Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kalau Agama Dilihat dari Cara Berpakaian, Orang Ateis Akan Telanjang Selamanya

Fransciscus Wishwa Shakti Pranadata oleh Fransciscus Wishwa Shakti Pranadata
5 Februari 2021
A A
Kalau Agama Dilihat dari Cara Berpakaian, Orang Atheis akan Telanjang Selamanya terminal mojok.co

Kalau Agama Dilihat dari Cara Berpakaian, Orang Atheis akan Telanjang Selamanya terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Kebetulan sekali saya menonton acara Mata Najwa Edisi Rabu, 3 Februari 2021 yang bertema “Sekali Lagi Soal Toleransi”. Hari ini yang dibahas di acara ini adalah salah satu kontroversi tentang kewajiban dan larangan menggunakan atribut keagamaan di sekolah, yang berujung pada diterbitkannya SKB 3 Menteri yang sepakat untuk “tidak boleh ada larangan dan tidak boleh ada paksaan untuk mengenakan atribut keagamaan”, ya kurang lebihnya begitulah mengatur tentang cara berpakaian murid yang sempat ramai di Padang. Sebenarnya bahasan ini agak biasa, mengingat ini adalah masalah toleransi yang pasti telah dan akan terjadi di negara kita, namun entah kenapa ini agak menarik dibandingkan bahasan lainnya mengenai toleransi.

Seorang bintang tamu pada acara Mata Najwa ini ada yang memberi sebuah argumen, kira-kira seperti ini, “Negara kita adalah negara religius, dibuktikan dari sila pertama dalam Pancasila yang menyatakan bahwa negara ini adalah negara Ketuhanan Yang Maha Esa. Maka dari itu, kita mendidik anak-anak kita untuk berpakaian sesuai agamanya masing-masing agar anak-anak kita menjadi anak yang religius.”

Di sini saya menganut keyakinan bahwa pendapat semua orang adalah benar menurut dirinya masing-masing, jadi di sini saya tidak mengatakan bahwa opininya tentang cara berpakaian itu salah, hanya saja saya memiliki opini yang lain. Sedikit menggarisbawahi juga beberapa pernyataan yang beliau ucapkan.

Pertama, pernyataan bahwa negara kita adalah negara religius. Ya, tidak salah bahwa negara ini adalah negara yang membebaskan keyakinan rakyatnya selama yang mereka percaya adalah Tuhan, atau setidaknya sebuah kepercayaan yang menganut adanya “Sang Pencipta”. Ya meski belum ada kebebasan untuk tidak percaya pada Tuhan, yang membuat saya jadi penasaran apakah para penganut ateisme, satanisme, atau mereka yang menyembah tokoh anime bisa hidup dengan tenang di negara ini. 

Memang benar, negara ini adalah negara religius, namun kita juga perlu mengingat bahwa terdapat Undang-Undang Dasar yang menyebutkan bahwa seluruh Warga Negara Indonesia kebebasan untuk menganut agama dan keyakinannya masing-masing. Masalahnya lagi, satu agama saja sudah dapat menimbulkan paham yang berbeda dari setiap kelompok individunya. Mereka, pemuja Attack on Titan saja memiliki pemahaman berbeda tentang keputusan Eren Yeager untuk menghancurkan dunia, apalagi masalahnya agama. Dan sebagai pencinta kebebasan, saya rasa keputusan terbaik dari masalah ini adalah membebaskan bagi rakyat dalam cara berpakaian, selama itu masih dapat diterima secara moral.

Kedua, pernyataan bahwa cara berpakaian menjadikan seseorang religius. Sebenarnya ini debatable, tapi berdasarkan pemahaman saya mengenai eksistensialsime Kierkegaard, wilayah religi adalah wilayah yang menyatakan hubungan antara seorang hamba dengan Tuhan yang dia yakini. Dan kita sebagai sesama hamba, sesama manusia tidak dapat memutuskan seberapa religius seseorang, apalagi dengan cara melihat cara berpakaian. Sebab alih-alih masalah keagamaan, sebenarnya berpakaian ini lebih condong ke masalah moral. Tidak masalah dia ingin mengenakan jilbab, turban, atau jubah biksu, selama cara berpakaiannya dapat diterima secara moral, masalah berpakaian tidak perlu dipermasalahkan. Percuma jika ia mengenakan atribut keagamaan kalau nggak pakai celana kan?

