Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Kampus Mengajar, Program untuk Mahasiswa yang Ingin Merasakan Penderitaan Guru Honorer

Dito Yudhistira Iksandy oleh Dito Yudhistira Iksandy
4 November 2023
A A
Kampus Mengajar, Program untuk Mahasiswa yang Ingin Merasakan Penderitaan Guru Honorer

Kampus Mengajar, Program untuk Mahasiswa yang Ingin Merasakan Penderitaan Guru Honorer (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kamu nggak percaya kalau jadi guru di negara ini nggak sejahtera? Kalau gitu cobain ikut program Kampus Mengajar, deh.

Kampus Mengajar merupakan salah satu bentuk program dari implementasi kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Buat kalian yang belum tahu, program yang ada sejak tahun 2021 ini akan menugaskan mahasiswa untuk berkontribusi secara langsung meningkatkan mutu pendidikan di jenjang SD, SMP, dan SMK.

Sekolah penempatannya juga sudah memiliki kualifikasi sendiri, lho. Berdasarkan informasi dari tim Kampus Mengajar, sekolah yang dijadikan sasaran program ini adalah sekolah yang masuk zona merah rapor pendidikan dan dipilih oleh dinas pendidikan di wilayah masing-masing.

Gampangnya, program ini menyasar sekolah yang nilai rata-rata siswanya belum menyentuh batas minimal. Sehingga dilakukan upaya peningkatan mutu. Salah satunya penguatan literasi dan numerasi yang menjadi fokus program Kampus Mengajar.

Selain itu, mahasiswa yang terpilih juga akan mendapat beberapa kompensasi, seperti konversi 20 SKS, bantuan biaya hidup setiap bulan, dan bantuan UKT. Sangat menarik, kan? Jelas, dengan kompensasi yang ditawarkan dan embel-embel uang membuat saya semakin tertarik mengikuti program ini.

Akan tetapi, setelah program berakhir justru saya baru menyadari kalau ternyata saya baru saja menjalani simulasi betapa rumit dan menderitanya nasib guru di negeri ini.

Tuntutan administrasi dan birokrasi yang rumit

Hal paling kentara yang saya rasakan saat mengikuti program Kampus Mengajar ini adalah banyaknya tuntutan administrasi dengan birokrasi yang rumit. Bayangkan, selama masa penugasan mahasiswa akan diminta mengumpulkan beberapa dokumen seperti laporan observasi sekolah, laporan mingguan, hasil asesmen siswa, laporan media pembelajaran, dan laporan akhir program.

Selain itu, mahasiswa juga diminta untuk melakukan lapor diri ke dinas pendidikan dan sekolah sasaran di awal penugasan. Beberapa hal tersebut saya rasa cukup menggambarkan bagaimana rumitnya menjadi guru karena lebih disibukkan mengerjakan laporan dan hal-hal lain yang nggak substantif, daripada fokus pada pengembangan pembelajaran.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

Merasakan sulitnya mencerdaskan kehidupan bangsa

Saat bertugas, saya pernah bertemu siswa kelas satu SD yang masih belum bisa membaca sama sekali. Bahkan masih kesulitan untuk mengenal huruf meskipun sudah diadakan bimbingan belajar khusus di sekolah. Setelah ditelusuri, ternyata orang tua anak ini nggak pernah melakukan pendampingan belajar di rumah. Urusan belajar sepenuhnya diserahkan ke guru di sekolah, menyebabkan progres anak tersebut lebih lambat daripada teman-teman di kelasnya.

Dari kejadian tersebut, saya memahami satu hal yang lebih susah saat menjadi guru adalah menyelamatkan anak dari salahnya pola pikir orang tua. Sering kali, orang tua mengira kalau tugas mereka cukup antar-jemput dan memberikan fasilitas seperti buku dan alat tulis. Padahal, proses belajar anak itu kolaborasi dari orang tua, guru, dan lingkungan. Jadi, jangan segampang itu menyalahkan guru kalau nilai anak jelek. Hadeh.

