'Justice League Snyder’s Cut' di Mata Awam Saya dan Tips Ngeles Soal Joker – Terminal Mojok

‘Justice League Snyder’s Cut’ di Mata Awam Saya dan Tips Ngeles Soal Joker

Artikel

Justice League Snyder’s Cut telah rilis di HBO Max. Sebagai seorang yang belum pernah merasakan menonton film di kanal itu, saya merasa beruntung soalnya di paketan streamingan bola saya ternyata bisa juga menontonnya. Kesempatan ini jelas tak saya sia-siakan untuk menonton film berdurasi hampir 4 jam ini. Jujur saja, kemarin saya harus nahan kencing selama menonton ini.

Btw, tulisan ini akan mengandung beberapa spoiler, jadi kalau tidak mau teracuni silakan baca tulisan lainnya saja.

Sebagai seorang yang biasa saja, saya ini tidak pernah atau jarang menonton film superhero. Alasan saya simpel, mereka sering hanya menampilkan kehebatan kekuatannya tanpa jalan cerita yang bagi saya menarik. Isinya kebanyakan pamer skill, lalu ketemu musuh, tonjok-tonjokkan, dah selesai. Ceritanya boro-boro menarik.

Lantas mengapa saya susah-susah kudu menahan kencing 4 jam untuk menonton film superhero ini? Simpel juga, karena di sini ada Joker. Disclaimer, saya ini penggemar karakter Joker, ya, walaupun nggak lama-lama amat. Tepatnya, sejak The Dark Knight. Sejak itu tiap ada Joker di satu film DC saya selalu sempatkan menonton. Termasuk yang satu ini.

Sebelumnya, saya benar-benar awam saat pertama kali menonton film ini. Blas, semua karakternya, selain Batman, saya tidak mengerti asal usul, kekuatan, atau apa pun itu yang melatarbelakangi mereka menjadi superhero. Bahkan secantik dan se-semlohay-nya Gal Gadot memerankan Wonder Woman saya tidak tonton. Superman pun begitu.

Mari kita masuk ke filmnya. Satu kata untuk menggambarkan keseluruhan isi film Justice League Snyder’s Cut ini adalah exhausting (melelahkan). Iya kamu tidak salah baca, melelahkan. Melelahkan di sini bukan karena durasinya, ya, melainkan banyak shoot dari film ini beradegan slow-motion. Kebanyakan di adegan-adegan Wonder Woman. Setiap dia nyerang kok rasa-rasanya waktu jadi bergerak lambat.

Saya bisa maklum saat The Flash atau Aquaman di-slowmo-kan. Soalnya, kecepatan Flash kan kilat ya jadi biar tau dia ngapain wajar di slow-mo dan Aquaman di air yang jelas geraknya lambat karena tekanan air. Tapi ini, tiap-tiap adegan Wonder Woman kok kebanyakan dipelanin? Saya lalu berasumsi liar. Jangan-jangan mereka ingin memanjakan mata penonton makanya di slow-mo.

Selain itu, film Justice League Snyder’s Cut ini melelahkan dari sisi menguras emosional saya sendiri. Jujur saya sedih ya sama Aquaman. Di film ini, screen timenya sedikit banget. Seakan tiada gunanya si Aquaman dateng. Kalaupun timnya nggak ada Aquaman, saya rasa Justice League tetap bisa ngalahin Steppenwolf. Lihat saja deh, tiap kali dia bertarung rasa-rasanya kok nggak pernah menang, terkesan babak belur terus malahan.

Yang saya ingat, ada adegan saat bertarung dengan Steppenwolf dalam air. Betul dia nyelametin Mera, tapi kok terus dihajar habis setelahnya? Lemah banget, deh. Padahal di air loh, kandangnya sendiri. Terus pas ngehadang air laut dengan tongkatnya, dia hanya bisa nahan beberapa menit, tapi terus keliatan nggak ngefek gitu. Dia tetap babak belur juga diterjang air.

Belum lagi adegan-adegan lain yang bikin saya geregetan dan lelah lihat superhero satu ini.

Namun, ada beberapa kelebihan dari film Justice League Snyder’s Cut ini yang bisa saya puji. Misalnya, soal tone suasana filmnya. Kita sama-sama tahu kalau film DC itu identik dengan gelap, dark, suram, serius, dan sebagainya. Terlebih kalau ada Batman-nya, bisa dipastikan filmnya bakal serius dari awal sampai akhir. Namun, di film ini tidak begitu. Ya, walaupun si Bruce Wayne pembawaannya serius, tapi tetap bisa diletakkan sisi komedinya.

Selain itu, film ini menjadi menarik bagi saya karena ada scene The Joker. Setelah menunggu selama hampir empat jam, penantian saya terbayarkan dengan adegan Jared Leto. Akhirnya, diperlihatkan juga idola saya di layar rasio 4:3 ini. Memunculkan siluet pada awal adegannya, membuat saya excited sendiri. Setelah tiga jam berlelah-lelah dengan film ini, hati saya berbunga-bunga saat melihatnya tampil.

Masih dengan dandanan make up khasnya di Suicide Squad, sosok ini membuat saya terpesona. Kebahagiaan saya itu bertambah dengan rambutnya kini yang panjang lurus bak habis di-rebonding. Tak lupa, dicat dengan warna hijau metalik.

Bayangan saya langsung tertuju ke Billie Eilish. Sampai-sampai saya tidak memperhatikan si Joker ini berdialog apa. Saya sudah terlanjur girang dan melayang.

Saya senang karena Heath Ledger tetap memegang rekor sebagai Joker yang paling Joker versi saya. Tiada yang bisa menandingi, bahkan Joaquin Phoenix pun masih dua level di bawah Heath Ledger. Saya seneng ngelihat Jared Leto ini bisa menyusul di bawahnya. Kapan lagi Joker bisa secantik Billie Eilish kalau tidak di film ini.

Namun, kesenangan saya buyar saat ternyata itu hanya mimpi dari Bruce Wayne. Wasyuuu, Snyder memang jago buat ngeles. Menghindari kritik media kepada Joker, ya? Biar nggak dituduh bikin Joker yang nggak jelas begitu dan dicap jelek, kan? Jadinya, situ bisa ngeles gini, kan, “Lah, kan itu cuman mimpi. Hehehe.” Heha hehe, ngeles tok isone. Ramashoook.

Oh iya, tapi saya apresiasi penuh Mas Snyder untuk adegan The Joker ini. Jelas, ini sebuah langkah pintar dan paling aman untuk ngeles, kan?

BACA JUGA Review Zack Snyder’s Justice League dan Perbedaannya dengan Versi Teatrikal dan tulisan Kevin Winanda Eka Putra lainnya.

Baca Juga:  Berserk Hingga Beck: Daftar 15 Manga Terbaik Sepanjang Masa
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
13


Komentar

Comments are closed.