Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Kalkulasi Kenikmatan: Konsep Puasa ala Penganut Aliran Filsafat Epicurianis

Aly Reza oleh Aly Reza
22 Mei 2020
A A
Kalkulasi Kenikmatan: Konsep Puasa ala Penganut Aliran Filsafat Epicurianis warung makan yang buka siang hari di bulan puasa mau beli curiga tutup tirai mojok

Kalkulasi Kenikmatan: Konsep Puasa ala Penganut Aliran Filsafat Epicurianis warung makan yang buka siang hari di bulan puasa mau beli curiga tutup tirai mojok

Share on FacebookShare on Twitter

“Lur, aku khilaf maneh,” begitu bunyi pesan yang masuk ke WhatsApp saya. Seperti yang sudah-sudah, teman dekat saya ini pasti abis membeli sesuatu yang sebenernya nggak terlalu dibutuhkan. Sebelum akhirnya Ia menyesal karena telah menghambur-hamburkan uang dengan percuma. Selama tiga tahun berteman di perantauan, saya pun hafal betul kalau tabiat temen saya ini memang angin-anginan.

Hari ini bilangnya nyesel, tapi besok-besok kalau lagi sreg sama sesuatu, tanpa pikir panjang pasti langsung dibeli untuk nyesel lagi pas sudah tahu kalau barang yang dibeli sebenernya nggak penting-penting amat. Dan kejadian ini nggak terjadi sekali atau dua kali, tapi sudah puluhan kali.

Misalnya, suatu hari ketika kami ada di pusat perbelanjaan, dia pasti nggak bisa nahan hasratnya buat beli sepatu lah, jam tangan lah, gitar lah, dresscode lah, dan lain-lain. Padahal sepatu di rumahnya udah bejibun banyaknya. Jam tangan juga sudah turah-turah. Gitar, sebelumnya sudah beli, dan jarang dipakai, lha kok bisa-bisanya mau beli lagi.

Yang paling gaje, biasanya kalau abis lihat hewan-hewan lucu di YouTube, auto ngajak saya ke pasar hewan buat beli marmut. Apakah si marmut bakal dirawat dengan baik? Oh jangan salah sangka dulu, si marmut sekarang malah diadopsi sama temen saya yang lain karena nggak tega. Lha yang punya aja nggak pernah ngurusi je, udah bosen katanya. Saya masih nunggu dia bilang: mau bikin mini zoo di belakang rumahnya kayak Alshad Ahmad.

Selama ini saya memang nggak banyak menegur, maksudnya ya apa urusan saya gitu, duit-duit dia sendiri. Sesekali saja saya bilang ke dia agar dikit-dikit belajar cara me-manage keuangan dan membuat skala prioritas kebutuhan. Yang sekiranya nggak penting atau udah ada di rumah, ya nggak usah nimbun lagi. Soalnya gini, Lur, kadang gitu temen saya ini sambat nggak punya uang buat makan. Nah loh, coba dari awal mikir, penting mana kebutuhan makan sama beli barang yang sekiranya aja cuma berakhir jadi pajangan? Kecuali kalau situnya doyan makan sepatu.

“Sekalipun kamu ini anak sultan, kalau polahmu gini terus bisa-bisa bapakmu bangkrut, Nder. Ingat pepatah Jawa, anak polah bapa kepradah,” tegur saya suatu kali. “Ha gimana, aku khilaf, og,” jawabnya klise. Sekarang catat ini, yang namanya khilaf itu emang enak di awal, bikin nagih pula. Nggak enaknya baru belakangan.

Untuk mengatasi gejala semacam ini, tampaknya kita perlu belajar konsep puasa dari aliran filsafat Epicurianisme, yang didirikan oleh Epicurus pada 300 SM di Athena. Puasa dalam hal ini bukan seperti pengertian puasa Ramadan yang sedang kita kerjakan sekarang ini ya, Lur. Puasa dalam konsep Epicurus adalah mengekang hasrat atau keinginan tertentu. Baginya, nafsu harus dikekang, karena nafsu tak terkendalilah yang menjadi biang penderitaan. Epicurus menyebutnya dengan “kalkulasi kenikmatan”.

