Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Jogja Terbuat dari Pembacokan, Jalan Rusak, dan Menghindari Masalah

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
8 Februari 2023
A A
Jogja Terbuat dari Pembacokan, Jalan Rusak, dan Menghindari Masalah (Unsplash)

Jogja Terbuat dari Pembacokan, Jalan Rusak, dan Menghindari Masalah (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari yang lalu, sebuah media nasional mengabarkan bahwa saat ini Bandung sedang dalam bahaya. Hal yang menyebabkan adalah geng motor, yang semakin nekat, sampai berani membunuh. Ketika membaca berita tersebut, kata “Bandung” seakan-akan berubah menjadi Jogja.

Awalnya saya khawatir sama kesehatan mata saya. Jangan-jangan saya yang mulai rabun mengingat terlalu lama memegang sebuah jabatan. Namun, setelah saya periksa lagi, terutama ke bagian kewarasan di otak saya, Bandung memang mirip sama Jogja. Bukan soal narasi “diciptakan ketika Tuhan tersenyum”, tapi soal begal, klitih, gangster, atau terserah deh mau istilah apa.

Sia-sia mengubah istilah

Kata orang, sebuah “kata” atau “istilah” itu selalu punya muatan politis di dalamnya. Ya saya sih enggan untuk membantah hal itu karena di titik tertentu mengandung kebenaran. Namun, untuk masalah Jogja dan gangster, klitih, begal, pemilihan istilah hanya sebatas usaha untuk menghindari atau menggampangkan masalah seperti biasanya.

Tahun lalu misalnya, pemerintah Jogja dan kepolisian ingin masyarakat meninggalkan istilah “klitih”. Mereka mengubahnya menjadi “kejahatan jalanan”. Apakah lantas kekerasan di jalan menghilang? Ya bohong banget kalau ada yang menjawab “iya”. Mungkin dia “sobat nrimo ing pandum” atau illiterate saja. Iya, illiterate, nggak bisa membaca suatu teks atau hal-hal yang sifatnya interteks.

Contoh konkretnya seperti ini. Beberapa minggu yang lalu ramai sebuah berita bahwa Jogja itu menjadi provinsi termiskin kedua di Pulau Jawa. Respons pemangku jabatan itu bukan minta maaf lalu menjelaskan semacam roadmap konkret untuk mengatasi masalah ini. Mereka malah menegaskan bahwa miskin nggak papa asal bahagia. Nyatanya, sekarang ini, di 2023, separuh kebahagiaan ditentukan oleh status “tidak miskin”. Nggak usah repot membantah karena bantahanmu nggak pernah konkret.

Pembiaran masalah

Paragraf di atas menggambarkan sifat pembiaran akan sebuah masalah. Sama seperti mengubah istilah “klitih” menjadi “kejahatan jalanan”. Apakah hilang? Ya tentu saja tidak. Misalnya Rabu (8/02) dini hari, terjadi pembacokan di nol kilometer.

Iki Jogja, Kolombia po Guatemala?? 😤😤😤pic.twitter.com/hyoyaeT7Bf

— Mas Kikiz ☘️ (@RezkyRamadhanz) February 7, 2023

Buat pembaca yang belum pernah merasakan romantisnya Jogja, lokasi nol kilometer itu cuma beberapa langkah saja dari Istana Raja Jogja. Istana yang kini halaman depannya diisi pasir. Mungkin dalam waktu dekat mau ada lomba voli pantai kelas kapanewon di sana. Seru sekali. Makasih, Jogja.

Baca Juga:

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah para Pendatang

Hal ini menjadi bukti sahih bahwa mengubah istilah itu bukan solusi. Kalau mereka yang mengubah istilah sadar, seharusnya sekarang sudah minta maaf secara publik. Namun, mereka kan sibuk membiarkan. Entah, mungkin lupa yang mana sangat manusiawi atau memang agak kesulitan berpikir. Iya, rebahan sambil check out toko online memang lebih menyenangkan.

Sifat memaklumi masalah di Jogja itu memang sudah menjadi hobi. Kamu butuh contoh konkret nggak? Kalau butuh, silakan klik tautan berikut untuk bersama-sama membedah kebiasaan pemerintah Jogja. Silakan:

“Catatan Pemakluman Masalah di Jogja oleh Sultan Jogja Selama 10 Tahun Terakhir”

Artikel di atas ditulis berdasarkan riset secara pustaka (online). Artinya, ringkasan tersebut sudah sah untuk disebut sebagai karya jurnalistik. Hayo, mau membantah seperti apa? Lha wong semua jejaknya tercatat dengan nyata. Saat ini, kita sedang berenang di lautan fakta, Lur.

Butuh contoh lain?

Jalan rusak

Beberapa hari yang lalu, di media sosial ramai sebuah relawan jalanan Jogja yang prihatin dengan jalan rusak. Relawan ini turun ke jalan membawa pilok berwarna putih. Mereka memberikan tanda lingkaran ke lubang-lubang yang menganga di jalan dan tidak kunjung diperbaiki.

