bibit terbaik dari bibit-bibit baik yang ada. Siswa-siswa di kelas ini, diharapkan menjadi unggulan (hence the name), dan memberi apa yang sekolah selalu usahakan, yaitu prestise. Makanya, kadang nama-nama kelas serupa selalu bombastis dan megah. 

Kelas unggulan, bisa dibilang, wujud nyata dari ungkapan “birds of a feather flock together”.

Siapa sih yang nggak bangga bisa masuk kelas unggulan? Menjadi bagian dari kelompok yang terpilih tentu rasanya sesuatu banget. Tentunya, dilabeli sebagai anak jenius idaman orang tua dan kesayangan guru-guru adalah hal yang menyenangkan.

Namun, yang bagus, bukan berarti baik. Dan menurut saya, kelas unggulan ini justru nggak baik buat pendidikan kita.

Begini. Kelas unggulan, pasti mendapat perlakuan yang istimewa. Yang paling jelas sih, infrastruktur dan guru yang lebih baik. Mereka akan mendapat apa yang kelas reguler tidak dapat. Dan itulah masalahnya.

Perbedaan tersebut justru mengkhianati esensi pendidikan: mencerdaskan rakyat. Dari dulu, anggapan bahwa siswa hebat harus diberi guru hebat itu menurut saya bermasalah. Sebab, esensi pendidikan itu ya “memperbaiki” kualitas rakyat. Semua berhak dapat guru yang hebat, sebab semua orang, terlepas dari latar belakangnya, berhak dapat pendidikan terbaik.

“Lho, tapi kan mereka bayar lebih, dan emang pinter. Wajar dong treatment-nya beda?”

Baca Juga:

Dosa Jurusan Pendidikan yang Membuat Hidup Mahasiswanya Menderita

Sekolah Swasta Gratis, Ide Gila yang Bisa Bikin Pendidikan Makin Miris

Lha, justru itu masalah utamanya. Kenapa untuk mengakses pendidikan yang baik, harus bayar lebih, dan harus pinter duluan? Bukankah memberi pendidikan yang layak adalah kewajiban negara?

Pun, menurut saya, mengotak-ngotakkan siswa berdasarkan nilai akademiknya tidak selamanya baik. Sangat benar bahwa para siswa cerdas ini akan mendapat treatment yang lebih bagus dari sekolah untuk menunjang prestasi akademiknya, sehingga di kemudian hari mereka bisa masuk universitas terbaik dan menjuarai banyak kompetisi. Tapi berinteraksi dengan lingkungan homogen setiap harinya akan membuat pandangan para siswa ini menjadi sempit.

Mungkin benar bahwa kelas unggulan mampu mengenalkan iklim kompetisi bagi siswanya yang sebenarnya sejalan dengan kerasnya kompetisi di masyarakat. Namun, yang perlu kita ingat adalah persaingan di dunia nyata itu tidak melulu soal akademik. Buat apa nilai akademik yang selangit kalau pada akhirnya mereka gagap berinteraksi dengan orang lain? Buat apa deretan trofi itu jika pada akhirnya mereka nggak punya skill lain selain menguasai ranah teori? Ya bisa aja sih mereka jadi akademisi, tapi kan nggak semua anak mau bekerja seperti itu.

Lagipula melabeli anak sebagai siswa unggulan berpotensi membawa dampak buruk bagi psikologi anak. Mungkin di awal-awal akan terlihat baik-baik saja karena mereka mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar sebagai penghargaan atas usahanya belajar tekun. Namun, jika mereka terbiasa dengan label itu, secara tidak langsung mereka akan menanggung beban berat ekspektasi orang-orang di sekitarnya. Mereka cenderung mendorong diri mati-matian agar prestasinya tidak jatuh.

Parahnya lagi mereka belajar sekeras itu hanya untuk memenuhi harapan orang-orang di sekitarnya. Bayangno, urip mung nggo nyenengke cocote tetangga.

Ada argumen seperti ini juga: keberadaan kelas unggulan diharapkan memotivasi anak-anak dari kelas reguler untuk bisa berusaha lebih giat agar bisa masuk ke dalam kelompok yang terpilih ini. Tapi, lagi-lagi, argumen itu bermasalah. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, fasilitas itu harusnya mereka dapatkan tanpa harus masuk kelas unggulan. Kalau pengin dapet fasilitas tersebut mereka harus masuk ke kelas tersebut, itu justru bermasalah.

Mengklasifikasi siswa berdasarkan nilai akademiknya justru akan menciptakan gap yang lebih lebar. Yang pintar akan semakin pintar, yang kurang akan semakin tertinggal. Sudah menjadi tugas guru untuk membimbing semua muridnya menjadi lebih baik tanpa pilih kasih.

Membaurkan anak-anak dengan tingkat intelegensi beragam dalam satu kelas adalah cara yang baik dalam memberikan kesempatan bagi para siswa untuk saling belajar. Saya sangat percaya bahwa setiap individu di dunia ini pasti punya nilai dalam dirinya yang bisa dipelajari. Maka siswa yang akademisnya kurang bisa belajar meningkatkan prestasinya dengan belajar pada temannya yang lebih pintar. Di sisi lain, siswa yang pintar secara akademis bisa belajar dari teman yang lain untuk bersosialisasi. Dan yang lebih penting adalah belajar berempati dengan lingkungan sekitar.

Kelas unggulan jelas jadi contoh kalau memang ada yang salah dalam sistem pendidikan kita. Banyak yang menganggap bahwa pendidikan itu kemewahan, bukan hak yang wajib diberikan pada kita. Kelas ini, alih-alih menunjukkan kebaikan atau memunculkan iklim kompetitif yang bagus, justru mengajarkan segregasi yang tentu saja amat buruk.

Dan segregasi, selalu jadi biang masalah kemanusiaan. Kalau tidak percaya, coba tanya Jerman.

Penulis: Erma Kumala Dewi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Masih Percaya Nasib Anak Ditentukan dari Sekolah Favorit atau Tidak?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 Oktober 2022 oleh

Tags: hakKelas UnggulanPendidikansegregasi
Erma Kumala Dewi

Erma Kumala Dewi

Penggemar berat film kartun walaupun sudah berumur. Suka kulineran dan kekunoan.

ArtikelTerkait

sarjana pendidikan guru nasihat kiai mengajar Jangan Jadi Guru Kalau Baperan, kecuali Hatimu Sanggup Legawa PPG

PPG Akan Selalu Dianggap sebagai Formalitas Belaka jika Kesejahteraan Guru Masih Menyedihkan

4 September 2020
Alasan Para Pengemis Online, Kadang Memang Nggak Tahu Diri!

Alasan Para Pengemis Online, Kadang Memang Nggak Masuk Akal!

5 November 2019
SD sekolah dibubarkan salah istilah anak kecil mojok

Plis Deh, Salah Sebut Singkatan SD sebagai Tamparan Pendidikan Itu Terlalu Berlebihan

22 April 2021
Anggapan Keliru Soal Anak Kelas Akselerasi yang Selalu Keren. Aslinya Ya Begitu... terminal mojok.co

Jangan Iri! Jadi Siswa Kelas Unggulan Itu Sebetulnya Nggak Enak!

6 Oktober 2020
jurusan pendidikan

Jangan-Jangan Jurusan Pendidikan Cuma Dijadiin Hiasan Doang di Kampus

30 Juli 2019
Membandingkan Platform Belajar Paling Asyik Antara Ruangguru dan Zenius terminal mojok.co

Ruangguru vs Zenius. Mana yang Paling Asyik?

6 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura Mojok.co

3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura

4 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.