Ketiga, dan terakhir, tidak semua agama memiliki aturan khusus dalam berpakaian, sebab kembali lagi berpakaian adalah urusan moral dan kesopanan. Kalau kita berbicara “berpakaian sesuai agama” mengacu pada kultur suatu agama tertentu, masa iya kita harus menyuruh umat Hindu untuk berpakaian serba putih seperti Pandita di Bali saat melaksanakan upacara keagamaan? Apa kita mewajibkan teman-teman beragama Budha untuk memakai jubah kemana-mana? Apa mereka yang mempercayai arwah nenek moyang seperti di Papua perlu memakai pakaian adat setiap saat? Tentu tidak kan? Tapi, sebenarnya kalau dipikir-pikir asyik juga, pawai Hari Kartini yang mulai jarang diadakan sekarang bisa kita lihat setiap hari, hehe. 

Oh iya, lalu mereka-mereka yang ngaku-ngaku ateis kalian suruh pakai apa coba? Apa mereka yang tidak percaya Tuhan tidak perlu berpakaian? Apa nanti para cosplayer akan dituduh menyembah karakter anime? Mari nanti kita tanyakan pada mereka yang menilai agama seseorang dari pakaiannya.

Baca Juga:

Guru Agama Katolik, Pekerjaan dengan Peluang Menjanjikan yang Masih Kurang Dilirik Orang

Curhatan Santri: Kami Juga Manusia, Jangan Memasang Ekspektasi Ketinggian

BACA JUGA Riuh Rendah Mereka yang (Mengaku) Ateis atau tulisan Fransciscus Wishwa Shakti Pranadata lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Februari 2021 oleh

Tags: agamaateis
Fransciscus Wishwa Shakti Pranadata

Fransciscus Wishwa Shakti Pranadata

Cuma mampir sebentar, siapa tahu ada kebenaran di sini

ArtikelTerkait

pemuka agama penyimpangan borok mojok

Borok Pemuka Agama Lain Tidak Perlu Dicari

2 Oktober 2020
ambon

Jualan Agama di Ambon? Tak Akan Laku

15 Juli 2019
agama sebagai obat bius

Ketika Agama Dijadikan Obat Bius untuk Kasus Dosen Predator

21 Mei 2019
Guru Agama Katolik, Pekerjaan dengan Peluang Menjanjikan yang Masih Kurang Dilirik Orang Mojok.co

Guru Agama Katolik, Pekerjaan dengan Peluang Menjanjikan yang Masih Kurang Dilirik Orang

22 Januari 2026
teologi

Tak Selamanya Teologi Menyebabkan Benturan Keras: Buktinya di Indonesia Teologi Malah Dijadikan Guyonan

12 September 2019
Kiamat Tidak Akan Terjadi karena Pegunungan Makkah Jadi Hijau dan Cristiano Ronaldo Kumpul Kebo

Kiamat dalam Berbagai Versi Agama, dari Majusi Sampai Buddha

6 Februari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya Mojok.co

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya

4 Juni 2026
Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

7 Juni 2026
Derita Di Balik Keindahan Brown Canyon Semarang: Kisah Warga yang Harus Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang Mojok.co

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Brown Canyon Semarang, Warga (Terpaksa) Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang

4 Juni 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co

Malang Bukan Lagi Kota yang Dingin dan Asri, Kini Ia Menjelma Jadi Kota Panas dan Tak Menyenangkan

10 Juni 2026
Blora Bukan Tempat Tinggal yang Tepat untuk 4 Orang Ini

Mampukah Blora Bangkit dari Julukan Pelosok dan Daerah Tersepi?

10 Juni 2026
Bukan Sensi atau Mengabaikan, Ini Alasan Dosen Lama Balas Chat walau WhatsApp-nya Online Mojok.co

Bukan Sensi atau Mengabaikan, Ini Alasan Dosen Lama Balas Chat walau WhatsApp-nya Online

9 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.