Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Jogja Darurat Mata Elang alias Debt Collector: Sering Bikin Onar dan Meneror Pengendara padahal Salah Sasaran, Bikin Waswas Saat Berkendara!

Muhammad Iqbal Habiburrohim oleh Muhammad Iqbal Habiburrohim
3 Agustus 2025
A A
Jogja Darurat Mata Elang alias Debt Collector: Sering Bikin Onar dan Meneror Pengendara padahal Salah Sasaran, Bikin Waswas Saat Berkendara! matel

Jogja Darurat Mata Elang alias Debt Collector: Sering Bikin Onar dan Meneror Pengendara padahal Salah Sasaran, Bikin Waswas Saat Berkendara!

Share on FacebookShare on Twitter

Jogja menambah satu masalah yang cukup mengkhawatirkan. Belum selesai dengan klitih, sampah, hingga benang layangan. Kini, warga Jogja harus dibuat waswas saat berkendara, bahkan dengan kendaraan pribadi mereka sendiri yang legal. Hal tersebut terjadi karena mata elang atau biasa disebut matel ini semakin merajalela.

Untuk yang belum tahu, matel adalah orang-orang yang ditugaskan oleh para perusahaan leasing untuk mendatangi pemilik kendaraan atas alasan kredit macet. Intinya, kerjaan mereka mirip-mirip dengan debt collector lah, bedanya mereka biasanya turun langsung ke jalan dan melakukan secara langsung di tempat.

Sesuai namanya, mereka memantau secara langsung melalui plat kendaraan yang sedang lewat dan mencocokannya dengan data kredit mereka. Kalau ketemu, ya siap-siap saja ditagih langsung di tempat. Akhirnya, terdapat beberapa masalah yang akhirnya timbul. Pada beberapa bulan terakhir, banyak laporan mengenai matel yang semakin banyak beroperasi di Jogja.

Masalah paling umum adalah cara penagihan yang kurang manusiawi. Bahkan, pada beberapa kasus, matel ini salah sasaran dan tetap melakukan penagihan secara paksa. Kalau sudah begitu gimana? Warga yang punya kendaraan secara legal dan nggak macet kredit pun dipaksa harus waswas saat berkendara di jalanan.

Penagihan cenderung represif

Saya pribadi nggak punya masalah jika matel memang melakukan penagihan sesuai SOP, toh kreditur memang sudah seharusnya mendapatkan pembayaran sesuai perjanjian. Tapi, pada banyak kasus akhir-akhir ini, matel ini justru melakukan penagihan dengan cara yang arogan dan malah cenderung represif. Nggak peduli si pengendara sedang bersama anak atau keluarga, matel tetap melakukan konfrontasi tanpa mengonfirmasi terlebih dahulu siapakah orang yang sedang mengendarai kendaraan tersebut.

Masalahnya, orang yang berkendara tidak selalu si pemilik. Terdapat sebuah contoh kasus yang dibagikan akun Merapi Uncover bahwa si pengendara hanya seorang turis yang seorang perental motor. Tiba-tiba saat sedang berkendara, ia diberhentikan oleh matel.

Sebagai orang yang nggak tahu apa-apa, si pengendara dipaksa menelpon si pemilik motor dengan cara yang intimidatif. Bahkan, ia tidak diperbolehkan pergi sebelum si pemilik datang. Saya nggak menampik bahwa pemilik rental lalai, tapi nggak seharusnya turis ditahan dan diancam seperti kriminal. Kalau sudah begitu, tentu Jogja sendiri yang dirugikan karena dipandang tidak memberikan kenyamanan bagi turis.

Banyak kasus salah sasaran di Jogja

Kasus pertama tadi mungkin masih melibatkan si pemilik rental yang memang bermasalah pada kredit motornya. Tapi, banyak juga kasus kendaraan diberhentikan secara paksa, padahal si pemilik kendaraan bahkan tidak melakukan kredit saat melakukan pembelian. Sudahlah tidak salah, si pemilik tetap diancam oleh segerombolan matel yang gathel.

