Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jogja Waktu Lebaran Tak Pernah Sepi, Ia Disesaki oleh Orang yang Pulang Kampung, Perantau yang Lari, dan Wisatawan Bermodal THR Tebal

Marselinus Eligius Kurniawan Dua oleh Marselinus Eligius Kurniawan Dua
13 Maret 2026
A A
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan jakarta

Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap tahun menjelang Lebaran, ada satu ironi yang selalu berulang di Jogja. Banyak orang membayangkan kota ini akan kosong. Mereka mengira mahasiswa pulang kampung, kos-kosan sepi, jalanan lengang, dan kota kembali menjadi desa besar yang tenang. Kenyataannya tidak (pernah) begitu.

Jogja justru berubah menjadi kota yang lebih padat dari biasanya. Bukan sekadar ramai, tetapi padat dengan jenis keramaian yang berbeda. Jalanan dipenuhi mobil plat luar kota. Restoran penuh antrean. Hotel nyaris tidak punya kamar kosong. Tempat wisata sesak seperti pasar malam.

ADVERTISEMENT

Faktanya,lebaran di Jogja bukan tentang kekosongan. Lebaran adalah siklus tahunan yang mengisi kota ini dengan tiga gelombang manusia sekaligus. Yaitu, masyarakat asli Jogja yang pulang untuk melepas rindu pada rumahnya sendiri. Lalu, para perantau yang tinggal di Jogja tetapi memilih tidak pulang kampung dan justru bersembunyi di kota ini. Dan tentu saja, ada wisatawan yang datang membawa THR yang siap dihabiskan.

Tiga kelompok ini datang dari arah yang berbeda, tapi berakhir di tempat yang sama. Mereka memenuhi Jogja dengan cerita, emosi, dan dompet yang terbuka lebar. Itu sudah menjadi rahasia umum

Orang Jogja yang pulang untuk melepas rindu

Gelombang pertama adalah orang Jogja sendiri. Mereka adalah orang-orang yang dulu tumbuh di kota ini tetapi sekarang bekerja di kota lain, karena ya, hidup di kota ini tidak mudah bagi mereka, meski ini tempat mereka lahir. Lebaran menjadi satu-satunya momen di mana mereka pulang.

Mereka kembali dengan mobil penuh koper, oleh-oleh, dan anak-anak yang mungkin bahkan tidak terlalu mengenal kota asal orang tuanya. Mereka datang untuk melakukan ritual yang selalu sama. Mengunjungi rumah orang tua, bertemu saudara, dan berjalan-jalan ke tempat yang dulu terasa biasa saja.

Hal menariknya, orang Jogja yang pulang ini sering menjadi wisatawan di kota mereka sendiri. Mereka makan di tempat yang dulu tidak pernah mereka kunjungi, berfoto di tempat yang dulu mereka anggap biasa saja, masuk ke toko oleh-oleh seperti turis.

Ada semacam nostalgia yang aneh di sini. Jogja yang mereka kenal dulu sudah berubah. Banyak jalan yang lebih ramai, banyak kafe baru, banyak hotel baru. Tetapi justru perubahan itu membuat mereka semakin ingin mengingat Jogja yang lama. Rindu membuat mereka kembali. Dan rindu itu selalu datang setiap Lebaran.

Baca Juga:

Jangan Salahkan Orang Jakarta kalau Harga Makanan di Jogja Tak Ramah Warlok: Sebuah Pembelaan untuk Kaum Plat B

Sebagai Anak Madura, Saya Cemburu dengan Anak Sumatera yang Tak Perlu Susah Payah Menyembunyikan Identitas

Para perantau yang memilih bersembunyi

Gelombang kedua jauh lebih menarik. Mereka adalah para perantau yang tinggal di Jogja tetapi memilih tidak pulang kampung saat Lebaran. Mahasiswa, pekerja muda, seniman, freelancer, atau siapa pun yang entah karena alasan ekonomi, jarak, atau pilihan pribadi memutuskan tetap tinggal di Jogja.

Bagi kelompok ini, Lebaran sering terasa seperti jeda yang panjang dari kehidupan normal. Kampus tutup. Kantor libur. Teman-teman pulang kampung. Kos-kosan mendadak sunyi. Jogja yang biasanya ramai oleh mahasiswa tiba-tiba berubah seperti kota yang kehilangan separuh penduduknya.

Namun di balik kesunyian itu, ada kebebasan yang aneh. Mereka yang tinggal justru menikmati Jogja dengan cara yang berbeda. Jalanan lebih longgar pada pagi hari. Beberapa sudut kota terasa lebih pelan. Warung yang buka terasa seperti oasis kecil.

Para perantau yang tidak pulang ini sering seperti orang yang bersembunyi dari dunia. Jogja menjadi tempat pelarian yang sempurna bagi mereka yang ingin menghindari drama keluarga, pertanyaan tentang pekerjaan, atau tuntutan sosial yang sering muncul saat Lebaran. Di kota ini, mereka bisa menghilang tanpa ada yang benar-benar mencari.

BACA JUGA: Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan

Wisatawan yang Datang Menghabiskan THR

Gelombang ketiga adalah yang paling terlihat. Wisatawan. Setiap Lebaran, Jogja berubah menjadi magnet besar bagi wisatawan dari berbagai kota. Mobil berpelat Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya berjejer di jalan-jalan utama. Mereka datang dengan satu tujuan sederhana yaitu liburan.

