Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Curhatan Santri: Kami Juga Manusia, Jangan Memasang Ekspektasi Ketinggian

Ahmad Dani Fauzan oleh Ahmad Dani Fauzan
10 Agustus 2024
A A
Curhatan Santri: Kami Juga Manusia, Jangan Memasang Ekspektasi Ketinggian Mojok.co

Curhatan Santri: Kami Juga Manusia, Jangan Memasang Ekspektasi Ketinggian (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada ekspektasi tertentu ketika seseorang menyandang status santri. Wajar saja ekspektasi ini muncul, sebab para santri ini tinggal di pondok pesantren dan belajar lebih dalam soal agama. Namun, saya ingatkan, ini bukan berarti mereka yang hidup di pondok bebas dari kesalahan dan dosa. Santri tetaplah  manusia. 

Di dalam tulisan ini saya tidak ingin merendahkan santri atau ajaran di pondok pesantren ya. Saya hanya ingin membuka mata pembaca mengenai kehidupan di pondok pesantren, sehingga mereka nggak perlu memasang ekspektasi yang ketinggian. Selain akan kecewa sendiri, sejujurnya ekspektasi ketinggian itu membebani para santri. 

Ada banyak alasan masuk pesantren, nggak melulu soal agama

Tidak semua orang yang masuk pesantren karena ingin menjadi santri atau belajar agama. Saya sudah mondok kurang lebih 10 tahun. Saya tahu betul motif yang mendorong seseorang masuk pesantren. Selain belajar agama, sebenarnya ada banyak motif lain, motif yang nggak banyak orang tau. 

Salah satu alasan yang jarang orang lain tau, orang tua memilih memondokan anaknya karena nggak mampu lagi menghadapi kebandelan anaknya. Mereka melihat pesantren sekadar sebagai tempat penampungan anak-anak nggak bisa diatur. 

Tentu saja niat mereka sebenarnya baik, ingin anaknya bisa memperbaiki diri karena berada di lingkungan yang baik. Akan tetapi, langkah itu terkadang merepotkan untuk yang lain. Bukannya berubah jadi kalem, anak-anak bandel justru memengaruhi santri lain yang tadinya kalem. Itu mengapa, ekspektasi orang-orang kalau masuk pondok pesantren bisa jadi sosok yang lebih baik, paham agama, dan kalem bisa jadi salah besar. 

Menyandang predikat santri itu berat

Ekspektasi yang ketinggian sebenarnya membebani para santri. Beban itu begitu terasa saat musim liburan, ketika kembali ke rumah masing-masing. Momen tersebut menjelma menjadi semacam ujian ilmu yang sudah didapat di pondok pesantren. 

Sebenarnya momen liburan cukup menyenangkan karena kami bisa membagi ilmu yang selama ini didapat. Di sisi lain, momen ini cukup menantang karena ada beberapa orang yang berharap terlalu banyak atau memasang ekspektasi ketinggian. Seolah-olah melihat santri manusia yang nggak boleh melakukan kesalahan. 

Bayangkan saja, betapa sesaknya kalau tindak-tanduk kalian selalu diperhatikan dan dinilai oleh orang-orang sekitar. Saya paham, ini risiko menyandang status santri. Namun, saya nggak paham satu hal, kenapa kami ini dianggap manusia yang sempurna. Kami juga nggak luput dari kesalahan. Setiap kesalahan akan dikulik berkali-kali lewat cibiran yang menyakitkan. Padahal, lewat satu teguran atau pengingat saja sebenarnya sudah cukup bagi kami untuk berkaca. 

Baca Juga:

8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen 

Temanggung yang Terkenal Nyaman Bisa Bikin Orang Jombang Nggak Betah

Lantas ekspektasi seperti apa yang sebaiknya dilekatkan pada para santri? Saya tahu persis nggak bisa memaksakan orang untuk berpikiran sama. Namun, kalau boleh menyarankan, Orang-orang tidak perlu berekspektasi apapun. Saya ingin orang-orang melihat santri sebagai sosok yang berproses untuk menjadi pribadi lebih baik lagi. Kami juga manusia biasa, wajar  kalau bisa khilaf dan melakukan kesalahan. Dukungan semacam inilah yang para santri butuhkan. 

Penulis: Ahmad Dani Fauzan
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Pesantren dan Romantisme Hidup Santri Saat Hafalan Wazan Fa, ‘A, La

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2024 oleh

Tags: agamamanusia biasaMondoknyantriPondok Pesantrensantri
Ahmad Dani Fauzan

Ahmad Dani Fauzan

Pemuda asal Kota Tape Bondowoso. Tertarik memotret dan merenungi isu sosial. Bercita-cita punya Baitul Hikmah pribadi.

ArtikelTerkait

Oknum Lora di Pesantren Kerap Bikin Jengkel, Bertingkah Seenaknya Bawa-bawa Nama Besar Bapaknya

Oknum Lora di Pesantren Kerap Bikin Jengkel, Bertingkah Seenaknya Bawa-bawa Nama Besar Bapaknya

21 Agustus 2025

Empat Tingkatan Santri Ndugal di Pondok Pesantren

20 April 2020
ateis mojok.co

Riuh Rendah Mereka yang (Mengaku) Ateis

6 Juli 2020
Tempat Menyimpan Uang Ala Santri Saat Keluar, selain Dompet dan Saku terminal mojok

Tempat Menyimpan Uang ala Santri Saat Keluar, selain Dompet dan Saku

2 Februari 2021
Belajar Ilmu Investigasi Saat Berupaya Menemukan Maling di Asrama

Cara Menemukan Maling di Asrama dengan Ilmu Investigasi Sederhana

2 Oktober 2020
Saya Menyayangkan Video Reaksi Gus Miftah yang Menegur Ustaz Maheer di YouTube terminal mojok.co

Saya Menyayangkan Video Reaksi Gus Miftah yang Menegur Ustaz Maheer di YouTube

25 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Gara-gara buta warna parsial, saya tidak bisa jadi apa-apa karena syarat administrasi yang mendiskriminasi

9 Agustus 2026
4 alasan saya lebih memilih salat di musala SPBU daripada masjid saat bepergian Mojok.co

4 alasan saya lebih memilih salat di musala SPBU daripada masjid saat bepergian

12 Agustus 2026
Alasan saya suka curhat ke AI, nyaman karena tidak dihakimi dan tidak menambah beban hidup orang lain Mojok.co

Alasan saya suka curhat ke AI, nyaman karena tidak dihakimi dan tidak menambah beban hidup orang lain

11 Agustus 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026
Dibanding sound horeg, voli tarkam jauh lebih masuk akal buat event Agustusan  

Dibanding sound horeg, voli tarkam jauh lebih masuk akal buat event Agustusan  

12 Agustus 2026
5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia saja Mojok.co

5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia aja, nggak usah jauh-jauh ke luar negeri

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.