Baca Juga:

Long Weekend Itu Memang Menyenangkan, kecuali untuk Warga Jogja

5 Keanehan Lokal Jogja yang Nggak Pernah Saya Temukan di Semarang tapi Malah Bikin Bahagia

Salah satu teman saya membagikan ceritanya saat ia melewati ruas Jalan Kaliurang. Sebagai seorang pemilik yang legal, ia nggak sekalipun berpikir bahwa akan diberhentikan oleh matel. Namun, tiba-tiba ia diberhentikan oleh dua motor yang berisi empat orang. Orang mana yang nggak takut saat didatangi segerombolan orang?

Nggak hanya diintimidasi, teman saya dipaksa mengeluarkan STNK untuk membuktikan kendaraan tersebut memang miliknya. Tentu saja, teman saya menolak karena matel bukan polisi yang berhak mengecek validitas kendaraan. Untungnya teman saya cukup berani mengkonfrontasi balik yang akhirnya membuat orang-orang di sekitar menjadi sadar adanya cekcok di sana. Saat itulah, matel akhirnya memutuskan untuk pergi.

Sebagai pemilik motor yang legal, tetap saja ia merasa trauma. Dimarahi satu orang saja kadang kepikiran berhari-hari, apalagi didatangi gerombolan orang yang represif. Setelah kejadian tersebut, ia pun memutuskan mengadu di media sosial. Saya yang membaca ceritanya pun ikut merasakan degdegan dan membayangkan berada di posisi tersebut. Kemudian, saya membalas ceritanya lewat kolom DM Instagram.

“Piye perasaanmu pas kuwi?”

“Yo wedi, lah. Tapi kan aku ra salah.”

Setelah itu, saya pun mencoba melakukan pencarian terhadap kasus serupa di media sosial. Ternyata kasus seperti teman saya juga banyak dikeluhkan di media sosial entah Facebook atau Twitter. Artinya, masalah ini kan sudah cukup meresahkan dan sudah seharusnya menjadi perhatian entah pemerintah atau polisi di Jogja.

Cara menanggulangi jika bertemu

Sebagai orang yang waspada, sudah seharusnya kita menyiapkan diri bagaimana jika menjadi korban dari kasus tersebut. Mungkin saya bisa merangkum beberapa caranya berdasarkan kasus teman saya. Cara ini dibagikan bukan karena nggak percaya dengan pemerintah dan polisi, lho. Dua pihak tersebut tentu SANGAT BISA DIANDALKAN dan CEPAT dalam menanggulangi masalah!

Hal pertama tentu memastikan bahwa kalian memang nggak punya masalah kredit macet atau bahkan membeli kendaraan tersebut secara cash lunas. Dengan begitu kalian punya kekuatan dan tingkat percaya diri jika harus melawan matel. Sebagai pemilik sah dari kendaraan, tentu kalian akan dibela oleh orang sekitar jika nantinya terjadi cekcok.

Selanjutnya, jika kalian diintimidasi dan diancam oleh matel, sebisa mungkin jangan langsung ciut. Se-soft spoken apa pun kalian, jadilah macan untuk sementara waktu. Sebagai pemilik sah, kalian punya hak untuk mempertahankan apa yang kalian punya. Jika merasa terdesak, lakukan percakapan dengan suara keras sehingga menimbulkan perhatian bagi orang sekitar. Dari kasus teman saya, bisa dilihat bahwa matel terkadang memang asal tembak saja dan takut ketika mulai banyak orang berdatangan.

Jangan pernah turuti keinginan matel Jogja

Terakhir, jangan pernah mau menuruti apa kemauan si matel. Pada kasus teman saya, matel meminta STNK sebagai pembuktian. Apa pun alasannya, jangan pernah mau melakukan hal tersebut karena STNK adalah dokumen penting yang nggak sembarangan bisa dipegang orang lain.

Orang yang berhak menguji validitas kendaraan hanyalah polisi sehingga tidak ada alasan kalian memberikan STNK ke orang lain. Biasanya matel beraksi secara komplotan sehingga bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan jika kita memberikan STNK secara cuma-cuma. Belum lagi, adanya kemungkinan orang-orang tersebut hanya mengaku sebagai matel, padahal hanya mengincar kendaraannya saja.