Konsep ini menekankan agar kita selalu mempertimbangkan efek samping dari setiap langkah yang akan kita ambil. Keputusan yang tepat akan mengarah pada kenikmatan dengan skala lebih besar, berlaku juga sebaliknya. Epicurus yakin betul bahwa hasil yang menyenangkan dalam jangka pendek (kenikmatan sesaat) harus ditahan demi kemungkinan memperoleh kenikmatan jangka panjang.

Baca Juga:

Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial

Bukber Berkedok Reuni Itu Seperti “Scam”: Adu Outfit, Adu Gaji, Adu Kerjaan, Ujung-ujungnya Adu Nasib

Contohnya saya ambil dari kasus temen saya saja biar mudah. Hari ini misalnya kita sedang sangat tertarik dengan sebuah sepatu yang selain trendi, harganya juga bombastis. Kita perlu bikin kalkulasi dulu, berapa total uang di kantong kita? Kira-kira apa saja yang saya butuhkan dengan uang ini selama beberapa hari ke depan?

Dengan begitu kita akhirnya tahu, oh jika uang yang kita pegang ini habis buat beli sepatu, konsekuensinya kita bakal kelaparan karena sudah nggak pegang uang. Tapi kalau keinginan buat beli sepatu tersebut kita tunda dulu, lain lagi ceritanya. Jadi, kita merelakan kenikmatan sesaat berupa memiliki sepatu keren, demi mendapat kenikmatan jangka panjang berupa masih bisa makan tiga kali sehari dalam beberapa hari ke depan.

Contoh lain misalnya dalam urusan memilih makanan. Makanan yang manis-manis mungkin sangat lezat dan sangat menggoda. Tapi terlalu banyak menyantap makanan manis bisa bikin diabetes, loh. Nah, perlu ada “kalkulasi kenikmatan”; menahan diri untuk makan makanan berkadar gula tinggi dengan jumlah banyak pada hari ini. Karena kalau kebanyakan, efeknya diabetes di masa tua, dan itu nggak enak. Pilih mana? Ngerasain enaknya melahap makanan manis di masa sekarang (jangka pendek), atau memilih nikmatnya menyongsong hari tua dengan sehat walafiat (jangka panjang)?

Secara nggak langsung aliran filsafat Epicurianisme juga mengajarkan tentang betapa pentingnya aktivitas menabung. Misalkan saja, saat kita punya uang, kita bisa saja membelikan semuanya dengan apa pun yang kita inginkan saat itu juga. Katakanlah kita langsung memborong motor dalam jumlah banyak. Tapi secara kegunaan, ini jelas nggak efektif. Pasalnya, nggak semua motor itu bakal terpakai. Lagipula, kalau jumlah keluarga kita banyak, kita nggak butuh motor banyak juga untuk mengakomodir seluruh anggota keluarga.

Kalau misalnya hendak berpergian bareng-bareng, bener sih masing-masing megang motor sendiri-sendiri. Tapi ini ruwet dan nggek efisien. Membeli mobil, saya kira pilihan yang lebih masuk akal untuk mengatasi hal ini. Nah, kalau begitu, kita tahan dulu belanja motor banyak. Uangnya kita sisihkan dari hari ke hari, ditabung untuk membeli mobil saja di kemudian hari.

Kemampuan untuk mengkalkuasi ini—kata Epicurus—hanya dimiliki oleh manusia. Hal itulah yang membedakan manusia dengan binatang. Kesimpulannya, kalau kita nggak bisa atau nggak mau belajar untuk mengekang hasrat dan melakukan “kalkulasi kenikmatan”—kalau merujuk apa yang dikatakn Epicurus—berarti antara kita dan binatang ternyata sama saja, nggak ada bedanya. Wqwqwq.

