Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Mahasiswa Kere Tak Harus Tampak Kere

Nick Bash oleh Nick Bash
29 Mei 2019
A A
Mahasiswa Kere Tak Harus Tampak Kere

Mahasiswa Kere Tak Harus Tampak Kere

Share on FacebookShare on Twitter

Sebut saja namanya Adrian. Saya mengenal dia saat kami bersama-sama menjadi mahasiswa dan kuliah Master, 5 tahun yang lalu di Bandung. Dia benar-benar makhluk yang unik, kalau tak mau dibilang cukup gila.

Adrian sangat lah cerdas—saya tentu tak ada apa-apanya—bahasa inggrisnya lancar, logika berpikirnya sangat runtut, emampuan matematika tingkat dewa, pemuja deadline (anti mepet mepet club), dan gaya berbusana ala anak Grunge 90an. Kurang apalagi coba?

Bahkan ada satu mata kuliah di mana hampir seisi kelas tidak ada yang berhasil menampilkan performa yang baik sepanjang semester—Adrian konsisten menampilkan impresi menawan di setiap minggunya. Bahkan sang Profesor sampai begitu terpesona dengannya.

Teman-teman sekelas rata-rata menyukainya, walau mungkin ada beberapa kompetitor saja yang agak kesal dengannya. Saya tentu saja bukanlah kompetitornya—apalah saya ini, hanya remah rempeyek saja.

Saya dan beberapa teman menjadi cukup akrab dengan Adrian. Satu hal yang cukup aneh adalah Adrian selalu menolak ajakan teman-teman untuk makan siang bareng. Tadinya saya pikir mungkin karena dia masih kenyang atau mungkin karena bawa bekal makan siang dari rumah.

Saya tak terlalu menganggap aneh karena saya dan seorang teman lainnya juga kadang bawa bekal nasi dari rumah. Ya, kami adalah jenis mahasiswa yang anti gengsi. Bahkan saya sudah melakukan itu sejak jaman SMA—di saat cowok-cowok remaja kebanyakan sibuk menampilkan sisi cool-nya, saya sedang sibuk menikmati nasi bungkus plus kerupuk di teras depan kelas. Ah, sungguh nikmatnya.

Kembali lagi ke Adrian. Siang itu kami sama-sama sedang ngaso sambil menunggu jadwal kuliah berikutnya. Saya dan teman saya mulai membuka bungkusan bekal makan siang kami, ketika Adrian muncul dengan segelas Energen yang baru diseduhnya.

Oh, mungkin dia lagi pengen minum Energen aja kali siang-siang gini—itu yang ada di benak saya sebelum saya menemukannya di siang-siang selanjutnya tetap ditemani dengan segelas Energen, padahal saya tahu dia belum makan siang. Ya, karena kami hampir setiap hari seharian ada di ruang komputer yang sama, makanya saya tahu kegiatan dia.

Baca Juga:

Pengelola Kafe Seharusnya Lebih Tegas pada Pengunjung Nggak Peka, Mereka Tak Hanya Mengganggu Pembeli Lain, tapi Juga Mengancam Kelangsungan Bisnis

6 Alasan Saya Nggak Puas Kuliah di Fakultas Ekonomi UIN Saizu Purwokerto yang Dijuluki Fakultas Mahal

Adrian akhirnya bercerita jujur bahwa memang Energen itu adalah bekal makan siangnya. Oh my God, my Goodness, my Lord—mungkin reaksi kaget saya agak berlebihan bagi sebagian orang, tapi ini terjadi di tahun 2014 di kampus yang (katanya) terbaik di negeri ini dan pelakunya adalah mahasiswa S2.

Adrian bahkan terkadang dalam sehari hanya makan sekali saja. Di sinilah Energen membuktikan slogannya sebagai minuman penambah energi. Karena saya lihat Adrian tetap bisa fokus dan berenergi sepanjang hari dengan intensitas pekerjaan yang berat.

Ternyata dia pun seringkali harus pergi dan pulang ke kampus dengan jalan kaki. Tidak terlalu jauh sih, mungkin cuma 4-5 kilometer jaraknya. Tapi bagi mahasiswa yang tetap naik kendaraan bermotor meski kos di seberang kampus sih, jelas jarak itu begitu jauh.

Ternyata seperti dugaan saya, Adrian sedang mengalami kesulitan finansial sejak sekitar 1 tahun terakhir. Untuk biaya kuliah untungnya Adrian rutin mendapat beasiswa karena prestasinya—bukan karena status ekonominya. Karena di jurusan yang kami ambil tidak menyediakan beasiswa untuk kesulitan finansial. Ya, you know-lah jurusan apa itu. Inisialnya aja ya, S B M. Inisial kampusnya I T B. Ups!

Adrian hanya bercerita jujur kepada saya dan beberapa teman dekat saja—kepada sesama kaum burjois (penggemar burjo) seperti kami saja. Karena sebagian besar mahasiswa di jurusan ini berasal dari kasta borjuis tertinggi di negeri ini.