Sebagai warga Jogja, saya cuma bisa mengelus dada. Beberapa pengguna media sosial mulai membagikan ruas jalan yang mulai diwaspadai sebagai titik kumpul mereka seperti daerah Babarsari dan Jalan Kalirang. Memang solidaritas warga Jogja memang nggak diragukan lagi. Warganya seakan sudah terbiasa mandiri untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Semoga saja masalah ini bisa segera selesai. Tapi, apakah warganya sendiri harus selalu membereskan masalah seperti ini sendiri? Kalo saya sih SANGAT PERCAYA pemerintah dan polisi bisa. Kalau dibilang bisa sih ya pasti bisa, tapi kan BELUM TENTU MAU. Hehehe

Penulis: Muhammad Iqbal Habiburrohim
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Hal-hal yang Kita Tak Ketahui dari Debt Collector: Mereka Tidak (Sekadar) Menagih, tapi (Juga) Mengingatkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2025 oleh

Tags: debt collectorJogjamata elangmatel
Muhammad Iqbal Habiburrohim

Muhammad Iqbal Habiburrohim

Seorang lokal Yogyakarta yang menjalani hidup dengan rute yang dinamis. Berpindah dari satu koordinat ke koordinat lain demi tuntutan profesi, sembari merawat kewarasan dengan menumpahkan segala keluh kesah ke dalam barisan kata.

ArtikelTerkait

sumber suara drumband di jogja suara gamelan malam hari pendatang arti makna urban legend mitos klenik mojok.co

Suara Drumband di Jogja pada Malam Hari, Menurut 4 Teori

26 Maret 2021
Boleh Membanggakan SCBD Jogja, tapi Jangan Lupakan Gamping dan Mlati Sleman yang Akan Menjadi The Next SCBD Jogja Barat

Boleh Membanggakan SCBD Jogja, tapi Jangan Lupakan Gamping dan Mlati Sleman yang Akan Menjadi The Next SCBD Jogja Barat

19 Desember 2025
5 Hal yang Bikin Saya Menderita ketika Pindah dari Jogja ke Semarang

5 Hal yang Bikin Saya Menderita ketika Pindah dari Jogja ke Semarang

6 Oktober 2023
Kuliah Merantau di Jogja, eh Dikira Klitih karena Pakai Scoopy (Unsplash)

Pengalaman Pahit Menjadi Mahasiswa Rantau di Jogja ketika Motor Scoopy Saya Disangka Motornya Pelaku Klitih

3 November 2025
Ini yang akan Terjadi kalau Band Sheila On 7 Tidak Pernah Terbentuk Mojok.co

Ini yang akan Terjadi kalau Band Sheila On 7 Tidak Pernah Terbentuk

8 Februari 2025
5 Privilese Tinggal di Sleman Utara yang Bakal Sulit Dipahami oleh Warga Bantul Mojok.co

5 Privilese Tinggal di Sleman Sisi Utara yang Bakal Sulit Dipahami oleh Warga Bantul

8 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Mendaki Pertama Kalinya dan Nekat Langsung ke Lawu: Sebuah Kesalahan yang Nggak Bikin Saya Menyesal gunung lawu

3 Perilaku Pendaki Gunung Lawu yang Bikin Geleng-geleng, Eksklusif dari Penjaga Basecampnya Langsung

9 Mei 2026
Jurusan PBSI Memang Jurusan yang Nanggung: Mau Jadi Guru Masih Harus PPG, Sastranya Juga Nggak Terlalu Dalam PPG Calon Guru

Sisi Gelap Kuliah di Prodi PBSI: Belajar Bahasa Indonesia, tapi Mahasiswanya Nggak Paham PUEBI dan Nggak Suka Baca Buku

6 Mei 2026
Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

6 Mei 2026
Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas” Terminal

Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas”

11 Mei 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Long Weekend Itu Memang Menyenangkan, kecuali untuk Warga Jogja

7 Mei 2026
6 Pelatihan untuk Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial Mojok.co

6 Pelatihan bagi Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial 

11 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada
  • Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa
  • Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung
  • Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus
  • Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga
  • Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.