Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru

Arief Nur Hidayat oleh Arief Nur Hidayat
11 Agustus 2026
A A
3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru Mojok.co

3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada banyak perubahan selama 8 tahun saya tinggal di Tegal. Kalau ditanya apa saja perubahan terbesar, jawabanya bukan logat yang mendadak ngapak. Perubahan terbesar justru datang dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang semula saya anggap aneh, ternyata sekarang justru saya ikuti tanpa sadar. 

Lingkungan kerja saya di sebuah pabrik di Tegal yang paling banyak memengaruhi. Jujur, kali pertama kerja di pabrik Tegal saya merasa masuk di dunia yang benar-benar berbeda. 

ADVERTISEMENT

Lidah Jogja saya perlu banyak adaptasi terhadap kuliner Tegal

Saya lahir dan besar di Jogja. Secara garis besar ada perbedaan antara makanan Jogja dan Tegal, yakni Jogja lebih manis, sementara Tegal lebih pedas. 

Lidah saya pun mengalami perubahan. Dahulu, saya sering mengeluh setiap teman mengajak sayur asem karena sambalnya terlalu pedas, saya sampai berasumsi orang Tegal tidak bisa menikmati rasa makanan tanpa cabai. Namun, semakin lama tinggal di Tegal, toleransi saya terhadap rasa pedas kian meningkat. Kini, tanpa sadar saya malah sering menambah sambal sendiri.

Begitu juga dalam hal sarapan. Sebagai orang Jogja, saya terbiasa menyantap gudeg atau soto sebagai menu sarapan. Di Tegal, sarapan gorengan dan lontong memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Gorengan yang biasanya berupa tempe atau tahu dilahap bergantian dengan lontong dan juga cabai. Sederhana, murah meriah, sekaligus efektif untuk mengganjal perut sebelum bekerja. Anehnya sekarang kalau pulang ke Jogja, justru saya merasa ada yang kurang ketika gorengan tidak disajikan bersamaan dengan lontong.

Kental akan budaya NU

Saya tumbuh di lingkungan Muhammadiyah, sedangkan di Tegal, saya lebih sering bersinggungan dengan tradisi masyarakat yang lekat dengan kultur NU. Salah satu yang paling terasa adalah tradisi Jumat Kliwon. 

Di Tegal, malam Jumat Kliwon menjadi waktu yang lumrah bagi sebagian warga untuk berbondong-bondong ke makam para leluhur, membersihkan makam dan memanjatkan doa-doa. 

Tentu hal ini sangat berbeda dengan kebiasaan yang saya kenal di Jogja. Di sana, saya lebih sering menjumpai ziarah kubur dilakukan mendekati Ramadan atau saat Idul Fitri.

Baca Juga:

Realitas loker di Jogja: syaratnya begitu banyak, tapi gajinya bikin nangis

Menolak lupa bus jalur 15 Jogja yang punya trayek terpanjang dan berjasa untuk banyak pelajar 

Begitu pula dengan pengajian. Di Jogja saya terbiasa menyimak ceramah keagamaan setelah sambutan-sambutan panitia. Di Tegal rangkaian acaranya lebih panjang, umumnya pengajian di hari-hari besar seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj atau tahun baru Islam diawali oleh hadroh atau terbangan sebelum masuk ke acara inti. Tetapi lambat laun saya sudah bisa menikmati lantunan hadroh sambil menyeruput teh.

Lama-lama saya ngapak juga 

Walau Jogja dan Tegal masih sama-sama berada di Pulau Jawa, bahasa dan dialeknya terasa sangat jauh berbeda. Jogja identik dengan bahasa Jawa yang halus sedangkan Tegal lebih ke ngapak dengan intonasi yang menurut saya terdengar lebih tegas. Awalnya saya sempat mengira orang Tegal sedang marah ketika berbicara. Padahal begitulah intonasi mereka sehari-hari.

Kini saya mulai menggunakan beberapa kosakata Tegal dalam percakapan, saya menyebut “laka” saat mencari barang yang tidak ketemu, “anjong” saat sudah sampai, “manjing” untuk menyuruh orang masuk dan bertanya: “wes pragat?” untuk menanyakan  apakah seseorang sudah selesai mengerjakan sesuatu atau belum.

Delapan tahun tinggal di Tegal membuat saya mengerti bahwa setiap daerah memiliki kebiasaan yang mungkin terasa aneh bagi para pendatang. Namun, keanehan tersebut dapat berubah menjadi sesuatu yang baru ketika kita mau membuka diri. 

Saya memang lahir di Jogja, tapi sebagian besar kebiasaan saya dibentuk di Kota Bahari ini. Bagi saya, Tegal bukan sekedar kota tempat bekerja, melainkan kawah candradimuka yang diam-diam mengubah saya.

Penulis: Arief Nur Hidayat
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2026 oleh

Tags: Jogjategalwarga lokalwarga lokal Tegalwarga Tegalwarlok
Arief Nur Hidayat

Arief Nur Hidayat

Seorang buruh pabrik yang menemukan kemerdekaannya di balik mata pena. Di sela deru mesin dan rutinitas yang presisi, ia merawat jiwanya dengan kecanduan menulis, sembari sesekali merayakan kegembiraan kecil melalui barisan jersey

ArtikelTerkait

4 Rekomendasi Ayam Geprek Jogja dengan Rasa Sambal Paling "Nendang" Mojok.co

4 Rekomendasi Ayam Geprek Jogja dengan Rasa Sambal Paling “Nendang”

9 Mei 2025
Kok Bisa Ada Warga Jogja Bangga sama Spot Foto ala Squid Game? Ra Isin?

Kok Bisa Ada Warga Jogja Bangga sama Spot Foto ala Squid Game? Ra Isin?

30 Oktober 2021
Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana

Jogja Istimewa, Gunungkidul Merana

20 Juli 2022
Solo dan Jogja, 2 Kota yang Kelihatannya Sangat Mirip tapi Punya Perbedaan yang Nggak Banyak Disadari

Solo dan Jogja, 2 Kota yang Kelihatannya Sangat Mirip tapi Punya Perbedaan yang Nggak Banyak Disadari

1 Maret 2025
5 Alasan Bisnis Warmindo Nggak Bakalan Laku di Madura, Salah Satunya karena Bebek Bumbu Hitam! warmindo jogja warteg

5 Alasan Franchise Warteg sulit Menggeser Kejayaan Warmindo di Jogja

23 Agustus 2024
Saudara Ngapak Beda Nasib: Tegal Mutlak Lebih Maju daripada Brebes

Saudara Ngapak Beda Nasib: Tegal Mutlak Lebih Maju daripada Brebes

5 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

11 Agustus 2026
Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

10 Agustus 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026
Gudeg Sagan duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis (Wikimedia Commons)

Gudeg Sagan adalah duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis

11 Agustus 2026
Sisi gelap tren gaya hidup minimalis: kami nggak belanja bukan karena aesthetic, tapi memang nggak ada duit

Sisi gelap tren gaya hidup minimalis: kami nggak belanja bukan karena aesthetic, tapi memang nggak ada duit

11 Agustus 2026
Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.