THR baru saja cair. Anak-anak sedang libur sekolah. Dan Jogja selalu punya reputasi sebagai kota wisata yang relatif murah, tetapi tetap menyenangkan. Hotel penuh. Restoran penuh. Tempat wisata penuh.

Dari Malioboro sampai pantai selatan, dari kafe kecil sampai pusat oleh-oleh, semua dipenuhi orang yang ingin menikmati liburan mereka. Ada energi konsumsi yang sangat kuat di sini. Orang makan lebih banyak dari biasanya. Mereka membeli oleh-oleh dalam jumlah besar. Mereka mencoba tempat wisata baru hanya karena penasaran. Jogja saat Lebaran menjadi semacam mesin ekonomi yang bekerja tanpa henti.

Kota yang dipenuhi tiga cerita sekaligus

Hal yang paling menarik dari Jogja saat Lebaran adalah kenyataan bahwa tiga kelompok ini hidup berdampingan dalam ruang yang sama. Orang Jogja pulang untuk mencari nostalgia. Perantau tinggal untuk mencari ketenangan. Wisatawan datang untuk mencari hiburan.

Tiga motif yang berbeda, tetapi semuanya bertemu di kota yang sama. Di satu meja restoran, mungkin ada keluarga Jogja yang pulang dari Jakarta. Lalu di meja sebelah ada mahasiswa yang tidak pulang kampung. Di meja lain ada wisatawan yang baru pertama kali datang ke kota ini.

Mereka mungkin tidak saling mengenal. Namun mereka berbagi ruang yang sama, jalan yang sama, dan pengalaman kota yang sama. Jogja menjadi semacam panggung besar yang mempertemukan banyak cerita sekaligus.

Siklus yang selalu terulang di Jogja

Yang membuat fenomena ini menarik adalah sifatnya yang sangat siklikal. Setiap tahun, cerita yang sama selalu terulang. Orang Jogja selalu pulang. Perantau selalu ada yang memilih tinggal. Wisatawan selalu datang membawa uang THR mereka.

Kota ini seolah memiliki ritme tahunan yang tidak pernah berubah. Setelah Lebaran selesai, semuanya kembali seperti semula. Wisatawan pulang. Orang Jogja kembali ke kota tempat mereka bekerja. Perantau kembali ke rutinitas kampus atau pekerjaan.

Jogja kembali menjadi kota mahasiswa, kota wisata, dan kota budaya seperti biasanya. Tetapi ketika Lebaran berikutnya datang, siklus itu akan dimulai lagi. Rindu akan membawa pulang orang Jogja. Keheningan akan menahan para perantau. Dan THR akan menarik wisatawan kembali ke kota ini.

Jogja mungkin berubah dari tahun ke tahun. Jalan bertambah ramai, bangunan baru muncul, dan wajah kota terus berganti. Namun satu hal tetap sama. Setiap Lebaran, Jogja selalu menjadi kota yang dipenuhi oleh rindu, pelarian, dan uang yang sedang ingin dihabiskan.

Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sebagai Warlok, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Maret 2026 oleh

Tags: JogjaLebaranlebaran di jogjaperantau di jogja
Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Guru yang baru terjun di dunia menulis. Gemar main game, jalan-jalan, dan kulineran. Suka membahas tentang daerah, sosial, ekonomi, pendidikan, otomotif, seni, budaya, kuliner, pariwisata, dan hiburan.

ArtikelTerkait

Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan jakarta

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Jogja Resah Ketika Parkir Liar Menggembosi Usaha Kopi Lokal (Unsplash)

Jogja yang Resah: Ketika Parkir Liar Menggembosi Usaha Kopi Lokal

17 Juli 2025
Wonogiri, Tempat Terbaik untuk Kalian yang Mendambakan Hidup Tanpa Kecemasan

Wonogiri, Tempat Terbaik untuk Kalian yang Mendambakan Hidup Tanpa Kecemasan

29 Februari 2024
Tour Guide Taman Sari Jogja, Profesi Paling Mulia karena Keikhlasannya

Tour Guide Taman Sari Jogja, Profesi Paling Mulia karena Keikhlasannya

31 Agustus 2024
The Victoria Hotel Jogja, Hotel Ramah Anak yang Membuat Liburan Keluarga Nggak Banyak Drama  (Mojok.co)

The Victoria Hotel Jogja, Hotel Ramah Anak yang Membuat Liburan Keluarga Nggak Banyak Drama  

26 Juni 2025
Salatiga Kota Terbaik di Jawa Tengah untuk Pensiun (Unsplash)

7 Hal yang Menegaskan Bahwa Salatiga Adalah Kota Terbaik di Jawa Tengah untuk Pensiun

5 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Pejuang Rupiah

Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Memahami Perjuangan Pejuang Rupiah di Atas Aspal

25 Juni 2026
Stereotipe FEB Unila Lampung yang Sebaiknya Jangan Dipercaya, Cuma Bikin Beban Mahasiswanya Mojok.co

Stereotipe FEB Unila Lampung yang Sebaiknya Jangan Dipercaya, Cuma Bikin Beban Mahasiswanya

30 Juni 2026
Alasan Desa Karanganom Layak Jadi Tempat Tinggal Paling Ideal di Klaten Mojok.co

Alasan Desa Karanganom Layak Jadi Tempat Tinggal Paling Ideal di Klaten

30 Juni 2026
Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja Mojok.co

Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja

25 Juni 2026
Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan Mojok.co

Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan

26 Juni 2026
Jalanan Surabaya yang "Liar" Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas Mojok

Jalanan Surabaya yang “Liar” Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas

24 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.