Karangmalang UNY tidak ramah pejalan kaki, jalan kaki di sana serasa uji nyali

Karangmalang UNY tidak ramah pejalan kaki, jalan kaki di sana serasa uji nyali Mojok.co

Karangmalang UNY tidak ramah pejalan kaki, jalan kaki di sana serasa uji nyali (visitingjogja.jogjaprov.go.id)

Keluar dari Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) UNY di Karangmalang seharusnya tidak begitu menguras energi dan emosi. Apalagi kalau tujuannya adalah tempat fotokopi, warmindo, minimarket, atau tempat-tempat kebutuhan mahasiswa lain karena jaraknya dekat. Anehnya, justru perjalanan pendek itu yang terasa paling melelahkan.

Bukan karena panasnya Jogja atau tas kuliah yang terlalu berat, jalan kaki di Karangmalang terasa melelahkan karena pejalan kaki mesti selalu waspada. Mata harus bergantian melihat ke depan dan ke samping, memastikan tidak ada motor yang tiba-tiba keluar gang, kendaraan yang berhenti sembarangan, atau trotoar yang mendadak putus sehingga kita terpaksa turun ke badan jalan.

Padahal, dilihat-lihat lagi, Karangmalang daerah yang sempurna untuk ngekos. Hampir semua kebutuhan mahasiswa ada di Karangmalang. Kos berjejer, warung makan mudah ditemukan, laundry ada di setiap sudut, tempat fotokopi tidak pernah sepi, kafe bermunculan, hingga minimarket bisa dijangkau hanya dengan beberapa menit berjalan kaki. Kawasan ini tumbuh menjadi ekosistem yang nyaris lengkap untuk kehidupan mahasiswa.

Sayangnya, satu kebutuhan paling mendasar justru masih sering terlupakan, ruang untuk berjalan kaki dengan aman.

Tidak ada ruang untuk pejalan kaki

Saya sering berpikir, ironi terbesar Karangmalang bukanlah kemacetannya. Melainkan, kenyataan bahwa kawasan yang dipenuhi mahasiswa justru membuat berjalan kaki terasa seperti pilihan yang berisiko.

Di sekitar FBSB UNY misal, arus kendaraan nyaris tidak pernah benar-benar sepi. Pagi dipenuhi mahasiswa yang mengejar jam kuliah. Siang berganti dengan kendaraan yang keluar-masuk kampus. Sore hingga malam, jalan tetap ramai karena mahasiswa berpindah dari kampus ke kos, ke warung makan, atau sekadar mencari kopi.

Akibatnya, pejalan kaki sering menjadi pihak yang harus mengalah. Mengalah kepada motor yang parkir memenuhi sisi jalan. Pejalan kaki juga harus mengalah ketika trotoar berubah fungsi. Mengalah pula saat kendaraan keluar dari gang tanpa banyak ruang untuk saling menghindar. Bahkan, sesekali mengalah kepada motor yang memilih melintas di area yang seharusnya menjadi ruang pejalan kaki.

Yang membuat situasi ini terasa janggal adalah jarak antartempat di Karangmalang sebenarnya dekat. Banyak mahasiswa masih memilih naik motor hanya untuk berpindah beberapa ratus meter. Tentu ada alasan masing-masing, tetapi saya menduga salah satunya karena berjalan kaki memang tidak selalu terasa nyaman.

Padahal, kawasan kampus idealnya mendorong orang untuk berjalan kaki. Selain lebih sehat, interaksi antarmahasiswa juga lebih mungkin terjadi ketika orang berjalan, bukan ketika semua berlomba melaju dengan kendaraan masing-masing.

Karangmalang UNY yang padat

Karangmalang sebetulnya sudah memiliki semua syarat menjadi kawasan kampus yang hidup. Aktivitas ekonomi berjalan hampir tanpa henti. Usaha-usaha kecil tumbuh mengikuti kebutuhan mahasiswa. Jalanan selalu ramai. Namun, perkembangan itu terasa lebih cepat daripada kesiapan ruang publiknya.

Yang bertambah bukan hanya jumlah kos atau tempat makan, melainkan juga volume kendaraan. Sementara ruang bagi pejalan kaki sering kali tetap seperti dulu. Bahkan, di beberapa titik terasa semakin sempit karena berbagai aktivitas di pinggir jalan.

Saya tidak sedang berharap Karangmalang berubah menjadi kawasan yang steril dari kendaraan. Itu jelas mustahil. Jalan ini memang menjadi urat nadi aktivitas ribuan mahasiswa setiap hari.

Akan tetapi, rasanya tidak berlebihan jika pejalan kaki bisa berjalan tanpa harus terus-menerus merasa sedang mempertaruhkan keselamatan untuk perjalanan yang bahkan tidak sampai satu kilometer.

Akan tetapi, mahasiswa tidak selalu bergerak dari kos ke kampus dengan motor. Ada yang berjalan menuju tempat fotokopi karena hanya perlu mencetak satu lembar tugas. Tidak sedikit yang berjalan ke warung makan setelah kelas selesai. Ada yang sekadar ingin membeli minuman di minimarket. Aktivitas-aktivitas kecil seperti inilah yang justru paling sering dilakukan.

Ironisnya, aktivitas yang paling sederhana itu sering berubah menjadi perjalanan yang menuntut kewaspadaan penuh.

Mungkin inilah paradoks Karangmalang hari ini. Kawasan ini berkembang sangat cepat sebagai daerah andalan mahasiswa. Semua kebutuhan mahasiswa seolah tersedia dalam radius yang berdekatan. Namun, untuk menikmati kedekatan itu dengan berjalan kaki, kita masih harus berkompromi akan banyak hal. 

Karangmalang sudah berhasil menjadi rumah bagi ribuan mahasiswa. Kini, mungkin sudah saatnya kawasan ini juga benar-benar menjadi tempat yang ramah bagi mereka yang memilih berjalan kaki.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Enaknya Jadi Alumni UNY: Nggak Ada yang Bisa Dibanggakan, Nggak Ada Beban.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Exit mobile version