Dulu, kalau ada teman kuliah nanya asal saya dari mana, saya udah siapin tameng duluan sebelum jawab. “Kebumen, tau nggak? Yang deket Jogja itu. Yang katanya cuma buat transit doang,” begitu jawaban yang saya siapkan, saya ngomongnya sambil nyengir, biar kelihatan santai. Padahal, aslinya, dalam hati udah nyiapin mental buat dengar reaksi “oh” yang nadanya kasihan.
Akan tetapi, belakangan, tiap kali pulang kampung saya jadi sering merenung betapa Kebumen sudah banyak berubah. Berikut sembilan hal yang bikin saya, sebagai orang Kebumen asli, sadar kalau kabupaten ini diam-diam sedang naik kelas.
#1 Kebumen akhirnya punya mal, tidak perlu ke Purwokerto Lagi
Generasi saya tumbuh dengan kebiasaan kalau pengin nonton bioskop atau sekadar ngadem di mall, jawabannya cuma satu, naik bus dua jam ke Purwokerto atau Jogja.
Sekarang, berbeda, Kebumen punya Trio Mall lengkap dengan tenant yang dulu cuma bisa kami lihat di mall kota tetangga. Di sana ada CFC, Mixue, Chatime, sampai Platinum Cineplex sebagai bioskop pertama di pusat kota.
Belum lama ini Sam’s Studio juga ikut buka, baik di Gombong maupun di Kebumen kota. Anak-anak muda di pelosok Kebumen bagian barat sekalipun nggak perlu lagi merencanakan perjalanan khusus ke kota cuma untuk nonton rilisan terbaru.
Hal kecil ini ternyata berdampak besar buat ngukur seberapa “hidup” sebuah kota.
#2 Pabrik Korea resmi dibangun, dan ini bukan investasi kacangan
Ini kejutan yang bikin saya berhenti scroll dua kali. Kebumen kedatangan investasi asing pertamanya. Kini pabrik sarung tangan dan garmen ekspor milik PT JJG Spotec Indo dari Korea Selatan, dibangun di bekas Pasar Hewan Purbowangi, Kecamatan Buayan dengan nilai investasi Rp74,1 miliar.
Pabrik ini ditargetkan menyerap sekitar 1.500 sampai lebih dari 2.300 tenaga kerja lokal, dengan kapasitas produksi tahunan jutaan unit sarung tangan dan produk garmen lain.
Dulu Kebumen dikenal sebagai daerah yang “kering” investasi besar. Sekarang, ada perusahaan asal Korea yang justru menjadikan lahan bekas pasar sapi sebagai cikal bakal kawasan industri Gombong. Bupati sendiri menyebut ini sebagai momen bersejarah, dan saya setuju, soalnya seumur-umur saya belum pernah dengar Kebumen disebut dalam konteks “investasi asing”.
Baca juga 6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja.
#3 UMK naik meski saya tahu itu belum cukup
UMK Kebumen 2026 resmi ditetapkan Rp2,4 juta naik Rp140.000 atau sekitar 6,2 persen dari tahun sebelumnya yang Rp2,25. Saya nggak akan bilang ini sudah ideal karena dibandingkan kota-kota lain di Jawa Tengah, Kebumen tetap di papan tengah ke bawah.
Akan tetapi, sebagai orang yang dulu mendengar cerita tetangga atau saudara terpaksa merantau demi gaji yang lebih layak, kenaikan ini setidaknya jadi sinyal ekonomi daerah nggak diam di tempat. Apalagi kenaikannya disebut lebih tinggi dibanding beberapa kabupaten tetangga.
Bukan lompatan besar, tapi langkah yang nyata, dan langkah itu nggak otomatis bikin hidup makin santai. Harga kopi kekinian dan gerai franchise yang ikut menjamur juga naik level kota besar.
#4 Geopark Kebumen bukan cuma buat konten, tapi diakui dunia
Saya ingat waktu kecil, Geopark Karangsambung-Karangbolong cuma jadi tempat study tour sekolah yang membosankan, isinya batu-batu doang. Sekarang, kawasan seluas ratusan kilometer persegi yang mencakup belasan kecamatan itu sudah jadi Geopark Nasional, bahkan menyabet predikat Geopark Nasional Terbaik di ajang ABBWI pada 2024. Geopark inilah yang bahkan disebut jadi salah satu modal Kebumen menarik investasi Korea tadi.
Saya yang dulu menyepelekan pelajaran geologi itu sekarang baru ngerti, batuan tua yang dulu saya anggap “cuma batu” itu menyimpan rekam jejak panjang terbentuknya Pulau Jawa.