Lubang yang ditandai membentang di Jalan Kaliurang dan Jalan Godean sampai daerah Sembuhan. Daerah Sembuhan itu cuma sepelemparan batu sebelum batas antara Sleman dan Kulon Progo. Ini adalah niat yang sangat luhur dari warga yang peduli kepada keselamatan sesama.

Jl Godean KM 7.5 (Gesikan) – 17.5 (Sembuhan)

Semoga diteruskan kepada pihak yg berwenang. |@sidikyuliantoo pic.twitter.com/D7QL0FNju6

— Merapi Uncover (@merapi_uncover) January 30, 2023

Namun, kamu tahu, apa komentar para pemangku jabatan? Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman, Taupiq Wahyudi, menyebut bahwa saat ini belum ada jalan rusak yang ekstem dan membahayakan. Hmmm… gitu ya.

Tahukah kamu Taupiq, jalan rusak di Jalan Godean itu sudah sangat membahayakan. Istri saya hamil besar dan kadang harus lewat sana untuk keperluan di Kota Jogja. Ibu hamil dan lewat jalan rusak itu sudah sangat membahayakan. Lewat jalan lain? Matamu! Coba carikan alternatif jalan dari Minggir menuju Kota Jogja, yang tidak rusak, yang bisa saya lewati dan tidak memutar. Ingat, saya membonceng ibu hamil besar, lho. Nggak boleh saya khawatir?

Provinsi Swadaya

Kata Taupiq, yang berwenang untuk memperbaiki jalan adalah Pemprov Jogja. Lha, kenapa nggak dilaporkan ke sana supaya segera diperbaiki? Batasan nggak bahaya kan buat kamu yang nggak lewat sana setiap hari, apalagi sampai dua kali. Apakah Pemprov nggak punya duit? Oiya, maaf, masih menyandang status termiskin kedua ya?

Akhir kata, tinggal di Jogja saat ini itu sudah seperti tinggal di Provinsi Swadaya. Rakyat yang harus prihatin, bergerak sendiri, dan kalau celaka yang tanggung sendiri. Mau dibacok, geblak karena jalan rusak, atau nggak mampu beli tanah, ya silakan menderita sendiri. Yang penting bahagia, kan. Bahagia ndasmu!

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jika Istilah Klitih Diganti, Apakah Jogja Akan Lebih Baik-baik Saja?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Februari 2023 oleh

Tags: Bandungbegalistana raja jogjajalan godeanjalan kaliurangjalan rusakJogjaklitih
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

ArtikelTerkait

Stasiun Lempuyangan Stasiun Paling Unik di Jogja (Unsplash)

Stasiun Lempuyangan: Stasiun yang Unik dan Paling Ikonik di Jogja

16 Februari 2024
kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Jadi Kritis di Jogja Itu Hil yang Mustahal

16 Agustus 2020
Meski Terpisah 13 Ribu Kilometer Jauhnya, Ternyata Jogja dan Kairo Lama, Mesir Punya Banyak Kesamaan

Meski Terpisah 13 Ribu Kilometer Jauhnya, Ternyata Jogja dan Kairo Lama Punya Banyak Kesamaan

5 September 2023
Bandung Terbuat dari Tumpukan Kebohongan, Pikir Ulang kalau Mau Tinggal di Sini Mojok.co

Bandung Terbuat dari Tumpukan Kebohongan, Pikir Ulang kalau Mau Tinggal di Sini

20 Maret 2024
5 Cara Mahasiswa Berhemat di Jogja, Kota Pelajar yang Katanya Serba Terjangkau, padahal Tidak Mojok.co

5 Cara Mahasiswa Berhemat di Jogja, Kota Pelajar yang Katanya Serba Terjangkau, padahal Tidak

20 Juni 2024
Tradisi Galang Dana Acara Agustusan di Tengah Jalanan Bandung Kian Meresahkan, Harus Banget Ganggu Pengendara di Jalan?

Tradisi Galang Dana Acara Agustusan di Tengah Jalanan Bandung Kian Meresahkan, Harus Banget Ganggu Pengendara di Jalan?

26 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bisnis Mobil Rental: Keuntungannya Selangit, Risikonya Juga Selangit rental mobil

Rental Mobil demi Gengsi Saat Pulang Kampung Lebaran Adalah Keputusan yang Goblok

12 Maret 2026
Embek-Embek Makanan Khas Tegal Paling Mencurigakan, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba Mojok.co

Embek-Embek Makanan Khas Tegal yang Nama dan Rasanya Sama-sama Aneh, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba

12 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026
Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar Mojok.co

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

13 Maret 2026
Kontrakan di Jogja itu Ribet, Mending Sewa Kos biar Nggak Ruwet, Beneran   pemilik kos

4 Kelakuan Pemilik Kos yang Bikin Jengkel Penyewanya dan Berakhir Angkat Kaki, Tak Lagi Sudi Tinggal di Situ

13 Maret 2026
Jalan Raya Prembun-Wadaslintang, Jalur Penghubung Kebumen-Wonosobo yang Keadaannya Menyedihkan dan Gelap Gulita! wonosobo

Wonosobo, Kota Asri yang Jalanannya Ngeri, kalau Nggak Berlubang, ya Remuk!

13 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman
  • Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.