Bantuan biaya hidup bulanan Kampus Mengajar yang lebih rendah dari UMR Jogja

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, kalau mahasiswa yang mengikuti program Kampus Mengajar, akan mendapat bantuan biaya hidup bulanan. Nominal yang diberikan setiap bulan adalah Rp1.2 juta, itu juga nggak cair setiap bulan, melainkan setiap dua bulan atau sesuai termin pembayaran.

Selain lebih rendah dari UMR Jogja, nominal tersebut juga jauh lebih rendah dari program kampus merdeka lain. Yaitu magang bersertifikat dengan nominal Rp2.8 juta. Bukannya pamrih, tapi melihat nominal yang diberikan membuat saya ingat beberapa sambatan guru yang tersebar di media sosial mengenai gajinya yang kecil, terutama guru honorer.

Melalui program ini juga pemerintah seakan memvalidasi kalau menjadi guru nggak akan lebih sejahtera dari karyawan yang bekerja di industri. Selain nominal gaji yang lebih rendah, cairnya juga terlambat. Kurang menderita apalagi coba?

Terlepas dari ketiga hal nggak enak yang saya rasakan saat mengikuti program Kampus Mengajar, saya tetap menyarankan kalian untuk mengikuti program ini. Sebab, kalian akan merasakan secara langsung kesulitan dan tantangan yang dialami guru. Saya jamin, kedua hal tersebut akan membuat kalian berpikir dua kali mengenai nasib guru di negara ini.

Penulis: Dito Yudhistira Iksandy
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Apa Jadinya Jika Tak Ada Lagi Guru Honorer?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 November 2023 oleh

Tags: Guru HonorerKampus MengajarMahasiswaprogram
Dito Yudhistira Iksandy

Dito Yudhistira Iksandy

Alumnus Sosiologi Universitas Negeri Surabaya. Bekerja sebagai crew event organizer. Suka menonton anime dan drama korea.

ArtikelTerkait

mahasiswa biologi mojok

Kuliah, Kuliah, Kuliah, Tipes: Duka Menjadi Mahasiswa Biologi

29 Agustus 2020
penjaga toko buku mojok

Keuntungan kala Menjadi Penjaga Toko Buku

13 Mei 2020
Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Terjebak Stereotip, Kuliah Jadi Makin Berat Mojok.co

Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Terjebak Stereotip, Kuliah Jadi Makin Berat

4 November 2023
3 Fakultas Paling Wibu di UGM

3 Fakultas Paling Wibu di UGM

12 Juli 2023
Part Time Dagadu Jogja Banyak Untungnya, Mahasiswa Jogja Wajib Coba Mojok.co

Part Time di Dagadu Jogja Banyak Untungnya, Mahasiswa Jogja Wajib Coba

17 Januari 2024
Mengungkap Budaya Kental Mahasiswa Asal Magelang_ Pulang terminal mojok

Mengungkap Budaya Kental Mahasiswa Asal Magelang: Pulang

5 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mimpi Lulusan S2 Mati di Jakarta, Masih Waras Sudah Syukur (Unsplashj)

Lulusan S2 Merantau ke Jakarta Sudah 3 Tahun: Kini Tidak Lagi Memikirkan Mimpi tapi Cara Bertahan Hidup dan Tetap Waras

18 Februari 2026
5 Masjid Unik Jogja yang Patut Dikunjungi biar Nggak ke Masjid Jogokariyan Melulu Mojok.co

5 Masjid Unik Jogja yang Patut Dikunjungi biar Nggak ke Masjid Jogokariyan Melulu

15 Februari 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

19 Februari 2026
Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026
Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

19 Februari 2026
QRIS Masuk Desa, yang Ada Cuma Ribet dan Cepat Miskin (Unsplash)

QRIS Masuk Desa, yang Ada Cuma Keribetan dan Bikin Cepat Miskin

19 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan
  • Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru
  • Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite
  • Mobil Pribadi Pilihan Terbaik Buat Mudik Membelah Jawa: Pesawat Terlalu Mahal, Sementara Tiket Kereta Api Ludes Dibeli “Pejuang War” KAI Access
  • Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah
  • Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.