#5 Kebumen akhirnya lepas dari status kabupaten termiskin
Ini yang paling bikin saya merasa ada beban yang turun dari pundak. Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan Kebumen turun dari 15,71 persen di 2024 jadi 13,58 persen, menyalip Brebes yang kini menempati posisi itu.
Memang masih masuk sepuluh besar termiskin di Jawa Tengah, jadi belum waktunya jumawa. Tapi, setidaknya, kalau saya bilang “aku wong Kebumen” sekarang, paling-paling disambung “oh, nomor dua toh?” Bukan “oh, kabupaten termiskin ya?”
Receh, tapi lumayan menyelamatkan harga diri anak rantau seperti saya.
#6 UMKM lokal mulai berani bicara soal pasar yang lebih luas
Saya dulu cuma tahu gula semut dan jambu kristal sebagai jajanan rumahan yang dijual di pasar tradisional, nggak lebih. Sekarang, UMKM gula semut dan jambu kristal Kebumen sudah dapat pelatihan dan pendampingan dari Dinas Perindustrian untuk naik kualitas, dengan klaim gula semut organik yang aman dikonsumsi penderita diabetes karena diproses tanpa bahan kimia tambahan.
Mungkin belum benar-benar mendunia, tapi semangat UMKM lokal yang mulai mikirin standar produk dan bukan cuma jualan ala kadarnya itu sendiri sudah kelihatan bedanya dari sepuluh tahun lalu.
Baca juga 7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal.
#7 Pantai Kebumen nggak cuma Pantai Setrojenar aja
Dulu, kalau diajak liburan pantai di Kebumen, bayangan saya cuma Pantai Setrojenar. Sekarang ada Pantai Ayah di Karangduwur dengan muara Sungai Bodo dan perahu pesiar dari nelayan setempat, ada Pemandian Air Panas Krakal di Alian, ada Pantai Menganti yang makin ramai dibahas sebagai alternatif liburan yang belum banyak disentuh wisatawan.
Saya yang dulu mengira destinasi Kebumen itu cuma satu-dua nama, sekarang malah pusing nentuin mau ke mana duluan kalau pulang kampung lebih dari tiga hari.
#8 Ruang publik makin kaya, bukan cuma alun-alun untuk upacara
Saya masih ingat alun-alun Kebumen dulu cuma lapangan terbuka dengan pohon beringin besar dan PKL yang berjejer seadanya. Sekarang, alun-alun sudah direvitalisasi dengan jogging track, area bermain anak, lintasan skateboard dan BMX, sampai area calisthenics yang ramai dipakai anak muda olahraga sore. Pembangunan beberapa tahun terakhir juga diarahkan ke pengembangan zona kreatif dan fasilitas pariwisata. Jadi, ruang publik Kebumen nggak lagi cuma berfungsi buat upacara dan acara seremonial.
Saya yang biasa cuma duduk-duduk di bawah pohon beringin pas kecil, sekarang jadi ikut bingung mau mulai olahraga dari sudut mana.
#9 Orang luar mulai “ngeh” Kebumen itu ada, bukan cuma dilewati
Dulu, Kebumen cuma jadi nama yang diumumkan kondektur kereta sebelum sampai Jogja, nama yang dilewati tanpa ada penumpang yang menoleh. Sekarang, mulai banyak tulisan dan konten dari orang luar yang sengaja membahas Kebumen sebagai destinasi, bukan cuma persinggahan. Pantai Menganti, Pantai Logending, sampai pantai-pantai lain yang dulu sepi mulai disebut sebagai alternatif liburan yang “beda dari yang itu-itu saja”.
Saya yang dulu kalau bilang “habis dari Kebumen” suka disambut pertanyaan “ngapain emang di sana?”. Sekarang responsnya berbeda, lebih sering disambut “wah, yang banyak pantainya itu ya?”
Saya bukan orang yang gampang terharu sama statistik atau berita pembangunan. Tapi, entah kenapa, kesembilan hal di atas bikin saya merasa Kebumen sedang pelan-pelan keluar dari bayang-bayang “kabupaten yang itu-itu aja”.
Belum sempurna memang, jalan masih banyak yang rusak, dan UMK masih jauh dari kata mewah. Tapi, setidaknya, kabupaten ini nggak lagi cuma jadi nama yang lewat begitu saja. Baik di pengumuman kondektur kereta, di kepala orang-orang yang dulu meremehkannya, termasuk kepala saya sendiri, Kebumen mulai diperhitungkan.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 8 Alasan Kebumen Pantas Jadi Kiblat Slow Living di Jawa Tengah.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