Seringkali orang-orang dengan masalah finansial di kampus yang kita temui tidak berwujud seperti Adrian. Maksudnya, kebanyakan dari mereka sudah terlihat mencolok dari penampilan fisiknya. Monmaap nih ya, nggak maksud nyinggung lho~

Sementara Adrian tampak normal seperti mahasiswa kebanyakan di jurusan kami—iya, di jurusan kami. Tempat di mana akan sangat mudah terlihat apabila kita “berbeda” -secara kemapuan finasial—dia tidak pakai baju bermerek kok. Cuma ya tidak tampak kampungan ketinggalan jaman saja tampilan busananya.

Saya tentu saja salut dengan Adrian yang selalu memupuk semangat belajarnya yang tinggi dengan tidak menunjukkan kesulitan yang dialaminya kepada orang sekitar. Bahkan hampir tak ada yang tahu bahwa Adrian selalu makan siang dengan bekal Energennya itu. Adrian tetaplah tampak sebagai mahasiswa yang keren di balik segala kerumitan hidupnya.

Adrian pula lah yang berjasa mengajak saya untuk ikut mendaftar beasiswa ke luar negeri. Padahal saya sebenarnya tidak percaya diri untuk ikut mendaftar. Tapi Adrian berhasil meyakinkan saya untuk coba mendaftar. Satu tahun setelahnya kami benar-benar kuliah ke luar negeri—sama-sama di benua Eropa tapi berbeda negara.

Kisah soal Adrian menjalani kuliah di luar negeri—dengan segala kesulitan finansialnya yang belum juga teratasi—tentunya jauh lebih unik lagi. Tunggu saja kisah sekuel dari artikel ini. Sampai jumpa lagi ya. Bhay!

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: Kesulitan FinansialMahasiswaMahasiswa Kere
Nick Bash

Nick Bash

Saya saat ini berprofesi sebagai pengusaha paruh waktu, di sela-sela kesibukan saya menemani istri dan anak saya sambil terus belajar menyeimbangkan hidup.

ArtikelTerkait

kotak pensil

Menebak Kepribadian Pelajar Berdasarkan Isi Kotak Pensil

20 September 2019
bangun pagi

Tips Bangun Pagi Tanpa Harus Nyusahin Orang Lain

19 Maret 2020
Dear Warga, Jangan Pasang Ekspektasi Terlalu Tinggi ke Mahasiswa KKN, Takutnya Nanti Kecewa Mojok.co

Dear Warga, Jangan Pasang Ekspektasi Terlalu Tinggi ke Mahasiswa KKN, Takutnya Nanti Kecewa

25 Agustus 2025
5 Siasat dari Mantan Barista untuk Menghadapi Mahasiswa yang Nongkrong di Kafe Berjam-jam, Rombongan, dan Nggak Jajan Mojok.co

5 Siasat dari Mantan Barista untuk Menghadapi Mahasiswa yang Nongkrong di Kafe Berjam-jam, Rombongan, dan Nggak Jajan

17 Juni 2024
Purwokerto Tak Perlu Dipaksa Jadi Kota Santri, Membangun Pondok Bukan Sekadar Ambisi Dosen UIN

Purwokerto Tak Perlu Dipaksa Jadi Kota Santri, Membangun Pondok Bukan Sekadar Ambisi Dosen UIN

26 September 2025
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya

25 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

6 Alasan Saya Nggak Puas Kuliah di Fakultas Ekonomi UIN Saizu Purwokerto yang Dijuluki Fakultas Mahal Mojok.co

6 Alasan Saya Nggak Puas Kuliah di Fakultas Ekonomi UIN Saizu Purwokerto yang Dijuluki Fakultas Mahal

18 Juni 2026
Soto Bukan Makanan Rakyat, Harganya Mahal karena Sate-satean dan Gorengan Mojok.co

Soto Bukan Makanan Rakyat, Harganya Mahal karena Sate-satean dan Gorengan

23 Juni 2026
Jalur Jombang-Nganjuk Lebih Mirip Halang Rintang daripada Jalan Arteri Mojok.co

Jalur Jombang-Nganjuk Lebih Mirip Halang Rintang daripada Jalan Nasional

19 Juni 2026
Sisi Gelap Budak Elite di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta (Unsplash)

Sisi Gelap Budak Korporat di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta: Ketika Pekerja Menggadai Kewarasan demi Terlihat Elite

20 Juni 2026
Drama Tumbler di XXI: Ketika Membawa Tumbler Dianggap Tindakan Kriminal yang Mengancam Ekonomi Bisnis Bioskop  

Beli Kopi Pakai Tumbler Memang Ramah Lingkungan, tapi Plis, Dicuci Dulu, Jangan Minta Baristanya Nyuci Tumbler Kalian!

22 Juni 2026
Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau Mojok.co

Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau

17 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.