BACA JUGA Tarawih Sepanjang Waktu, Puasa Sepanjang Usia dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Mei 2020 oleh

Tags: Filsafat Epicurianiskalkulasi kenikmatanPuasa
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

4 Dosa Penjual Kolak Pisang Saat Bulan Ramadan

4 Dosa Penjual Kolak Pisang Saat Bulan Ramadan

23 Maret 2023
3 Hal yang Terasa Istimewa di Bulan Ramadan 2021 #TakjilanTerminal47 terminal mojok

3 Hal yang Terasa Istimewa di Bulan Ramadan 2021 #TakjilanTerminal47

11 Mei 2021
naskah jawa tembang jawa kaum rebahan serat wulangreh pakubuwana iv cegah dhahar lawan guling mojok

Kaum Rebahan Harus Tahu Nasihat ‘Cegah Dhahar Lawan Guling’ dari Pakubuwana IV

10 Mei 2020
Lebaran Tahun Ini: Meski Raga Tak Bersama, Silaturahmi Tetap Harus Terjaga Berlutut dan Pakai Bahasa Jawa Kromo Adalah The Real Sungkeman saat Lebaran Selain Hati, Alam Juga Harus Kembali Fitrah di Hari yang Fitri Nanti Starter Pack Kue dan Jajanan saat Lebaran di Meja Tamu Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru Pasta Gigi Siwak: Antara Sunnah Nabi Atau Komoditas Agama (Lagi) Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan Suka Duka Menjalani Ramadan Tersepi yang Jatuh di Tahun Ini Melewati Ramadan dengan Jadi Anak Satu-satunya di Rumah Saat Pandemi Memang Berat Belajar Gaya Hidup Eco-Ramadan dan Menghitung Pengeluaran yang Dibutuhkan Anak-anak yang Rame di Masjid Saat Tarawih Itu Nggak Nakal, Cuma Lagi Perform Aja Fenomena Pindah-pindah Masjid Saat Buka Puasa dan Salat Tarawih Berjamaah 5 Aktivitas yang Bisa Jadi Ramadan Goals Kamu (Selain Tidur) Nanti Kita Cerita tentang Pesantren Kilat Hari Ini Sejak Kapan sih Istilah Ngabuburit Jadi Tren Ketika Ramadan? Kata Siapa Nggak Ada Pasar Ramadan Tahun Ini? Buat yang Ngotot Tarawih Rame-rame di Masjid, Apa Susahnya sih Salat di Rumah? Hukum Prank dalam Islam Sudah Sering Dijelaskan, Mungkin Mereka Lupa Buat Apa Sahur on the Road kalau Malah Nyusahin Orang? Bagi-bagi Takjil tapi Minim Plastik? Bisa Banget, kok! Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja! Mengenang Kembali Teror Komik Siksa Neraka yang Bikin Trauma Keluh Kesah Siklus Menstruasi “Buka Tutup” Ketika Ramadan Angsle: Menu Takjil yang Nggak Kalah Enak dari Kolak Nanjak Ambeng: Tradisi Buka Bersama ala Desa Pesisir Utara Lamongan

Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja!

2 Mei 2020
Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial Mojok.co

Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial

3 Maret 2026
puasa yang dipermasalahkan

Puasa yang Dipermasalahkan

30 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Setelah akad KPR rumah, saya baru sadar bahwa beli rumah bukannya jadi solusi, tapi justru jadi masalah baru

1 Agustus 2026
Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama Mojok.co

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama

6 Agustus 2026
Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

1 Agustus 2026
4 hal yang tidak saya sangka bisa dilakukan driver ojek online selain mengantar penumpang dan makanan Mojok.co

4 hal yang tidak saya sangka bisa dilakukan driver ojek online selain mengantar penumpang dan makanan

1 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.