Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Kebohongan Pengguna iPhone yang Membuat Android Dianggap Murahan

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
18 Januari 2026
A A
Kebohongan Pengguna iPhone Bikin Android Jadi Murahan (Pixabay)

Kebohongan Pengguna iPhone Bikin Android Jadi Murahan (Pixabay)

Share on FacebookShare on Twitter

Kadang saya merasa miris melihat fenomena ini. Ada teman rela mengambil kredit iPhone bertahun-tahun padahal gajinya sendiri pas-pasan. Semua demi “nggak pakai” Android karena katanya murahan dan cerminan orang belum sukses. 

Bukan berarti saya anti sama iPhone atau mau menghakimi pilihan orang. Setiap orang bebas membeli apa saja dengan uangnya sendiri. Namun kenapa, sampai sekarang, hape ini menjadi ukuran kesuksesan? Bagi saya, ini kebohongan besar.

Anggapan “naik kasta” yang sudah ada sejak lama 

Sejak lama, ada sebuah stigma yang menempel pada iPhone. Bahwa, yang punya produk Apple ini, sudah naik kasta atau sukses dengan hidupnya. Sementara itu, yang menggunakan Android, hidupnya masing gitu-gitu aja. Maka, kita mengenal hape sebagai penanda status sosial.

Begitu seseorang mengeluarkan iPhone dari saku, muncul asumsi: 

“Oh, orangnya sukses.” 

“Pasti hidupnya mapan.” 

“kayaknya kariernya bagus.”

Apple memang sangat berhasil membangun citra eksklusif. Dari desain, harga, hingga cara mereka memasarkan produknya, semuanya konsisten menciptakan kesan premium. Tanpa sadar, citra itu melekat di benak masyarakat. Akhirnya, iPhone tidak lagi alat komunikasi, tapi penanda kelas sosial.

Baca Juga:

Android Bikin Saya Jadi Minoritas dan Dikucilkan, tapi Saya Bersyukur Bebas Utang dengan Tidak Memaksakan Diri Membeli iPhone

Mahasiswa KIP Kuliah Boleh Punya iPhone, Asal Enggak Dipamerin atau Ketahuan Aja!

Mengorbankan hidup demi iPhone

Masalahnya, stigma ini nggak sejalan dengan kondisi ekonomi pengguna iPhone. Padahal, standar hidup mereka ya “masih Android”. Alias, hidup serba susah. Namun, mereka mengorbankan hidupnya demi status. Sejak zaman dulu, nggak berubah. Padahal, contohnya sudah banyak.

Sudah begitu, mereka membeli iPhone bukan karena benar-benar butuh. Semua cuma demi status “udah nyampe”. Mereka takut terlihat kalah.

Tidak menyadari tekanan sosial, hidupnya “masih Android”

Banyak dari kita sudah melihat contohnya secara langsung. Namun, sebagian besar nggak mau menyadari betapa kuatnya tekanan sosial soal hape. 

Hidup masih “standar Android”, tapi memaksa diri membeli Iphone seri terbaru. Dari sana, lahir kelas dalam pergaulan. Yang menggunakan Android akan selalu menjadi “kelas dua”. Titik. 

Saya tidak perlu menjelaskan lagi soal perkembangan hape Android. Banyak yang memasang harga murah, tapi kualitasnya sudah lebih dari cukup. Secara logika, tidak ada yang kurang. Tapi secara persepsi sosial, ceritanya berbeda. Namun di masyarakat kita, fungsi sering kalah oleh gengsi. 

Orang sukses nggak pamer iPhone

Banyak orang sukses secara nyata justru tidak menjadikan hape sebagai alat pamer. Mereka membeli sesuai kebutuhan. Kalau belum perlu, ya tidak beli. Kalau masih berfungsi, ya pakai terus. Tidak ada dorongan untuk membuktikan sesuatu ke orang lain.

Hal ini terasa makin ironis ketika saya mendengar pernyataan Timothy Ronald, yang sering disebut sebagai miliarder muda. Dalam salah satu podcast, dia mengatakan dengan santai bahwa dirinya tidak FOMO membeli iPhone terbaru. Semua karena ya belum butuh saja.

Bagi dia, hape hanyalah alat. Selama masih berfungsi dan menunjang aktivitas, tidak ada alasan untuk mengganti. Sederhana, tapi menampar.

Di satu sisi, orang dengan kekayaan luar biasa bisa bersikap rasional terhadap konsumsi. Di sisi lain, ada orang dengan penghasilan UMR atau bahkan di bawah UMR, justru memaksakan diri membeli iPhone dengan kredit panjang, cicilan mencekik, hidup dalam tekanan finansial demi terlihat “sukses”.

Mereduksi arti sukses menjadi sebuah kebohongan

Masalah utamanya bukan pada iPhone atau Android. Masalahnya adalah cara kita mendefinisikan sukses. Banyak dari kita mereduksi sukses menjadi sesuatu yang terlihat di permukaan saja. Ya hape, kendaraan, rumah. Bukan pada stabilitas hidup, kesehatan mental, atau kebebasan finansial.

Saya tidak bilang membeli iPhone itu salah. Sama sekali tidak. Kalau memang mampu, butuh, dan sesuai kebutuhan, silakan. Yang jadi persoalan adalah ketika benda mati menjadi alat pembanding nilai manusia. Itu bohong banget.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti menilai orang dari benda. Android atau iPhone tidak menentukan kecerdasan, kerja keras, atau masa depan. Yang menentukan adalah bagaimana seseorang mengelola keuangannya, menentukan prioritas, mengambil keputusan sesuai kebutuhan, bukan tekanan sosial.

Penulis: Intan Permata Putri

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Membandingkan iPhone dengan Android Murah Adalah Perbuatan yang Tidak Bisa Dimaafkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Januari 2026 oleh

Tags: Androidandroid murahhapehape androidhape murahharga iphone terbaruiphoneiphone terbaru
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

Surat Cinta buat Realme Indonesia: Jangan Kebanyakan Gimik, Kembalilah ke Jati Dirimu yang Sebenarnya

Surat Cinta buat Realme Indonesia: Jangan Kebanyakan Gimik, Kembalilah ke Jati Dirimu yang Sebenarnya

7 Agustus 2024
Pengalaman Pakai iPhone 8 di Tahun 2025, Penuh Derita walau Disebut-sebut Orang Kaya

Pengalaman Pakai iPhone 8 di Tahun 2025, Penuh Derita walau Disebut-sebut Orang Kaya

27 Juni 2025
Sulitnya Meyakinkan Istri Saya untuk Membeli Hape iQOO

Sulitnya Meyakinkan Istri Saya untuk Membeli Hape iQOO

2 November 2023
Bentuk iPhone 17 Jelek dan Kehilangan Kesan Mewah seperti Beli Android Kelas Menengah Mojok.co

Bentuk iPhone 17 Jelek dan Kehilangan Kesan Mewah seperti Beli Android Kelas Menengah

13 September 2025
4 Rekomendasi iPhone Seken Paling Layak Dibeli Tahun Ini

4 Rekomendasi iPhone Seken Paling Layak Dibeli Tahun Ini

26 Februari 2022
Mengenang Fitur Unik HP Jadul sebelum Android Menyerang

Mengenang Keunikan HP Jadul sebelum Android Menyerang

12 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026
7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa, Jangan Dibeli daripada Kamu Kecewa dan Menderita

13 Maret 2026
7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik Mojok.co

7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik

17 Maret 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini

19 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah
  • Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku
  • Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik
  • Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya
  • Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.