Ada banyak perubahan selama 8 tahun saya tinggal di Tegal. Kalau ditanya apa saja perubahan terbesar, jawabanya bukan logat yang mendadak ngapak. Perubahan terbesar justru datang dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang semula saya anggap aneh, ternyata sekarang justru saya ikuti tanpa sadar.
Lingkungan kerja saya di sebuah pabrik di Tegal yang paling banyak memengaruhi. Jujur, kali pertama kerja di pabrik Tegal saya merasa masuk di dunia yang benar-benar berbeda.
Lidah Jogja saya perlu banyak adaptasi terhadap kuliner Tegal
Saya lahir dan besar di Jogja. Secara garis besar ada perbedaan antara makanan Jogja dan Tegal, yakni Jogja lebih manis, sementara Tegal lebih pedas.
Lidah saya pun mengalami perubahan. Dahulu, saya sering mengeluh setiap teman mengajak sayur asem karena sambalnya terlalu pedas, saya sampai berasumsi orang Tegal tidak bisa menikmati rasa makanan tanpa cabai. Namun, semakin lama tinggal di Tegal, toleransi saya terhadap rasa pedas kian meningkat. Kini, tanpa sadar saya malah sering menambah sambal sendiri.
Begitu juga dalam hal sarapan. Sebagai orang Jogja, saya terbiasa menyantap gudeg atau soto sebagai menu sarapan. Di Tegal, sarapan gorengan dan lontong memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Gorengan yang biasanya berupa tempe atau tahu dilahap bergantian dengan lontong dan juga cabai. Sederhana, murah meriah, sekaligus efektif untuk mengganjal perut sebelum bekerja. Anehnya sekarang kalau pulang ke Jogja, justru saya merasa ada yang kurang ketika gorengan tidak disajikan bersamaan dengan lontong.
Kental akan budaya NU
Saya tumbuh di lingkungan Muhammadiyah, sedangkan di Tegal, saya lebih sering bersinggungan dengan tradisi masyarakat yang lekat dengan kultur NU. Salah satu yang paling terasa adalah tradisi Jumat Kliwon.
Di Tegal, malam Jumat Kliwon menjadi waktu yang lumrah bagi sebagian warga untuk berbondong-bondong ke makam para leluhur, membersihkan makam dan memanjatkan doa-doa.
Tentu hal ini sangat berbeda dengan kebiasaan yang saya kenal di Jogja. Di sana, saya lebih sering menjumpai ziarah kubur dilakukan mendekati Ramadan atau saat Idul Fitri.
Begitu pula dengan pengajian. Di Jogja saya terbiasa menyimak ceramah keagamaan setelah sambutan-sambutan panitia. Di Tegal rangkaian acaranya lebih panjang, umumnya pengajian di hari-hari besar seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj atau tahun baru Islam diawali oleh hadroh atau terbangan sebelum masuk ke acara inti. Tetapi lambat laun saya sudah bisa menikmati lantunan hadroh sambil menyeruput teh.
Lama-lama saya ngapak juga
Walau Jogja dan Tegal masih sama-sama berada di Pulau Jawa, bahasa dan dialeknya terasa sangat jauh berbeda. Jogja identik dengan bahasa Jawa yang halus sedangkan Tegal lebih ke ngapak dengan intonasi yang menurut saya terdengar lebih tegas. Awalnya saya sempat mengira orang Tegal sedang marah ketika berbicara. Padahal begitulah intonasi mereka sehari-hari.
Kini saya mulai menggunakan beberapa kosakata Tegal dalam percakapan, saya menyebut “laka” saat mencari barang yang tidak ketemu, “anjong” saat sudah sampai, “manjing” untuk menyuruh orang masuk dan bertanya: “wes pragat?” untuk menanyakan apakah seseorang sudah selesai mengerjakan sesuatu atau belum.
Delapan tahun tinggal di Tegal membuat saya mengerti bahwa setiap daerah memiliki kebiasaan yang mungkin terasa aneh bagi para pendatang. Namun, keanehan tersebut dapat berubah menjadi sesuatu yang baru ketika kita mau membuka diri.
Saya memang lahir di Jogja, tapi sebagian besar kebiasaan saya dibentuk di Kota Bahari ini. Bagi saya, Tegal bukan sekedar kota tempat bekerja, melainkan kawah candradimuka yang diam-diam mengubah saya.
Penulis: Arief Nur Hidayat
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
